Ilustrasi Keteguhan dalam Menghadapi Tantangan
Surah Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali panduan kehidupan, hukum, dan kisah-kisah penting bagi umat Islam. Salah satu ayat yang sering menjadi titik fokus pembahasan, terutama dalam konteks sejarah dan akidah, adalah ayat ke-22. Ayat ini menceritakan respons kaum Nabi Musa terhadap perintah Allah untuk memasuki tanah suci.
قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا حَتَّىٰ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ
Mereka berkata, "Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang sangat kuat, dan kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar daripadanya. Jika mereka keluar daripadanya, maka sesungguhnya kami pasti masuk."Ayat ini merujuk pada peristiwa besar setelah Bani Israil diselamatkan dari Firaun dan penyeberangan mereka melalui Laut Merah. Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memimpin kaumnya memasuki negeri Kanaan (yang sering diidentikkan dengan Palestina/Baitul Maqdis) yang telah dijanjikan sebagai tanah warisan. Namun, respon kaum tersebut sangat mengejutkan dan penuh ketidakpercayaan.
Mereka tidak langsung menyatakan kesiapan untuk taat, melainkan mengajukan keberatan. Keberatan mereka berpusat pada keberadaan penduduk asli negeri itu—orang-orang yang mereka sebut sebagai "jabbarin" (orang-orang yang kuat, perkasa, atau tiran). Ketakutan ini menunjukkan adanya keraguan mendalam terhadap janji dan pertolongan Allah, meskipun mereka baru saja menyaksikan mukjizat terbesar dalam sejarah mereka.
Respon Bani Israil ini bukan sekadar ungkapan rasa takut biasa. Ini adalah bentuk penolakan terhadap perintah ilahi dan hilangnya kepercayaan penuh (tawakkul) kepada Allah SWT. Mereka menetapkan syarat: "Kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar." Ini adalah bentuk pembatasan terhadap kehendak Tuhan. Sikap ini memiliki konsekuensi yang sangat berat, seperti yang dijelaskan pada ayat-ayat berikutnya dalam surat yang sama.
Ayat 22 ini menjadi pelajaran penting mengenai bahaya mentalitas ketakutan yang melahirkan pembangkangan. Ketika wahyu dan perintah telah jelas, tugas seorang mukmin adalah melaksanakan dengan keyakinan penuh, bukan malah membuat syarat berdasarkan persepsi kelemahan diri atau kekuatan musuh di hadapan kekuatan Allah.
Pesan utama yang dapat kita petik dari Surah Al-Maidah ayat 22 adalah pentingnya keteguhan iman (istiqamah) dan tawakkul sejati. Ketika Allah menjanjikan suatu kemenangan atau kemudahan, hambatan fisik seperti keberadaan musuh yang kuat seharusnya tidak menjadi penghalang utama.
Bagi umat Islam saat ini, ayat ini mengingatkan bahwa tantangan hidup, baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, tekanan sosial, maupun konfrontasi ideologi, tidak boleh menyebabkan kita menunda atau menolak perintah agama. Jika Allah memerintahkan sesuatu yang benar dan baik, maka keyakinan bahwa Allah akan memberikan jalan keluar harus lebih besar daripada rasa takut terhadap "orang-orang yang kuat" di hadapan kita.
Kisah ini menyoroti kontras antara iman yang rapuh dan iman yang kokoh. Kaum Nabi Musa pada saat itu memilih bersembunyi di balik ketakutan, yang akhirnya menyebabkan mereka terkutuk untuk mengembara selama empat puluh tahun di padang gurun, sebuah hukuman atas kedurhakaan mereka.
Sebaliknya, orang-orang yang beriman sejati, seperti yang dicerminkan oleh perkataan mereka di akhir ayat ("jika mereka keluar daripadanya, maka sesungguhnya kami pasti masuk"), menunjukkan kesiapan untuk bertindak asalkan syarat kemenangan (terpenuhinya janji Allah) terpenuhi. Meskipun demikian, mereka harus belajar bahwa kemenangan sejati datang melalui keberanian untuk mengambil langkah pertama karena perintah Allah, bukan menunggu kondisi luar menjadi sempurna.
Dalam konteks modern, Surah Al-Maidah ayat 22 mengajarkan kita untuk tidak mudah terintimidasi oleh kekuatan duniawi yang tampak superior. Baik itu dalam mempertahankan nilai-nilai Islam di tengah arus modernisasi yang bertentangan, maupun dalam menghadapi tantangan dakwah yang berat, respons yang benar adalah memprioritaskan ketaatan.
Ayat ini mengajak setiap Muslim untuk introspeksi: apakah kita seringkali menunda kebaikan atau meninggalkan kewajiban karena membayangkan kesulitan yang akan dihadapi? Nabi Musa dan para pengikutnya diuji bukan hanya untuk berperang, tetapi untuk menguji sejauh mana ketaatan mereka melebihi ketakutan pribadi. Memahami tafsir ayat ini membantu menguatkan kembali fondasi spiritual, menegaskan bahwa bersama Allah, tantangan terbesar sekalipun dapat diatasi.