Surah Al-Maidah Ayat 114: Permohonan Rezeki yang Melimpah
Dalam perjalanan hidup seorang Muslim, doa adalah senjata utama dan sumber kekuatan spiritual. Di antara sekian banyak ayat dalam Al-Qur'an, Surah Al-Maidah ayat 114 memiliki makna mendalam, terutama terkait dengan permohonan rezeki dari Allah SWT. Ayat ini menceritakan dialog antara Nabi Isa Al-Masih a.s. dengan kaum Hawariyyin (para pengikut setianya) yang memohon hidangan dari langit.
Konteks Ayat dan Hikmahnya
Ayat ini bukanlah sekadar permintaan makanan biasa. Kaum Hawariyyin, setelah menyaksikan berbagai mukjizat yang dilakukan oleh Nabi Isa, meminta bukti nyata (tanda) yang dapat menguatkan iman mereka dan menjadi pengingat bagi generasi mendatang. Permintaan ini mengandung tiga komponen penting: hidangan sebagai rezeki, sebagai hari raya (penanda kebahagiaan), dan sebagai ayat (tanda kebesaran Allah).
Bagian krusial dari ayat ini, yang sering dijadikan landasan doa mohon rezeki melimpah ruah, terdapat pada kalimat terakhir: "Warzuqnā wa anta khairur rāziqīn" (Dan berilah kami rezeki, dan Engkaulah Pemberi rezeki yang terbaik).
Ilustrasi Doa Memohon Rezeki Terbaik dari Yang Maha Pemberi Rezeki.
Makna "Khairur Raziqin" (Pemberi Rezeki Terbaik)
Penekanan pada frasa "Engkaulah Pemberi rezeki yang terbaik" mengandung kedalaman tauhid. Ini mengajarkan bahwa rezeki bukan hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas, keberkahan, dan kemudahan mendapatkannya. Allah SWT tidak hanya memberi, tetapi memberi dengan cara yang paling sesuai dan bermanfaat bagi hamba-Nya.
Ketika kita memohon rezeki sambil menyertakan pengakuan bahwa Allah adalah *Khairur Raziqin*, kita mengakui keMahaMurahan dan keMahaTahuan-Nya. Kita menyerahkan totalitas kebutuhan kita kepada-Nya, meyakini bahwa Dia mengetahui apa yang benar-benar kita butuhkan, bukan sekadar apa yang kita inginkan.
Mengamalkan Ayat Ini dalam Kehidupan Sehari-hari
Doa ini memberikan panduan praktis bagi umat Islam dalam mencari dan mensyukuri rezeki:
- Kerja Keras dan Tawakal: Ayat ini tidak membenarkan kemalasan. Kaum Hawariyyin meminta hidangan setelah mengikuti ajaran dan beriman. Demikian pula, kita diperintahkan untuk berusaha mencari rezeki (bekerja, berdagang, atau berkarya) semaksimal mungkin, kemudian bertawakal penuh kepada Allah.
- Penetapan Keyakinan (Iman): Permintaan hidangan itu adalah bentuk permintaan tanda keimanan. Dalam konteks modern, ini berarti memperkuat keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan akan membuahkan hasil, meskipun hasilnya mungkin tidak terlihat secara instan.
- Doa yang Spesifik dan Umum: Kita bisa memohon rezeki yang spesifik (misalnya kelancaran bisnis), namun selalu diakhiri dengan pengakuan universal bahwa Allah adalah sebaik-baiknya sumber rezeki. Ini mencegah kesombongan saat rezeki datang dan mencegah keputusasaan saat rezeki tertunda.
- Rezeki Melimpah Ruah: Permintaan rezeki "melimpah ruah" dalam konteks ayat ini diartikan sebagai rezeki yang mencukupi, berkah, dan cukup untuk dibagi—seperti hidangan yang cukup untuk generasi awal dan akhir. Rezeki yang berkah adalah rezeki yang membawa ketenangan, bukan menambah beban.
Dengan menjadikan Surah Al-Maidah ayat 114 sebagai amalan rutin, seorang Muslim diingatkan bahwa pintu rezeki selalu terbuka lebar selama tali komunikasi spiritual dengan Sang Pemberi rezeki selalu terjaga. Memohon dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT adalah kunci utama untuk membuka keberkahan dalam setiap usaha.
Penutup
Semoga pengamalan doa yang terdapat dalam Surah Al-Maidah ayat 114 ini senantiasa menyertai langkah kita, menjadikan setiap usaha penuh makna dan rezeki yang Allah anugerahkan selalu melimpah dalam keberkahan.