Memahami Kisah Nabi Isa dalam Surah Al-Maidah

Cahaya Ilahi Al-Maidah Kisah Kenabian

Ilustrasi pesan wahyu dan petunjuk.

Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", merupakan salah satu surat Madaniyah dalam Al-Qur'an. Salah satu bagian penting dari kandungan surah ini adalah pembahasan mendalam mengenai kisah para nabi terdahulu, khususnya Nabi Isa Al-Masih putra Maryam (Yesus). Surah ini menegaskan posisi kenabian Nabi Isa sebagai salah satu utusan Allah yang membawa syariat dan mukjizat besar, namun juga mengklarifikasi kesalahpahaman yang berkembang mengenai hakikat beliau.

Mukjizat dan Kedudukan Nabi Isa

Al-Maidah mencatat secara eksplisit berbagai mukjizat yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Isa sebagai pembuktian kenabiannya. Mukjizat-mukjizat ini seringkali diceritakan dalam konteks dialog antara Nabi Isa dengan kaum Bani Israil. Misalnya, Allah SWT berfirman tentang Nabi Isa yang diizinkan untuk menghidupkan orang mati atas izin Allah. Ini bukan tindakan ketuhanan, melainkan sebuah bukti kekuasaan Allah yang dititahkan melalui Rasul-Nya.

Selain itu, Surah Al-Maidah juga menyoroti kemampuan Nabi Isa dalam menciptakan bentuk burung dari tanah liat, kemudian meniupnya sehingga menjadi burung hidup atas izin Allah. Ayat-ayat ini berfungsi untuk memperkuat keyakinan bagi mereka yang mengikuti risalahnya, sekaligus menjadi tantangan bagi mereka yang mengingkari kebenarannya. Kedudukan Nabi Isa dalam Islam adalah sebagai seorang Nabi dan Rasul, bukan sebagai Tuhan atau anak Tuhan, sebuah poin krusial yang ditekankan oleh Al-Qur'an.

Perbedaan Pandangan dan Klarifikasi Teologis

Surah Al-Maidah memiliki peran penting dalam mengoreksi pandangan ekstrem yang muncul mengenai Nabi Isa. Bagian dari surah ini secara tegas menolak konsep trinitas dan anggapan bahwa Isa adalah bagian dari Tuhan. Allah SWT menegaskan dalam dialog ilahiah bahwa Nabi Isa sendiri mengakui statusnya sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya.

"Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata: 'Bahwasanya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam.' Padahal Al Masih berkata: 'Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.' Sesungguhnya barangsiapa menyekutukan Allah, maka Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka." (Konteks dari Surah Al-Maidah)

Klarifikasi ini sangat penting karena bertujuan menjaga kemurnian tauhid (keesaan Allah) yang dibawa oleh seluruh nabi, termasuk Nabi Musa dan Nabi Isa. Penekanan ini menunjukkan bahwa inti ajaran Islam, sejak awal, adalah penyembahan mutlak hanya kepada Allah Yang Maha Esa.

Peran Nabi Isa dalam Perspektif Umat Islam

Bagi umat Islam, kisah Nabi Isa dalam Surah Al-Maidah bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga pelajaran teologis yang relevan. Surah ini mengingatkan bahwa semua nabi membawa pesan yang sama: kepatuhan total kepada Allah. Meskipun mukjizat Nabi Isa luar biasa, beliau tetaplah manusia yang menerima wahyu.

Selain itu, Al-Maidah juga membahas perihal kisah pengangkatan Nabi Isa ke langit (tidak disalib), yang merupakan perbedaan signifikan dengan keyakinan agama lain. Meskipun detail pengangkatan itu berbeda, fokus Al-Maidah adalah penegasan bahwa rencana Allah tidak dapat digagalkan oleh musuh-musuh-Nya. Nabi Isa diangkat sebagai penegasan kemuliaan dan perlindungan ilahi atas hamba-Nya yang saleh.

Hikmah dari Kisah Nabi Isa di Al-Maidah

Kisah Nabi Isa dalam Surah Al-Maidah memberikan beberapa hikmah mendasar. Pertama, pengakuan terhadap semua Nabi sebagai pembawa kebenaran, namun dengan pemahaman yang benar mengenai status mereka. Kedua, pentingnya mengikuti ajaran yang murni (tauhid) tanpa mencampurkan unsur pemujaan berlebihan terhadap manusia, seberapa pun mulianya mereka.

Surah Al-Maidah berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan risalah para nabi terdahulu dengan risalah penutup Nabi Muhammad SAW. Dengan memahami konteks dan penegasan yang diberikan surah ini terhadap kedudukan Nabi Isa, seorang Muslim dapat memperkuat keimanannya pada keesaan Allah dan menghormati semua utusan-Nya sesuai dengan kedudukan yang diberikan oleh wahyu. Kisah ini adalah pengingat bahwa petunjuk Allah selalu jelas, namun interpretasi manusia dapat menyesatkannya jika tidak berpegang teguh pada sumber primer.

🏠 Homepage