Ilustrasi simbolis doa Nabi Isa a.s.
"Doa Penutup yang Penuh Harapan dari Nabi Isa Al-Masih"
'Isa putra Maryam berdoa, "Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan (makanan) dari langit, (yang akan menjadi) hidangan bagi kami, yaitu bagi orang yang bersama kami dan yang datang setelah kami, dan menjadi tanda dari-Mu; dan berilah kami rezeki, Engkaulah Pemberi rezeki yang terbaik." (QS. Al-Maidah: 114)
Ayat 114 dari Surah Al-Maidah merupakan penutup kisah tentang mukjizat Nabi Isa Al-Masih 'Isa ibn Maryam. Ayat ini menceritakan momen ketika para pengikut Nabi Isa, yang dikenal sebagai Bani Israil, yang hidup pada masa beliau, meminta bukti nyata dan jaminan keberkahan. Mereka meminta agar Allah SWT menurunkan hidangan makanan (Maidah) langsung dari langit.
Permintaan ini bukanlah sekadar keinginan akan makanan jasmani semata, tetapi lebih merupakan permintaan untuk sebuah "tanda" (ayat) yang menguatkan keimanan mereka dan menjadi peringatan suci bagi generasi yang hidup saat itu hingga generasi yang akan datang. Kata 'eid' (عيد) di sini memiliki makna perayaan atau hari raya, menunjukkan bahwa hidangan tersebut diharapkan menjadi momen sakral yang diingat sepanjang masa.
Doa yang dipanjatkan Nabi Isa sangatlah mendalam. Doa tersebut mengandung tiga poin utama:
Meskipun ayat ini berpusat pada permintaan mukjizat, hikmah terbesarnya terletak pada bagaimana Nabi Isa memanjatkan doa tersebut. Beliau tidak hanya meminta sebagai seorang nabi yang memiliki kuasa, tetapi sebagai seorang hamba yang tunduk penuh kepada Rabb-nya.
Pengakuan bahwa hidangan tersebut harus menjadi "bagi yang pertama dan yang terakhir" menunjukkan visi profetik yang melampaui zamannya. Ini menekankan pentingnya momentum spiritual yang mampu menembus batas waktu. Sementara itu, mengakhiri doa dengan penyerahan diri kepada Allah sebagai "Pemberi rezeki terbaik" mengajarkan tawakal yang hakiki. Rezeki terbaik bukan hanya yang melimpah, tetapi yang didatangkan dengan cara yang paling diridhai oleh Allah SWT.
Bagi umat Islam, kisah ini menegaskan kedudukan tinggi Nabi Isa sebagai hamba dan rasul Allah, serta menunjukkan bahwa mukjizat adalah sarana untuk memperkuat iman, bukan tujuan akhir dari ketaatan. Ayat ini adalah warisan doa yang mengingatkan umat beriman tentang ketergantungan total pada Allah dalam setiap aspek kehidupan, baik spiritual maupun material.