Memahami Keagungan Surah Al-Isra Ayat 70

Simbol Kehormatan Manusia Visualisasi cahaya dan mahkota yang melambangkan kemuliaan yang Allah berikan kepada Bani Adam. Kehormatan

Teks dan Terjemahan Ayat

Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan hikmah dan peringatan bagi umat manusia. Ayat ke-70 dari surat ini memiliki kedudukan penting karena menegaskan status mulia yang diberikan Allah kepada seluruh Bani Adam.

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً

"Dan sungguh, telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS. Al-Isra: 70)

Penegasan Kemuliaan Manusia

Ayat ini dimulai dengan penekanan kuat: "Wa laqad karramna Bani Adam", yang artinya sungguh Kami telah memuliakan anak-anak Adam. Kata 'laqad' menunjukkan kepastian dan penekanan ilahi atas anugerah ini. Kemuliaan ini tidak bersifat eksklusif bagi Muslim saja, tetapi mencakup seluruh umat manusia, terlepas dari ras, suku, atau keyakinan mereka, karena semua adalah keturunan Nabi Adam AS.

Penghargaan yang diberikan Allah meliputi aspek fisik, mental, dan spiritual. Secara fisik, manusia diciptakan dengan bentuk yang paling proporsional (ahsan taqwim) dibandingkan makhluk lain. Allah memberikan akal dan ilmu yang memungkinkan manusia untuk berpikir, belajar, dan berinovasi.

Fasilitas Hidup yang Luas

Ayat tersebut melanjutkan dengan menyebutkan kemudahan sarana kehidupan yang disediakan:

  1. Penguasaan Darat dan Laut: "Kami angkut mereka di darat dan di laut." Ini merujuk pada kemampuan manusia untuk menunggangi hewan, membangun kendaraan, kapal, hingga pesawat yang memungkinkan mereka menjelajahi seluruh permukaan bumi dan lautan untuk mencari rezeki dan membangun peradaban. Makhluk lain tidak memiliki kapasitas sebesar ini.
  2. Rezeki yang Baik (Thayyibat): Allah memberikan rezeki yang bersih, halal, dan bermanfaat. Ini adalah karunia yang membedakan kebutuhan dasar manusia dari kebutuhan hewan yang seringkali terbatas pada apa yang tersedia secara alami tanpa perlu usaha intelektual yang mendalam.

Keutamaan yang Jelas

Puncak dari ayat ini adalah pernyataan bahwa kelebihan yang diberikan kepada manusia jauh melampaui kelebihan yang diberikan kepada kebanyakan makhluk lainnya: "Wa faddhalnahum 'ala katsirin mimman khalaqna tafdhila."

Keutamaan ini terwujud dalam berbagai bentuk. Misalnya, malaikat diciptakan dari cahaya dan memiliki ketaatan mutlak, namun mereka tidak memiliki kehendak bebas (ikhtiyar) untuk memilih antara ketaatan dan maksiat, sebuah anugerah yang dimiliki manusia. Kehendak bebas inilah yang memberikan nilai pada ketaatan manusia—ketika ia memilih jalan kebaikan di tengah godaan.

Implikasi dan Tanggung Jawab

Memahami bahwa kita dimuliakan oleh Allah SWT membawa konsekuensi tanggung jawab besar. Kemuliaan yang diberikan harus diiringi dengan kesadaran akan tujuan penciptaan. Penghinaan terhadap diri sendiri atau orang lain adalah bentuk pengabaian terhadap karunia Allah.

Ketika seorang individu atau kelompok merendahkan martabat orang lain, melakukan kekejaman, atau menyalahgunakan akal dan fasilitas yang diberikan, ia sebenarnya sedang menodai kehormatan yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta. Oleh karena itu, menjaga kehormatan diri dan orang lain adalah bentuk syukur paling mendasar terhadap Surah Al-Isra ayat 70 ini.

Ayat ini menjadi pengingat universal bahwa setiap manusia memiliki nilai inheren di mata Allah. Penghargaan ini adalah dasar bagi tegaknya etika kemanusiaan universal, di mana penindasan dan diskriminasi harus ditolak karena bertentangan langsung dengan prinsip dasar Qur'ani mengenai kemuliaan Bani Adam.

🏠 Homepage