Ilustrasi visualisasi permintaan mukjizat.
Surah Al-Maidah (yang berarti "Hidangan") adalah salah satu surah Madaniyah yang kaya akan kisah-kisah kenabian serta penetapan hukum-hukum syariat Islam. Salah satu bagian paling menarik dan monumental dari surah ini adalah kisah Nabi Isa Al-Masih, yang diangkat oleh Allah SWT sebagai Rasul bagi Bani Israil.
Ayat 115 secara spesifik menyoroti momen ketika para pengikut Nabi Isa, yang sering disebut Hawariyyun (murid-murid setia), mengajukan permohonan luar biasa kepada beliau. Permintaan ini muncul bukan karena keraguan terhadap kenabian Isa, melainkan sebagai puncak dari upaya mereka untuk memperkuat iman kaum mereka yang keras kepala. Mereka meminta agar Allah SWT menurunkan sebuah hidangan (ma'idah) langsung dari langit sebagai bukti nyata kekuasaan-Nya yang tak terbatas.
Permintaan ini memerlukan pertimbangan ilahi yang mendalam, karena mukjizat adalah hak prerogatif Tuhan sepenuhnya, dan penggunaannya harus selaras dengan kebijaksanaan dan tujuan risalah.
Ayat ini adalah sebuah doa yang dipanjatkan oleh Nabi Isa atas permintaan para pengikutnya. Doa ini mengandung tiga esensi utama: permohonan mukjizat (hidangan), tujuan hidangan tersebut (menjadi hari raya), dan permohonan rezeki universal dari Allah SWT.
Permintaan hidangan dari langit ini memiliki lapisan makna yang kaya. Hawariyyun tidak sekadar meminta makanan, mereka memohon agar hidangan tersebut dijadikan 'idan (hari raya) bagi generasi mereka yang hadir saat itu, dan juga bagi generasi yang akan datang setelah mereka. Ini menunjukkan keinginan mereka agar mukjizat tersebut menjadi peringatan abadi dan peneguh keimanan lintas generasi.
Ketika Nabi Isa memanjatkan doa tersebut, beliau menegaskan bahwa sumber dari semua rezeki adalah Allah, bahkan ketika mukjizat berupa makanan turun secara langsung. Penutup doa, "wa arzuqnā, wa anta khairur rāziqīn" (dan berilah kami rezeki, dan Engkaulah pemberi rezeki yang paling utama), mengarahkan fokus kembali kepada Tauhid (keesaan Allah) sebagai sumber segala kehidupan, bukan hanya pada mukjizat sesaat itu.
Tanggapan Allah SWT atas doa ini tercantum dalam ayat-ayat berikutnya (Al-Maidah: 116-117), yang menegaskan bahwa Allah mengabulkan permintaan tersebut. Hidangan itu benar-benar diturunkan, dan hal itu menjadi bukti kekuasaan-Nya yang luar biasa. Namun, ayat-ayat selanjutnya juga memberikan peringatan keras bagi mereka yang kufur setelah melihat bukti nyata tersebut.
Kisah ini mengajarkan umat Islam tentang pentingnya iman yang kokoh, bahkan ketika dihadapkan pada bukti-bukti empiris. Iman sejati tidak hanya bergantung pada pemandangan mukjizat, tetapi pada penerimaan total terhadap wahyu dan keesaan Allah SWT. Permintaan Hawariyyun, meski dikabulkan, menjadi pelajaran bahwa setelah melihat tanda-tanda kebesaran, seharusnya tidak ada lagi ruang untuk keraguan.
Surah Al-Maidah ayat 115 adalah pilar penting dalam kisah kenabian Nabi Isa. Ayat ini merekam doa agung yang meminta tanda kekuasaan Allah berupa hidangan dari langit, yang ditujukan bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi sebagai peneguhan spiritual dan warisan keimanan bagi umat di masa mendatang. Ayat ini adalah pengingat bahwa mukjizat terbesar adalah Al-Qur'an dan wahyu yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang berfungsi sebagai 'hidangan rohani' yang jauh lebih abadi dan universal bagi seluruh umat manusia.