Memahami Batasan dan Hasil Akhir: Tafsir Surah Al-Maidah Ayat 28

Ilustrasi visualisasi keputusan dan konsekuensi STOP Keseimbangan
وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِن كَانَ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ ۚ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ
Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah itu; jika Allah hendak menimpakan kemudharatan kepadamu, apakah mereka dapat menghilangkan kemudharatan itu daripadamu; atau jika Allah hendak memberikan rahmat kepadamu, dapatkah mereka menahan rahmat-Nya itu?". Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nya-lah orang-orang yang bertawakal itu bertawakal". (QS. Al-Maidah: 28)

Konteks Penegasan Tauhid

Ayat ke-28 dari Surah Al-Maidah ini merupakan salah satu penegasan kuat mengenai konsep tauhid (keesaan Allah) dalam Islam, khususnya dalam konteks dialog atau perdebatan dengan kaum musyrik atau mereka yang menyekutukan Allah. Ayat ini dimulai dengan sebuah tantangan retoris yang sangat efektif. Allah SWT melalui Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan untuk menanyakan kepada para penyembah berhala atau tandingan lainnya mengenai siapa yang menciptakan alam semesta yang maha luas ini.

Secara naluriah dan logis, pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi adalah sebuah kebenaran yang tak terbantahkan, bahkan oleh mereka yang secara lisan menyembah selain-Nya. Pengakuan ini menjadi pintu masuk untuk menguji konsistensi keyakinan mereka selanjutnya. Jika mereka mengakui Allah sebagai Pencipta tunggal, mengapa mereka masih mencari perlindungan, pertolongan, atau berkah dari selain-Nya?

Ujian Kekuatan dan Keterbatasan Sesembahan Selain Allah

Bagian inti dari ayat ini adalah pengujian absolut terhadap kekuatan entitas lain selain Allah. Nabi diperintahkan untuk bertanya: Jika Allah menghendaki bahaya (kemudaratan) menimpa diriku, apakah sesembahan kalian (yang kalian panggil selain Dia) mampu menghilangkannya? Demikian pula, jika Allah hendak melimpahkan rahmat, apakah mereka sanggup menahan rahmat tersebut?

Jawaban logisnya tentu saja tidak. Tidak ada satu pun makhluk, dewa, atau entitas yang diciptakan yang memiliki otoritas untuk membatalkan atau memaksakan kehendak Allah. Keterbatasan ini membuktikan bahwa menyembah mereka adalah kesesatan yang nyata, karena mereka tidak memiliki kuasa atas dua hal paling fundamental dalam kehidupan manusia: penentuan bahaya dan penentuan rahmat. Kuasa mutlak hanya ada pada Al-Khalik (Sang Pencipta).

Puncak Tawakal: "Hasbiyallahu"

Setelah menghancurkan argumen logika tentang kuasa sesembahan selain-Nya, ayat ditutup dengan kesimpulan yang menenangkan dan memotivasi iman: "Katakanlah: 'Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nya-lah orang-orang yang bertawakal itu bertawakal'." (حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ).

Frasa "Hasbiyallahu" (Cukuplah Allah bagiku) adalah inti dari tawakal sejati. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan meletakkan hasil akhir dan ketergantungan tertinggi hanya kepada Allah setelah segala upaya telah dilakukan sesuai kemampuan. Ketika seseorang menyadari bahwa hanya Allah yang Maha Kuasa untuk mendatangkan manfaat atau menolak mudarat, maka ia akan merasa aman dalam setiap keputusannya.

Ayat ini mengajarkan bahwa tauhid bukan sekadar pengakuan lisan saat ditanya tentang Pencipta, tetapi manifestasi dalam tindakan pembebanan urusan (tawakal) secara total. Bagi orang yang benar-benar bertawakal, kekurangan duniawi atau ancaman musuh tidak lagi menjadi ketakutan utama, karena mereka telah menyerahkan manajemen risiko dan harapan masa depan kepada Zat Yang Maha Kuasa atas segalanya. Ini adalah sumber ketenangan spiritual yang tak tertandingi dalam menghadapi tekanan hidup.

🏠 Homepage