Memahami Surah Al-Isra Ayat 72

Peringatan dan Pertanggungjawaban

Teks Lengkap Surah Al-Isra Ayat 72

Wa la'in qarrabu laka ba'dalladhee noohee ilayka litaf-tari 'alaynā ghayrahu wa idhal la'attakhadhuka khaleela.

وَلَئِنْ قَرَّبُوا لَكَ بَعْضَ الَّذِي نُوحِيَ إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيْلًا

Arti dan Makna Ayat

Dan sesungguhnya (orang-orang kafir) hampir memalingkan kamu dari wahyu yang telah Kami wahyukan kepadamu, (sehingga) kamu membuat-buat dusta terhadap Kami. Dan jika (demikian halnya), niscaya mereka akan menjadikan kamu sahabat akrab.

(QS. Al-Isra: 72)

Konteks dan Penjelasan Ayat

Ayat ke-72 dari Surah Al-Isra (juga dikenal sebagai Surah Bani Israil) ini merupakan penegasan yang sangat kuat dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW mengenai hakikat wahyu yang diturunkan kepadanya. Ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras dan sekaligus pembebasan ilahiah terhadap kemungkinan adanya intervensi atau upaya penyesuaian ajaran yang datang dari Allah.

Ancaman Pengalihan Wahyu

Bagian pertama ayat, "Dan sesungguhnya (orang-orang kafir) hampir memalingkan kamu dari wahyu yang telah Kami wahyukan kepadamu...", mengindikasikan adanya tekanan sosial, godaan material, atau bahkan ancaman yang dilakukan oleh kaum musyrikin Mekah kepada Rasulullah. Tekanan ini bertujuan agar Nabi Muhammad SAW sedikit saja mengubah, mengurangi, atau menambahkan ajaran Al-Qur'an agar sesuai dengan keinginan dan tradisi mereka.

Dalam sejarah kenabian, memang seringkali terjadi upaya negosiasi oleh kaum Quraisy yang menawarkan kekayaan, kekuasaan, atau wanita demi agar Nabi mau sedikit saja melunak dalam dakwah tauhidnya. Namun, Allah menjaga kesucian wahyu-Nya dengan sangat ketat.

Konsekuensi Fatal: Pengkhianatan Terhadap Tauhid

Bagian kedua ayat, "...(sehingga) kamu membuat-buat dusta terhadap Kami. Dan jika (demikian halnya), niscaya mereka akan menjadikan kamu sahabat akrab," menjelaskan konsekuensi mengerikan dari tindakan tersebut. Jika Nabi terpaksa menyimpang sedikit saja dari wahyu, itu sama artinya dengan berbuat dusta atas nama Allah.

Poin yang paling tajam adalah bagian akhir: jika Nabi melakukan hal tersebut, musuh-musuh yang selama ini memeranginya justru akan menerimanya sebagai "khalil" (sahabat akrab). Kata "khalil" di sini memiliki makna hubungan yang sangat mesra, intim, dan tanpa batas. Ini adalah ironi terbesar; musuh-musuh yang paling gigih menolak kebenaran akan menjadi sahabat terdekatnya, hanya karena Nabi mau berkompromi pada pondasi agama yaitu wahyu Allah.

Pelajaran Penting bagi Umat

Ayat ini memberikan pelajaran fundamental bagi setiap Muslim, terutama dalam hal menjaga kemurnian akidah dan ajaran agama. Tanggung jawab menyampaikan risalah haruslah tanpa kompromi terhadap prinsip dasar ajaran yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah.

Kesetiaan kepada Allah (kebenaran wahyu) seringkali berlawanan dengan keinginan manusia (godaan duniawi atau penerimaan sosial). Kompromi sekecil apa pun dalam masalah tauhid dan syariat adalah pintu gerbang menuju pengabaian total. Allah menegaskan bahwa jalan kemuliaan sejati adalah konsisten di atas kebenaran wahyu, meskipun harus menghadapi penolakan dan permusuhan dari dunia.

Ketegasan dalam ayat ini juga menjadi bukti keotentikan Al-Qur'an. Allah melindungi wahyu-Nya hingga akhir zaman, memastikan bahwa apa yang tertulis hari ini adalah persis sama seperti yang diwahyukan kepada Nabi, dan tidak ada celah bagi intervensi manusia—bahkan oleh Nabi itu sendiri—untuk mengubahnya demi mencari simpati atau keuntungan duniawi.

🏠 Homepage