Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran sejarah, etika, dan tauhid. Di tengah pembahasan mengenai perlakuan Allah terhadap umat-umat terdahulu dan perintah-perintah moral, terdapat ayat yang secara khusus menekankan sifat kemahakuasaan dan rahmat-Nya, yaitu ayat ke-54.
Ayat ini memiliki posisi penting dalam rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang bagaimana Allah mengelola alam semesta dan bagaimana manusia harus meresponsnya. Inti dari Surah Al-Isra ayat 54 adalah pengakuan mutlak bahwa hanya Allah-lah yang memiliki otoritas penuh atas ciptaan-Nya, baik yang tampak maupun yang tidak terlihat.
"Dan Tuhanmu Maha Mengetahui siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi. Dan sungguh, Kami telah melebihkan sebagian nabi-nabi atas sebagian yang lain, dan Kami berikan Zabur kepada Daud." (QS. Al-Isra: 54)
Bagian pertama ayat ini menegaskan sifat Al-'Alim (Maha Mengetahui) dari Allah SWT. Frasa "Dan Tuhanmu Maha Mengetahui siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi" adalah sebuah deklarasi universalitas pengetahuan ilahi. Tidak ada satu pun entitas, entah itu malaikat, jin, manusia, tumbuhan, atau benda langit di alam semesta, yang tersembunyi dari pengawasan dan pengetahuan Allah.
Pengetahuan ini mencakup segala sesuatu: niat tersembunyi dalam hati, tindakan yang telah dilakukan, bahkan apa yang belum terwujud. Dalam konteks dakwah dan tantangan yang dihadapi Nabi Muhammad SAW (saat itu), ayat ini berfungsi sebagai penenang dan penguat. Allah mengetahui siapa yang tulus beriman dan siapa yang berpaling, menghilangkan kebutuhan bagi Nabi untuk merasa cemas atau mencari pembenaran dari makhluk lain.
Selanjutnya, ayat ini membahas tentang pembedaan derajat di antara para nabi. Kalimat "Dan sungguh, Kami telah melebihkan sebagian nabi-nabi atas sebagian yang lain" menunjukkan adanya tingkatan keutamaan di antara para Rasul pilihan Allah. Ini adalah konsep penting dalam keimanan Muslim, yaitu menerima dan menghormati semua nabi, namun memahami bahwa Allah memberikan keistimewaan atau beban kenabian yang berbeda-beda sesuai hikmah-Nya.
Contoh nyata dari keutamaan ini adalah anugerah Kitab Zabur yang diberikan kepada Nabi Daud AS. Zabur adalah kitab suci yang terkenal berisi hikmah, pujian, dan doa. Pemberian kitab khusus kepada Nabi Daud AS menggarisbawahi bahwa setiap nabi menerima wahyu yang sesuai dengan kapasitas umat dan kebutuhan zaman mereka. Hal ini mengajarkan bahwa keragaman dalam wahyu adalah bagian dari rencana Ilahi yang terstruktur.
Memahami Surah Al-Isra ayat 54 memberikan beberapa pelajaran praktis bagi seorang Muslim. Pertama, ini mendorong introspeksi diri. Jika Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, maka seorang hamba harus senantiasa menjaga niat dan perbuatannya, karena tidak ada perbuatan baik sekecil apapun yang akan terlewatkan dari catatan-Nya.
Kedua, ayat ini menumbuhkan sikap tawadhu (rendah hati). Ketika kita menyadari bahwa keunggulan dan keutamaan (seperti yang diberikan kepada para nabi) sepenuhnya berasal dari karunia Allah, maka kesombongan akan hilang. Kita akan menyadari bahwa segala kelebihan yang kita miliki—kecerdasan, harta, atau kedudukan—adalah titipan yang harus digunakan sesuai kehendak Pemberi.
Ketiga, ayat ini mengajarkan tentang keadilan dan hikmah ilahi. Meskipun ada perbedaan derajat, semua nabi telah menjalankan tugas mereka dengan sempurna sesuai dengan wahyu yang diterima. Ini menegaskan bahwa Allah tidak pernah menzalimi siapa pun dalam pemberian-Nya, termasuk dalam pemberian kelebihan spiritual maupun material kepada makhluk-Nya di bumi dan di langit.
Secara keseluruhan, Al-Isra ayat 54 adalah jembatan antara keyakinan terhadap kemahatahuan Allah dan penghormatan terhadap struktur kenabian. Ayat ini mengingatkan bahwa di balik setiap kelebihan yang tampak, terdapat pengetahuan Allah yang meliputi segalanya, dan semua kembali kepada-Nya untuk pertanggungjawaban akhir.