Ilustrasi simbolisasi keputusan dan perjanjian.
Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj, merupakan salah satu surah penting dalam Al-Qur'an yang sarat dengan mukjizat, peringatan, dan pedoman hidup. Di antara ayat-ayatnya yang kaya makna, terdapat **Surah Al-Isra Ayat 72**, sebuah ayat yang kerap menjadi sorotan dalam diskusi mengenai tanggung jawab individu dan pertanggungjawaban di akhirat. Ayat ini menyoroti realitas bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan dan tindakannya selama di dunia.
Untuk memahami kedalaman ayat ini, kita perlu meninjau konteksnya. Sebagian besar mufassir menjelaskan bahwa Surah Al-Isra ayat 72 diturunkan sebagai respons terhadap tekanan dan upaya kaum musyrikin Mekah yang sangat gigih untuk menggoyahkan keimanan Nabi Muhammad SAW. Mereka tidak hanya menolak keras ajaran tauhid yang dibawa Nabi, tetapi juga secara aktif berusaha menyesatkan beliau.
Para penentang Islam datang dengan berbagai tawaran dan bujukan. Ada yang menawarkan kekayaan, kekuasaan, bahkan status sosial yang tinggi asalkan Nabi mau sedikit saja "melunakkan" ajarannya atau mengakui tuhan-tuhan mereka. Dalam perspektif mereka, jika Nabi Muhammad bersedia berdamai dengan mengakui sebagian konsep politeistik mereka, hubungan mereka akan harmonis, dan Nabi akan diangkat menjadi figur sentral yang dihormati (dijadikan khalil atau sahabat karib).
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "laitahtakhidzhuka khalilan" (niscaya mereka akan menjadikan kamu sebagai kawan akrabmu). Ini adalah bentuk ancaman sekaligus janji palsu. Allah SWT menegaskan bahwa godaan terbesar yang dihadapi Rasulullah adalah godaan untuk menyimpang dari wahyu murni yang diturunkan kepadanya, yakni Al-Qur'an. Jika Nabi terjerumus dalam membuat kedustaan atas nama Allah, maka kaum musyrikin akan menyambutnya dengan hangat sebagai sahabat sejati mereka.
Ini menunjukkan betapa berbahayanya godaan yang mengatasnamakan kompromi demi kedamaian duniawi. Bagi seorang Nabi, kompromi terhadap kebenaran ilahi sama dengan pengkhianatan terhadap risalahnya. Ancaman ini berfungsi sebagai penegasan bahwa integritas wahyu harus dijaga secara mutlak.
Meskipun ayat ini ditujukan langsung kepada Nabi Muhammad SAW, pelajaran yang terkandung di dalamnya bersifat universal dan abadi bagi seluruh umat Islam. Ayat 72 Al-Isra menjadi pengingat bahwa dalam perjalanan menegakkan kebenaran, akan selalu ada pihak yang mencoba membelokkan jalan melalui rayuan halus, tekanan sosial, atau janji-janji palsu.
Tantangan terbesar bukanlah kekerasan fisik semata, melainkan bagaimana mempertahankan kemurnian akidah dan prinsip saat dihadapkan pada godaan kenyamanan. Kompromi terhadap prinsip dasar agama demi mendapatkan penerimaan dari kelompok yang menentang adalah bentuk fitnah yang paling ditakuti. Seorang mukmin sejati harus memegang teguh wahyu (Al-Qur'an dan Sunnah) sebagai standar tunggal, tidak peduli seberapa besar "harga" yang harus dibayar dalam konteks pergaulan sosial.
Ayat ini memperkuat posisi Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah yang teguh. Beliau diberi keteguhan oleh Allah SWT sehingga godaan tersebut tidak mampu menggeser pijakannya. Kesetiaan beliau hanya tertuju pada Sang Pencipta, bukan pada pengakuan atau penerimaan dari pihak yang menolak kebenaran tersebut.
Secara psikologis, ayat ini mengajarkan ketahanan mental. Ketika seseorang konsisten berada di jalan yang benar, ia mungkin akan mengalami isolasi atau penolakan dari lingkungan yang tidak sejalan. Namun, Al-Isra ayat 72 meyakinkan kita bahwa pertolongan dan validasi tertinggi datang dari Allah SWT, bukan dari penerimaan sementara kaum yang menyesatkan.
Menjadi seorang khalil (kekasih karib) bagi kaum yang menolak wahyu ilahi adalah sebuah kerugian besar di akhirat, sekalipun tampak menguntungkan di dunia. Kualitas hubungan di akhirat jauh lebih penting daripada popularitas sesaat di bumi. Oleh karena itu, ayat ini menegaskan bahwa menjaga kemurnian iman dan wahyu adalah harga mati yang harus dibayar untuk mendapatkan keridhaan dan keakraban sejati dengan Allah SWT.