Fokus pada Surah Al-Isra Ayat 74

Visualisasi penolakan dan perlawanan terhadap dakwah Jalan Kebenaran Menolak Menyimpang
وَإِن كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَلَوْلَا أَن ثَبَّتْنَاكَ عَلَيْهِ ۖ لَكَدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا

Terjemahan: Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu (Muhammad) dari wahyu yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat rekaan yang bukan wahyu atas nama Kami; dan jika tidak Kami teguhkan (hati) kamu, niscaya kamu hampir condong sedikit kepada mereka.

Konteks Historis dan Spiritualitas Ayat

Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat ke-74 ini merupakan salah satu ayat kunci yang menyoroti betapa beratnya perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan risalah tauhid di tengah penolakan keras dan upaya menyesatkan dari kaum musyrikin Mekah. Ayat ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan sebuah pengingat abadi mengenai kekuatan ujian (fitnah) dan pentingnya keteguhan iman.

Ayat ini secara eksplisit menyebutkan bahwa kaum Quraisy hampir saja berhasil memalingkan Nabi Muhammad SAW dari wahyu yang diturunkan Allah SWT. Upaya pemalingan ini digambarkan sebagai godaan untuk "membuat rekaan yang bukan wahyu atas nama Kami." Ini menunjukkan tingkat bahaya yang dihadapi oleh Rasulullah; bukan hanya ancaman fisik, tetapi ancaman yang lebih halus, yaitu menggoyahkan fondasi wahyu itu sendiri melalui kompromi atau rekayasa ajaran.

Bahaya Condong Kepada Ilusi Duniawi

Bagian krusial dari ayat ini adalah peringatan tegas: "dan jika tidak Kami teguhkan (hati) kamu, niscaya kamu hampir condong sedikit kepada mereka." Kata "condong sedikit" (لَكَدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا) memiliki makna yang mendalam. Islam mengajarkan bahwa dalam perkara tauhid, sedikit pun kompromi atau kemiringan menuju kesesatan adalah sangat berbahaya. Sedikitnya kecenderungan tersebut, jika dibiarkan, dapat menyeret seseorang ke jurang penyesatan yang jauh lebih besar.

Allah SWT menegaskan bahwa keteguhan hati Nabi Muhammad SAW adalah anugerah dan pertolongan langsung dari-Nya. Ini menjadi pelajaran bahwa dalam menghadapi tekanan ideologis atau godaan duniawi yang mencoba mengikis prinsip dasar keyakinan, seorang mukmin sangat membutuhkan dukungan Ilahi danВО kesadaran penuh akan ancaman tersebut. Tanpa keteguhan yang diberikan oleh Allah, bahkan insan terbaik pun rentan tergelincir.

Pelajaran Bagi Umat Islam Saat Ini

Relevansi Surah Al-Isra ayat 74 tetap terasa kuat hingga hari ini. Fitnah dan godaan yang dihadapi umat Islam tidak selalu berupa ancaman fisik terang-terangan, tetapi seringkali muncul dalam bentuk pemikiran liberalisasi agama secara ekstrem, sinkretisme ajaran, atau godaan harta dan jabatan yang menuntut adanya 'sedikit' kompromi terhadap nilai-nilai kebenaran Al-Qur'an dan Sunnah.

Ayat ini mengajarkan kita untuk waspada terhadap segala bentuk 'tawaran' yang menjanjikan kemudahan atau popularitas dengan syarat mengorbankan kemurnian akidah. Keteguhan hati (itsbat) adalah kunci utama. Ini berarti kita harus senantiasa memohon kepada Allah agar senantiasa meneguhkan langkah kaki kita di jalan yang lurus (shirotol mustaqim). Mempelajari ayat ini mendorong seorang Muslim untuk terus menguatkan fondasi spiritualnya melalui zikir, tadarus Al-Qur'an, dan menjaga lingkungan pergaulan yang mendukung ketaatan.

Peran Istiqamah dan Doa

Ayat 74 Surah Al-Isra berfungsi sebagai penguat mental bagi para da'i dan setiap Muslim yang berada di garis depan dalam mempertahankan kebenaran. Ketika dakwah dihadang oleh kekuasaan, popularitas, atau bahkan bujukan dari orang terdekat, kesadaran bahwa Allah-lah yang menopang, menjadi sumber kekuatan terbesar. Sejarah membuktikan bahwa para nabi dan pengikut mereka seringkali diuji dengan tawaran material atau sosial yang menggiurkan demi meninggalkan prinsip mereka. Namun, pertolongan Allah—dalam bentuk keteguhan batin—selalu datang tepat waktu bagi mereka yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan-Nya. Ayat ini menegaskan bahwa stabilitas keimanan adalah hasil intervensi ilahiah yang harus kita mohonkan secara terus-menerus.

Dengan demikian, Surah Al-Isra ayat 74 menjadi mercusuar yang mengingatkan bahwa mempertahankan kebenaran adalah perjuangan tanpa henti, di mana perlindungan tertinggi datang dari Zat yang menurunkan wahyu itu sendiri.

🏠 Homepage