Surah Az-Zalzalah (Kegoncangan) adalah salah satu surat pendek namun memiliki pesan yang sangat dahsyat dalam Al-Qur'an. Surat ini hanya terdiri dari delapan ayat, namun berhasil melukiskan gambaran visual yang mengerikan sekaligus penuh peringatan mengenai hari kiamat, yaitu hari ketika seluruh bumi akan diguncangkan dengan guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Fokus pembahasan kita kali ini adalah enam ayat pertama. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai pembuka drama kosmik yang akan menandai berakhirnya kehidupan dunia dan dimulainya perhitungan amal. Ayat-ayat ini mengajarkan kita tentang kepastian pertanggungjawaban individual di hadapan Allah SWT.
Ayat pertama langsung menyuguhkan gambaran puncak kehancuran duniawi. Kata "زلزالها" (zilzalaha) berarti goncangan yang paling hebat, puncak dari semua gempa bumi. Ini bukan sekadar gempa biasa; ini adalah goncangan penutup yang mengakhiri siklus alam semesta sebagaimana kita kenal. Setiap struktur yang dibangun manusia, setiap gunung yang kokoh, akan runtuh tak bersisa.
Ayat kedua menjelaskan konsekuensi fisik dari guncangan tersebut: "أَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا" (Bumi mengeluarkan isi beratnya). Isi berat ini bisa diartikan sebagai segala sesuatu yang tersembunyi di perut bumi, mulai dari mayat-mayat manusia yang telah meninggal hingga segala harta karun dan logam mulia yang selama ini terpendam. Semua akan dimuntahkan ke permukaan, menandakan berakhirnya masa penyimpanan rahasia di bawah tanah.
Di tengah kekacauan itu, reaksi manusia digambarkan dengan kebingungan total. Mereka yang hidup atau dibangkitkan akan bertanya, "Mā lahā?" (Ada apa dengan bumi ini?). Kebingungan ini wajar, sebab fenomena yang terjadi melampaui semua hukum fisika yang mereka pahami.
Namun, kejutan terbesar datang pada ayat 4 dan 5. Bumi, yang selama ini menjadi saksi bisu setiap perbuatan kita—baik yang tersembunyi di malam hari maupun yang dilakukan terang-terangan—tiba-tiba diperintahkan Allah untuk "menceritakan beritanya" (تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا). Perintah ilahi ini menunjukkan bahwa bumi bukanlah objek mati, melainkan entitas yang akan bersaksi atas jejak-jejak langkah, pertikaian, ibadah, dan maksiat yang pernah terjadi di permukaannya.
Ayat terakhir dari bagian ini, ayat 6, adalah jembatan menuju hari perhitungan itu sendiri. Setelah bumi selesai bersaksi, manusia akan keluar dari kubur mereka. Frasa "أَشْتَاتًا" (asyātāan) berarti dalam keadaan terpecah-pecah atau berkelompok-kelompok, menunjukkan bahwa mereka tidak lagi dalam ikatan kekerabatan atau duniawi seperti di kehidupan sebelumnya. Setiap individu berdiri sendiri untuk menghadapi konsekuensinya.
Tujuan dari keluarnya mereka adalah "لِّيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ" (agar diperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka). Ini adalah momen penegasan bahwa tidak ada satu perbuatan pun, sekecil apa pun, yang luput dari catatan dan perhitungan. Pengguncangan bumi hanyalah prolog yang memastikan bahwa panggung telah siap untuk pementasan terbesar: audit total kehidupan.