Surah Al-Isra (Bani Israil) adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran moral, hukum, dan kisah-kisah profetik. Salah satu ayat penting yang sering dikaji terkait sejarah umat terdahulu adalah Surah Al-Isra ayat 5. Ayat ini merupakan bagian dari serangkaian peringatan yang diberikan Allah SWT kepada kaum Bani Israil mengenai dampak perbuatan buruk mereka.
Ayat kelima ini sering kali dibaca beriringan dengan ayat keenamnya, yang menjelaskan konsekuensi dari pelanggaran tersebut. Ayat 5 ini berfungsi sebagai ramalan kenabian sekaligus peringatan keras dari Allah SWT. Allah memberitahukan melalui Taurat (Kitab yang diturunkan kepada mereka) bahwa kaum Bani Israil akan melakukan dua kali kerusakan besar di muka bumi.
Kata kunci dalam ayat ini adalah "latusfidunna fil ardhi marratayn" (kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi sebanyak dua kali) dan "la ta'lunna 'uluwwan kabiira" (dan pasti kamu akan melampaui batas dengan kesombongan yang besar). Peringatan ini bukan sekadar ancaman kosong, melainkan kepastian yang akan terjadi jika mereka menyimpang dari jalan kebenaran yang telah ditetapkan.
Para mufassir umumnya sepakat bahwa kerusakan pertama yang dimaksud merujuk pada periode kekuasaan dan dominasi mereka, di mana mereka mulai melakukan pembunuhan terhadap para nabi dan rasul yang diutus untuk membimbing mereka, serta menyebarkan kezaliman dan penyimpangan syariat.
Kerusakan pertama ini diakhiri dengan hukuman yang sangat pedih. Allah mengutus musuh-musuh mereka—yaitu bangsa penakluk dari luar—untuk membinasakan dan menghancurkan Baitul Maqdis (Yerusalem) serta menawan sebagian besar dari mereka. Kesombongan besar ('uluwwan kabiira) yang mereka tunjukkan adalah bentuk penolakan total terhadap wahyu dan pengkhianatan terhadap perjanjian ilahi.
Kerusakan kedua terjadi setelah Bani Israil mendapatkan kembali kekuasaan mereka, atau pada periode waktu yang lebih kontemporer (tergantung tafsir periode). Kerusakan ini sering dihubungkan dengan pembangkangan yang lebih parah dan meluas, termasuk pembangkangan terhadap ajaran Nabi Isa AS dan kemudian Nabi Muhammad SAW (dalam konteks historis).
Puncak dari kerusakan kedua adalah ketika mereka melakukan kejahatan ekstrem, termasuk pembunuhan terhadap para utusan Tuhan dan penolakan terang-terangan terhadap kebenaran. Kesombongan yang melampaui batas ini menunjukkan bahwa mereka telah merasa diri mereka lebih superior dari semua umat manusia, melupakan nikmat yang telah diberikan Allah kepada nenek moyang mereka, Nabi Musa AS, yaitu dikeluarkan dari perbudakan Firaun.
Konsekuensi dari kerusakan kedua ini, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikutnya, adalah pengiriman musuh yang lebih dahsyat untuk menghancurkan mereka dan menjadikan mereka tawanan lagi. Ini menjadi pelajaran abadi: kemuliaan sejati tidak terletak pada keturunan atau status, melainkan pada ketakwaan dan ketaatan kepada perintah Allah.
Meskipun ayat ini ditujukan secara spesifik kepada Bani Israil, hikmahnya bersifat universal bagi seluruh umat manusia, termasuk umat Islam. Ayat ini mengajarkan kita tentang bahaya dua penyakit spiritual yang merusak:
Allah mengingatkan bahwa kemakmuran dan kekuasaan yang didapat adalah titipan sementara. Jika titipan tersebut disalahgunakan untuk menindas atau berbuat kerusakan, maka pasti akan ada siklus pembalasan. Surah Al-Isra ayat 5 adalah pengingat tegas bahwa sejarah peradaban dunia dipenuhi oleh kisah umat yang jatuh karena kesombongan mereka sendiri setelah mencapai puncak kejayaan. Oleh karena itu, ketawaduan dan penegakan keadilan adalah kunci untuk menjaga nikmat dan menghindari kehancuran yang telah diramalkan ini.