Surah Al-Isra (atau Al-Isra' wal-Mi'raj) merupakan salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang sarat dengan mukjizat dan pedoman hidup. Di penghujung surat ini, terdapat ayat ke-107 yang secara spesifik membahas tentang respons kaum kafir terhadap kebenaran wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Ayat ini menegaskan bahwa kebenaran Ilahi adalah sesuatu yang pasti terungkap, terlepas dari bagaimana reaksi orang-orang yang mengingkarinya.
Ayat 107 ini datang sebagai penutup logis dari serangkaian bukti dan mukjizat yang telah disampaikan dalam surat tersebut, termasuk kisah Isra' Mi'raj. Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan respons tegas kepada mereka yang menolak wahyu.
Bagian pertama ayat, "Katakanlah, 'Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Kami),'" menunjukkan kemandirian risalah Islam dari persetujuan pihak mana pun. Keimanan adalah urusan pilihan sadar dan pertanggungjawaban individu. Penolakan atau penerimaan mereka tidak akan mengubah hakikat kebenaran yang dibawa Al-Qur'an, dan dampaknya hanya akan dirasakan oleh mereka sendiri di akhirat.
Inti dari ayat ini terletak pada kontras antara penolakan kaum musyrik Quraisy dengan reaksi para ulama dari umat terdahulu. Ayat ini menyebutkan bahwa ketika Al-Qur'an dibacakan, mereka yang telah diberi ilmu (seperti para rahib dari kalangan Bani Israil yang jujur mencari kebenaran) akan bereaksi secara otomatis dengan tunduk dan bersujud.
Reaksi "menyungkurkan wajah mereka sambil bersujud" (يَخِرُّونَ لِلۡأَذۡقَانِ سُجَّدًۭا) adalah puncak kerendahan hati dan pengakuan total terhadap kebenaran wahyu. Ini menunjukkan bahwa ilmu sejati—ilmu yang didasarkan pada wahyu sebelumnya—mengenali kebenaran Al-Qur'an sebagai kelanjutan dan penyempurnaan risalah. Mereka sujud karena mereka memahami bahwa isi Al-Qur'an selaras dengan Taurat dan Injil dalam hal tauhid dan keesaan Allah.
Ayat ini menjadi pelajaran berharga bahwa pengetahuan (ilmu) tanpa diikuti kerendahan hati (kesombongan) adalah pengetahuan yang dangkal. Kaum musyrik Mekkah mungkin memiliki pemahaman budaya dan sejarah, tetapi mereka tertutup oleh kesombongan dan hawa nafsu. Sebaliknya, mereka yang benar-benar berilmu, dari generasi sebelumnya, mengenali tanda-tanda kenabian dan keotentikan risalah tersebut, yang mendorong mereka untuk segera bersujud.
Oleh karena itu, Surah Al-Isra ayat 107 berfungsi sebagai validasi ilahi atas kebenaran Al-Qur'an, sekaligus sebagai cermin bagi umat Nabi Muhammad SAW: apakah kita termasuk golongan yang menutup diri karena kesombongan, ataukah kita termasuk golongan yang bersujud penuh syukur karena mengakui kebenaran wahyu?