Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Surah Bani Israil, adalah salah satu surat terpenting dalam Al-Qur'an yang banyak membahas sejarah bangsa Israil (keturunan Ya'qub) dan bagaimana Allah memberikan mereka kemuliaan, serta bagaimana mereka menyia-nyiakannya. Di antara ayat-ayat yang menceritakan kisah-kisah tersebut, Ayat ke-6 memiliki pesan yang sangat relevan bagi umat di setiap zaman. Ayat ini menjadi penegasan janji Allah yang berulang mengenai pengembalian kekuasaan atau kejayaan setelah mengalami masa kehancuran.
ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا
"Kemudian Kami mengembalikan kemenangan kepadamu atas mereka, dan Kami bantu kamu dengan harta dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar (jumlahnya)."
Ayat 6 dari Surah Al-Isra ini berada dalam rangkaian ayat (Ayat 4-8) yang menjelaskan dua kali kehancuran besar yang dialami oleh Bani Israil akibat pembangkangan mereka terhadap ajaran Allah. Kali pertama adalah ketika mereka dihancurkan oleh tentara musuh (sering diinterpretasikan sebagai bangsa Mesir di bawah Firaun atau bangsa lain) karena perbuatan dosa mereka. Ayat ini secara spesifik berbicara tentang pengembalian kejayaan mereka setelah periode pertama kehancuran tersebut.
Para mufassir menafsirkan periode pengembalian ini merujuk pada masa kekuasaan Daud AS dan Sulaiman AS, di mana Bani Israil menikmati puncak kejayaan, kekayaan (أَمْوَالٍ), dan populasi yang besar (وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا). Ini adalah janji ilahi: meskipun mereka diuji dengan kehancuran karena maksiat, Allah tetap memberikan kesempatan untuk bangkit dan mendapatkan kembali kemuliaan, selama mereka tunduk pada kebenaran.
Frasa "Kami mengembalikan kemenangan kepadamu" mengandung makna bahwa kemenangan bukanlah sesuatu yang abadi jika tidak disertai rasa syukur dan ketaatan. Ini menunjukkan sifat siklus kekuasaan dalam pandangan Islam. Kekuatan dan kejayaan dapat dicabut jika umat melanggar batas, namun rahmat Allah tetap terbuka bagi mereka yang bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.
Bagi umat Islam kontemporer, ayat ini berfungsi sebagai pengingat bahwa masa sulit atau kemunduran bukanlah akhir dari segalanya. Jika suatu komunitas atau bangsa mengalami kejatuhan moral atau kejayaan yang hilang, kunci untuk mengembalikannya adalah perbaikan internal dan kembali pada prinsip dasar keagamaan dan etika.
Dukungan Allah tidak hanya berupa kemenangan militer, tetapi juga berupa kemakmuran materiil (harta) dan keberlangsungan keturunan (anak-anak). Penambahan ini, menurut beberapa ulama, adalah bentuk kenikmatan duniawi yang diberikan sebagai hasil dari iman dan ketakwaan, yang kemudian harus digunakan untuk menegakkan keadilan dan menyebarkan kebaikan.
Poin pentingnya adalah bahwa bertambahnya jumlah (أَكْثَرَ نَفِيرًا) tidak otomatis menjamin keberlangsungan kejayaan. Sejarah Bani Israil menunjukkan bahwa meskipun jumlah mereka banyak, ketika mereka meninggalkan ajaran tauhid, mereka mudah dipecah belah dan dihancurkan lagi oleh musuh yang lebih kecil jumlahnya, yang akan dibahas pada ayat-ayat berikutnya. Kuantitas tanpa kualitas spiritual akan sia-sia.
Surah Al-Isra ayat 6 mengajarkan pelajaran penting mengenai dinamika kekuasaan dan rahmat Tuhan:
Pada akhirnya, ayat ini adalah janji harapan. Ia menenangkan hati orang-orang yang beriman bahwa setelah masa-masa sulit, pertolongan Allah pasti datang dalam bentuk pemulihan kedudukan, kekayaan, dan jumlah, sebagai hasil dari ketaatan mereka kepada perintah-Nya.