Dalam lembaran Al-Qur'an, setiap ayat memiliki kedalaman makna yang tak terhingga, menjadi petunjuk dan pengingat bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sarat dengan penegasan tauhid dan otoritas ilahi adalah Surat Al-Maidah ayat 118. Ayat ini merupakan puncak dari dialog antara Allah SWT dengan Nabi Isa 'Alaihissalam pada hari kiamat, sebuah momen penentuan yang tegas mengenai hakikat ibadah dan pengakuan atas keesaan Allah.
Teks dan Terjemahan Surat Al-Maidah Ayat 118
"Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
Ayat ini adalah penutup dari rentetan dialog panjang yang terjadi di Padang Mahsyar, di mana Allah SWT meminta pertanggungjawaban Nabi Isa tentang klaim penyembahan yang dialamatkan kepadanya. Setelah Nabi Isa menyatakan pembebasan dirinya dari klaim tersebut (sebagaimana dijelaskan pada ayat-ayat sebelumnya), ayat 118 menjadi penegasan akhir bahwa segala urusan, baik penghukuman maupun pengampunan, sepenuhnya berada di bawah kehendak dan kekuasaan mutlak Allah SWT.
Analisis Konteks dan Makna Kekuasaan
Frasa kunci dalam ayat ini adalah penegasan bahwa semua manusia, termasuk orang-orang yang menyembah selain Allah, tetaplah merupakan 'hamba-hamba-Mu' (عِبَادُكَ - 'ibaduk'). Pengakuan ini bukanlah pembenaran atas perbuatan syirik mereka, melainkan penegasan fakta status eksistensi mereka. Mereka diciptakan oleh Allah, dan kepada-Nya mereka kembali. Keberadaan mereka, dalam suka maupun duka, berada dalam lingkup penciptaan-Nya.
Kemudian, Nabi Isa menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Allah dengan dua sifat agung-Nya: Al-'Aziz (Maha Perkasa) dan Al-Hakim (Maha Bijaksana).
1. Al-'Aziz (Yang Maha Perkasa)
Sifat Al-'Aziz merujuk pada kekuatan yang tak tertandingi. Allah memiliki otoritas penuh untuk memutuskan hukuman (ta'dzib) bagi mereka yang durhaka. Kekuasaan-Nya bersifat mutlak, tidak ada yang dapat menghalangi atau menentang ketetapan-Nya. Jika Allah memutuskan untuk menghukum, maka hukuman itu pasti terlaksana karena Dia Maha Kuat dan Tak Terkalahkan.
2. Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana)
Sifat Al-Hakim menegaskan bahwa setiap keputusan Allah—baik itu penghukuman maupun pengampunan—selalu didasari oleh kebijaksanaan sempurna. Pengampunan (maghfirah) yang diserahkan kepada kehendak-Nya menunjukkan bahwa pintu rahmat masih terbuka, namun keputusannya selalu adil dan tepat sasaran. Tidak ada keputusan Allah yang sia-sia atau tanpa hikmah.
Penempatan kedua sifat ini secara berurutan mengajarkan kita bahwa pengampunan bukanlah hasil dari kelemahan atau kemudahan, melainkan hasil dari kekuatan (Al-'Aziz) yang dibalut dengan kebijaksanaan (Al-Hakim). Allah mampu menghukum dengan segala kekuatan-Nya, namun memilih untuk mengampuni berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya yang tak terbatas.
Pelajaran Penting dari Al-Maidah Ayat 118
Kajian terhadap surat Al-Maidah ayat 118 memberikan beberapa pelajaran fundamental bagi kehidupan seorang Muslim:
- Penegasan Tauhid Penuh: Ayat ini memperkuat konsep bahwa tidak ada entitas lain yang memiliki hak untuk disembah atau dipertuhankan selain Allah. Posisi Nabi Isa, sebagai seorang Nabi yang sangat dimuliakan, dikembalikan sepenuhnya kepada statusnya sebagai hamba Allah.
- Penyerahan Diri Total (Tawakkul): Dialog ini menunjukkan puncak tawakkul. Nabi Isa tidak memohon atau mengintervensi keputusan akhir, melainkan menyerahkan seluruh umat manusia—yang memilih untuk sesat atau taat—kepada penilaian mutlak Allah.
- Harapan dan Ketakutan (Raja' dan Khauf): Ayat ini menyeimbangkan antara rasa takut akan hukuman (jika Allah memutuskan menyiksa) dan harapan akan rahmat (jika Allah memutuskan mengampuni). Keduanya harus selalu ada dalam hati seorang mukmin.
- Pengakuan akan Keterbatasan Manusia: Manusia tidak memiliki otoritas untuk menjamin keselamatan orang lain di hadapan Allah. Hanya Allah-lah yang memiliki kunci keputusan akhir.
Pada akhirnya, Surat Al-Maidah ayat 118 adalah sebuah penegasan universal tentang kedaulatan Allah (Uluhiyyah) yang tak terbantahkan. Ia berfungsi sebagai pengingat bahwa terlepas dari segala perdebatan dan keyakinan manusia di dunia, keputusan akhir, penghakiman yang adil, dan rahmat yang melimpah hanya bersumber dari Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Ayat ini menuntun hati kita untuk selalu kembali dan tunduk pada kehendak-Nya yang sempurna.