Ilustrasi simbolis dari tema keabadian dan alam dalam Surah Al-Hijr.
Surah ke-15 dalam Al-Qur'an, yang dikenal sebagai Surah Al-Hijr, adalah salah satu permata dalam rangkaian wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Nama 'Al-Hijr' sendiri merujuk pada sebuah lembah atau tempat di utara Hijaz yang pernah dihuni oleh kaum Tsamud, kaum yang diazab Allah karena kekufuran dan kesombongan mereka. Surah ini turun di Mekkah, membawa pesan-pesan kuat mengenai keesaan Allah, peringatan bagi para pendusta, dan janji balasan bagi orang-orang yang beriman.
Salah satu fokus utama Surah Al-Hijr adalah kisah kaum Tsamud. Mereka adalah kaum yang diberi kenikmatan luar biasa berupa kemampuan memahat rumah-rumah mereka dari batu-batu gunung. Namun, karunia ini justru membuat mereka semakin angkuh dan menolak seruan Nabi Shaleh AS. Allah menceritakan bagaimana kaum ini ingkar terhadap mukjizat unta yang menjadi tanda kebenaran, yang akhirnya berujung pada azab yang menimpa mereka. Kisah ini berfungsi sebagai peringatan keras bagi kaum Quraisy di Mekkah saat itu, dan juga bagi umat Islam di setiap zaman, bahwa kemajuan material dan kekuatan tidak menjamin keselamatan jika diiringi dengan kesombongan dan penolakan terhadap wahyu Ilahi.
Ayat-ayat awal surah ini menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang dijaga kemurniannya. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9). Penegasan ini memberikan ketenangan bagi Nabi dan umatnya bahwa sumber ajaran mereka terjamin keasliannya, berbeda dengan kitab-kitab terdahulu yang mungkin telah mengalami perubahan seiring waktu.
Surah Al-Hijr juga mengajak umat manusia untuk merenungkan keagungan ciptaan Allah. Ayat-ayatnya menyentuh aspek alam semesta, mulai dari penciptaan langit dengan bintang-bintangnya yang indah hingga proses turunnya hujan yang menghidupkan bumi yang tandus. Perhatian terhadap detail alam ini adalah ajakan untuk bertafakkur, menyadari bahwa di balik keteraturan alam terdapat Zat Yang Maha Kuasa.
Selain peringatan dan perenungan alam, surah ini memberikan tuntunan praktis bagi Nabi. Ketika menghadapi ejekan dan permintaan kaum musyrikin untuk mendatangkan azab segera, Allah memerintahkan Nabi untuk tetap fokus pada tugasnya dan bersabar. Salah satu ayat yang sangat terkenal adalah perintah untuk bersabar dalam menghadapi kesulitan dakwah: "Maka bersabarlah engkau dengan sabar yang baik." (QS. Al-Hijr: 85). Kesabaran yang dimaksud di sini bukan sekadar pasif menunggu, melainkan kesabaran yang disertai dengan keteguhan hati dan terus beribadah.
Kisah Nabi Adam AS dan penolakan Iblis untuk bersujud kepadanya juga disinggung dalam Surah Al-Hijr. Kisah ini kembali menekankan tema kesombongan dan keangkuhan yang menjadi akar kebinasaan banyak umat terdahulu. Iblis merasa lebih unggul karena diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah. Penolakan ini berakibat pada pengusiran Iblis dari rahmat Allah. Pesan moralnya jelas: keunggulan sejati di sisi Allah bukan terletak pada asal materi penciptaan, melainkan pada ketaatan dan ketundukan kepada perintah-Nya.
Secara keseluruhan, Surah Al-Hijr adalah jembatan antara peringatan keras terhadap kesombongan (seperti kaum Tsamud dan Iblis) dengan penguatan iman melalui pemahaman tentang keagungan Al-Qur'an dan keajaiban alam semesta. Ia mengajarkan umat Islam untuk meneladani kesabaran para nabi dan selalu menjaga integritas dalam menjalankan perintah Allah, terlepas dari tantangan atau ejekan yang dihadapi dalam proses berdakwah.