Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, merupakan surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang sarat dengan kisah kenabian, peringatan, serta janji-janji Allah SWT. Di tengah narasi panjangnya, terdapat ayat-ayat kunci yang sering kali menjadi sorotan umat Islam, salah satunya adalah ayat ke-90. Ayat ini secara spesifik membahas tantangan yang dihadapi oleh Nabi Muhammad SAW dan umatnya ketika menghadapi keraguan dan permintaan dari kaum kafir Mekah terkait kebenaran ajaran Islam.
Ayat 90 Surah Al-Isra turun sebagai respons langsung terhadap permintaan atau tuntutan yang mustahil dari kaum musyrikin Quraisy kepada Rasulullah ﷺ. Ketika dakwah tauhid semakin menguat dan mulai menarik perhatian banyak orang, para pemimpin kafir merasa terancam. Untuk menggoyahkan keyakinan kaum yang mulai mengikuti Islam, mereka mengajukan serangkaian tantangan yang bersifat materialistik dan supranatural. Salah satu tuntutan yang paling ekstrem adalah meminta Nabi Muhammad ﷺ untuk melakukan mukjizat yang sifatnya permanen dan dapat dilihat oleh semua orang secara langsung, yaitu mengubah tanah tandus di sekitar Mekah menjadi sumber mata air yang melimpah.
Permintaan ini bukanlah sekadar ingin melihat keajaiban; ini adalah upaya untuk mendiskreditkan kenabian. Jika Nabi tidak mampu melakukannya, mereka berdalih bahwa beliau bukanlah utusan Tuhan. Namun, jika beliau mampu melakukannya, mereka sudah menyiapkan alasan lain untuk menolak iman. Ini menunjukkan sifat keras kepala dan penolakan hati yang sudah terpatri oleh kesombongan duniawi.
Ayat ini mengajarkan kita bahwa mukjizat sejati seorang nabi sering kali berada di luar kendali mereka sendiri, dan hanya Allah yang berhak menurunkannya. Rasulullah ﷺ diutus bukan untuk memenuhi setiap permintaan nonsens dari orang-orang yang sudah menutup mata hatinya. Tugas beliau adalah menyampaikan risalah, bukan menjadi penyedia kebutuhan duniawi berdasarkan permintaan sepihak.
Dalam ayat selanjutnya (Ayat 91 dan seterusnya), Allah SWT memberikan jawaban tegas melalui lisan Nabi Muhammad ﷺ, menjelaskan bahwa jika seorang rasul datang dengan membawa mukjizat yang diminta, dan orang-orang tetap tidak beriman, maka mereka telah melampaui batas. Ayat 90 menjadi titik tolak pemahaman bahwa iman sejati tidak didasarkan pada tontonan spektakuler yang diminta oleh nafsu, melainkan pada penerimaan terhadap kebenaran yang dibawa melalui wahyu.
Meskipun konteks ayat ini spesifik pada masa kenabian, relevansinya terasa hingga kini. Dalam kehidupan spiritual kontemporer, banyak orang mencari "mukjizat" instan dalam bentuk solusi cepat atau kemudahan tanpa usaha. Mereka mungkin menuntut kejelasan mutlak dalam setiap aspek kehidupan atau menginginkan bahwa iman harus selalu disertai dengan kemudahan materi.
Surah Al-Isra ayat 90 mengingatkan kita untuk meninjau ulang sumber kekuatan kita. Jika kita menuntut bukti fisik yang fantastis untuk setiap keyakinan, kita menempatkan diri pada posisi kaum kafir Mekah saat itu. Keimanan yang kokoh dibangun di atas ketenangan batin, penerimaan terhadap ajaran yang logis (Al-Qur'an), dan keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa, namun kebijaksanaan-Nya mengatur kapan dan bagaimana pertolongan-Nya diturunkan.
Bahkan, jika Nabi Muhammad ﷺ dipaksa membelah bumi menjadi mata air, hati yang sudah tertutup oleh kesombongan akan selalu menemukan dalih untuk menolak kebenaran. Oleh karena itu, tantangan terbesar bagi seorang mukmin bukanlah tantangan dari luar, melainkan tantangan untuk menjaga keikhlasan hati agar tidak terjerumus dalam tuntutan materialistik terhadap kebenaran spiritual. Keimanan harus menjadi pilihan sadar, bukan hasil paksaan mukjizat yang diminta-minta.
Kisah ini menegaskan bahwa Al-Qur'an sendiri adalah mukjizat terbesar yang berkelanjutan, sebuah petunjuk yang jelas bagi mereka yang mau berpikir dan merenung, melebihi sekadar tuntutan untuk memancarkan air dari perut bumi.