Visualisasi gambaran peristiwa yang dideskripsikan dalam Surah Al-Zalzalah.
Memahami Urutan Penurunan Wahyu
Pertanyaan mengenai kapan surah Al-Zalzalah diturunkan setelah surat tertentu adalah hal yang sering muncul dalam kajian ilmu tafsir dan ushulul quran. Untuk memahaminya, kita perlu kembali kepada konsep nuzulul wahyu, yaitu proses penurunan Al-Qur'an secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun. Tidak semua ayat atau surah diturunkan secara berurutan sebagaimana urutan mushaf saat ini.
Al-Qur'an disusun berdasarkan perintah langsung dari Allah SWT melalui Jibril kepada Rasulullah SAW. Meskipun urutan mushaf adalah berdasarkan ketetapan ilahi, urutan kronologis pewahyuan (nuzul) memiliki signifikansi tersendiri, terutama dalam memahami konteks historis dan latar belakang turunnya ayat (asbabul nuzul).
Posisi Surah Al-Zalzalah dalam Kronologi Wahyu
Surah Al-Zalzalah (Surah ke-99) merupakan salah satu surah pendek yang membahas hari kiamat dengan gambaran yang sangat dahsyat, yaitu ketika bumi mengguncang dengan guncangan yang hebat dan mengeluarkan isi perutnya. Berdasarkan mayoritas riwayat para mufassir dan sejarawan Islam, Surah Al-Zalzalah tergolong dalam kelompok surah Madaniyah.
Namun, perlu dicatat bahwa klasifikasi Makkiyah (diturunkan sebelum Hijrah) dan Madaniyah (diturunkan setelah Hijrah) seringkali memberikan batasan yang umum. Beberapa ulama mengklasifikasikan Al-Zalzalah sebagai Madaniyah akhir, sementara yang lain menempatkannya sebagai Makkiyah akhir. Jika kita merujuk pada urutan penurunan yang lebih rinci, Surah Al-Zalzalah berada pada urutan yang relatif lebih belakangan dibandingkan dengan surah-surah yang diturunkan pada masa-masa awal kenabian di Mekkah.
Secara umum, para ulama menempatkan Surah Al-Zalzalah setelah Surah An-Nisa dan sebelum Surah At-Taghabun dalam urutan kronologis wahyu. Ini menempatkannya di periode Madinah, atau paling tidak, di akhir periode Mekkah ketika tantangan dan isu-isu kehidupan sosial umat Islam mulai meluas. Urutan ini menunjukkan bahwa gambaran detail mengenai pertanggungjawaban individu di Hari Perhitungan telah diperkuat setelah umat Islam mulai membangun institusi dan masyarakat di Madinah.
Perbandingan dengan Surah Lain
Menentukan surah Al-Zalzalah diturunkan setelah surat spesifik seringkali menjadi perdebatan karena variasi catatan riwayat. Namun, konsensus menempatkannya jauh setelah surah-surah dasar Islam seperti Al-Fatihah, Al-Baqarah, atau Al-Imran. Surah yang lebih awal cenderung membahas tauhid dasar, pembentukan syariat salat dan puasa, serta isu-isu moral fundamental.
Sebagai perbandingan, surah-surah yang membahas tata kelola negara, hukum-hukum yang lebih rinci (seperti waris, pernikahan, dan pidana), yang mayoritas berada di Madinah, diturunkan lebih dulu dibandingkan Al-Zalzalah dalam konteks Madaniyah akhir. Surah-surah Madaniyah awal seperti Al-Baqarah dan Ali 'Imran datang lebih awal untuk meletakkan fondasi hukum. Sementara itu, Al-Zalzalah datang belakangan sebagai pengingat kuat mengenai kesetaraan pertanggungjawaban di hadapan Allah, di mana sekecil apa pun amal perbuatan akan diperhitungkan.
Penurunan surah-surah yang berkaitan dengan eskatologi (ilmu tentang akhirat) sering kali menjadi penutup atau penguatan keyakinan pada akhir masa kenabian. Ini bertujuan untuk mengingatkan kaum mukminin agar senantiasa menjaga amal saleh, mengingat bahwa perhitungan akhir pasti akan datang tanpa penundaan.
Implikasi Pemahaman Urutan
Meskipun penentuan urutan persis penurunan wahyu (kronologis) tidak sekuat penentuan urutan dalam mushaf (tartibi), memahami konteks waktu penurunan membantu kita menafsirkan ayat-ayat dengan lebih mendalam. Dalam kasus Al-Zalzalah, penekanan pada getaran bumi dan pengungkapan rahasia bumi menunjukkan bahwa ayat ini berfungsi sebagai peringatan universal yang sangat kuat.
Jika surah ini diturunkan setelah periode Madinah awal, hal ini memperlihatkan bahwa seiring berjalannya waktu dan semakin mapannya komunitas Muslim, penguatan spiritual mengenai Hari Kebangkitan menjadi sangat krusial. Ini adalah pengingat bahwa semua usaha, baik yang tersembunyi maupun yang terlihat, dicatat oleh bumi itu sendiri dan akan disaksikan pada Hari Pengadilan.
Kesimpulannya, surah Al-Zalzalah berada pada urutan kronologis yang relatif belakangan, diperkirakan diturunkan setelah banyak surah hukum dan sosial yang turun di Madinah. Urutan ini mengukuhkan pentingnya kesadaran spiritual menjelang penghujung masa kenabian.