Tafsir dan Kedalaman Surah Al-Maidah Ayat 110

Simbol Pertanggungjawaban Ilahi Gambar abstrak yang menampilkan lingkaran besar (simbol keagungan Allah) dan beberapa bentuk kecil (simbol manusia) yang menunjuk ke arah lingkaran tersebut, merepresentasikan hari penghakiman dan pertanggungjawaban. Keadilan

Teks dan Terjemahan Surah Al-Maidah Ayat 110

لِيَجْزِيَ اللّٰهُ الصّٰدِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ ۚ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (Ingatlah) hari ketika Allah berfirman: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku atas kamu dan atas ibumu ketika Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus, (Jibril) maka kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan ingatlah ketika Aku mengajarkan kepadamu Al-Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil, dan ingatlah ketika kamu membentuk dari tanah sesuatu (makhluk hidup) berbentuk burung dengan seizin-Ku, lalu kamu meniupnya, maka ia menjadi burung (yang hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah ketika) kamu menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku, dan ingatlah ketika kamu mengeluarkankobur (dari kubur) dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika Aku menghentikan Bani Israil (darimu) di waktu kamu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata." (QS. Al-Maidah: 110).

Konteks dan Inti Pesan Ayat

Surah Al-Maidah ayat 110 merupakan penutup dari rentetan pembahasan panjang mengenai mukjizat besar yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Isa 'alaihissalam. Ayat ini berfungsi sebagai penegasan ilahi sekaligus pengingat akan konsekuensi dari klaim dan pengakuan yang menyertai mukjizat tersebut.

Ayat ini secara spesifik menekankan dua hasil utama dari pembuktian kenabian, yaitu balasan bagi orang-orang yang jujur dan konsekuensi bagi mereka yang mendustakan. Kalimat pembuka, "Ingatlah hari ketika Allah berfirman...", menunjuk pada Hari Kiamat atau saat penghakiman total, di mana semua kebenaran akan terungkap dan setiap perbuatan akan dihisab.

Janji Bagi Orang-Orang yang Benar (Shādiqīn)

Fase pertama dalam ayat ini adalah janji balasan spesifik: "untuk membalas orang-orang yang benar (shādiqīn) dengan kebenaran mereka." Ini adalah jaminan dari Allah bahwa ketulusan, kejujuran, dan iman yang murni dari para nabi, pengikut setia mereka, serta orang-orang beriman yang teguh, akan mendapatkan balasan setimpal di sisi-Nya. Kebenaran di sini tidak hanya berarti kejujuran lisan, tetapi juga kesesuaian antara perkataan, keyakinan batin, dan amal perbuatan mereka. Keikhlasan mereka menjadi modal utama dalam menghadapi hari pertimbangan.

Konsekuensi bagi Orang-orang Munafik

Fase kedua membahas tentang mereka yang berpura-pura beriman namun hatinya menyimpan kekafiran, yaitu kaum munafik. Allah menyatakan bahwa Dia akan "mengadzab orang-orang munafik jika Dia menghendaki, atau menerima taubat mereka." Ini menunjukkan dua kemungkinan besar bagi para pendusta:

  1. Adzab: Jika mereka keras kepala dan tidak bertaubat hingga akhir hayat, adzab yang setimpal akan menanti mereka atas kemunafikan yang mereka sembunyikan.
  2. Taubat: Allah membuka pintu rahmat-Nya. Jika mereka tulus menyesali perbuatan mereka dan kembali kepada kebenaran sebelum terlambat, Allah Maha Menerima Taubat.

Penutup Agung: Sifat Pengampun dan Penyayang

Ayat ini diakhiri dengan salah satu sifat inti dari Dzat Yang Maha Kuasa: "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Pengakhiran ini sangat penting. Meskipun ayat tersebut berbicara tentang penghakiman yang adil dan ancaman bagi pendusta, penutup ini menegaskan bahwa sifat dasar Allah jauh lebih condong kepada rahmat dan ampunan, asalkan ada jalan bagi hamba-Nya untuk kembali. Ini memberikan harapan bagi setiap pendosa, termasuk mereka yang mungkin terjerumus dalam kemunafikan karena kelemahan, untuk meraih ampunan sebelum hari penghakiman tiba.

Secara keseluruhan, Surah Al-Maidah ayat 110 adalah titik balik dalam narasi mukjizat Nabi Isa AS. Ayat ini mengingatkan umat manusia bahwa pembuktian kebenaran tidak akan sia-sia, dan bahwa keadilan ilahi akan ditegakkan, meskipun pintu ampunan dan kasih sayang Allah selalu terbuka lebar bagi siapa pun yang memilih untuk kembali ke jalan yang lurus.

🏠 Homepage