Ayat 1 sampai 3
Surah Az-Zalzalah (Kegoncangan) dibuka dengan gambaran yang sangat dahsyat dan menakutkan, yaitu hari ketika bumi mengalami guncangan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Ayat pertama, "Idzaa zullizilatil ardu zilzaalaha", menegaskan bahwa guncangan ini adalah guncangan yang paripurna, menghancurkan segala tatanan yang ada di permukaan bumi. Ini adalah salah satu penanda utama tibanya Hari Kiamat, yaitu hari perhitungan amal manusia.
Ayat kedua melanjutkan deskripsi kengerian tersebut: "Wa akhrajatil ardu atqalaha." Bumi akan memuntahkan semua isi yang selama ini terpendam di perutnya. "Atqalaha" (beratnya atau isinya) diinterpretasikan oleh para mufassir sebagai segala sesuatu yang terkubur di dalamnya, termasuk mayat-mayat manusia yang telah meninggal dan juga timbunan harta karun yang selama ini dianggap berharga oleh manusia. Dalam konteks kiamat, pemuntahan ini melambangkan penyingkapan segala rahasia dan pertanggungjawaban yang selama ini tersembunyi.
Kejadian yang luar biasa ini tentu akan menimbulkan kebingungan total bagi makhluk yang tersisa. Ayat ketiga menggambarkan reaksi manusia saat menyaksikan fenomena alam yang ekstrem ini: "Wa qaalal insaanu maalaa haa." Manusia akan bertanya-tanya, terkejut, dan kebingungan menyaksikan bumi yang biasanya menjadi sandaran hidup mereka kini bergerak liar dan memuntahkan isinya. Pertanyaan retoris ini menunjukkan kepanikan absolut, karena apa pun yang mereka kenal dan pahami tentang stabilitas alam telah runtuh.
Tiga ayat pertama dari Surah Az-Zalzalah berfungsi sebagai prolog yang kuat untuk mengingatkan manusia akan kebesaran Allah dan kepastian Hari Kebangkitan. Guncangan ini bukan sekadar gempa bumi biasa, melainkan sebuah peristiwa kosmik yang menandai akhir dari kehidupan duniawi. Ini adalah peringatan bahwa kehidupan yang kita jalani saat ini memiliki batas akhir yang ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.
Fokus utama dari penggalan surah ini adalah untuk membangun kesadaran akan akuntabilitas. Ketika bumi telah mengeluarkan isinya (ayat 2), itu mengindikasikan bahwa tidak ada lagi yang bisa disembunyikan. Semua amal perbuatan, baik yang tersembunyi maupun yang tampak, akan diungkapkan pada hari tersebut. Rasa takut dan kebingungan yang ditunjukkan manusia (ayat 3) adalah hasil dari kesadaran mendadak bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatan mereka di hadapan Allah SWT.
Oleh karena itu, ayat-ayat awal ini mendorong seorang Muslim untuk senantiasa berhati-hati dalam setiap langkahnya. Karena segala sesuatu yang kita lakukan di atas bumi ini—seberat atom sekecil apa pun—akan diperhitungkan. Surah ini menuntut persiapan spiritual yang matang, karena kedahsyatan realitas Hari Kiamat jauh melampaui imajinasi manusia biasa.