Dalam khazanah Al-Qur'an, setiap ayat membawa hikmah dan petunjuk yang mendalam bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan tentang konsekuensi perbuatan adalah firman Allah dalam Surah Al-Isra' (Bani Israil) ayat ke-10. Ayat ini secara spesifik berbicara mengenai peringatan tegas kepada mereka yang berbuat zalim atau merusak, serta janji akan ganjaran yang setimpal dari Allah SWT. Memahami konteks dan makna ayat ini adalah kunci untuk hidup yang lurus dan penuh kesadaran.
Surah Al-Isra' sendiri adalah surah Makkiyah yang sarat dengan kisah-kisah Bani Israil, mukjizat Nabi Musa, hingga petunjuk-petunjuk moral dan akidah. Ayat ke-10 ini berfungsi sebagai penutup dari serangkaian peringatan yang telah disebutkan sebelumnya, menegaskan bahwa keadilan ilahi tidak akan pernah terlewatkan.
Ilustrasi Keadilan dan Pertanggungjawaban
Ayat ini merupakan inti dari peringatan Ilahi. Fokusnya tertuju pada kelompok tertentu: mereka yang secara fundamental menolak atau tidak meyakini adanya kehidupan setelah kematian, yaitu Hari Akhir (Al-Yaumul Akhir). Bagi mereka yang menolak konsep pertanggungjawaban abadi ini, Allah SWT telah menyiapkan konsekuensi yang sangat serius.
Penekanan pada "iman kepada hari akhir" menunjukkan betapa vitalnya keyakinan ini dalam membentuk perilaku seorang Muslim. Jika seseorang yakin bahwa setiap perbuatan, baik atau buruk, akan dihisab dan dibalas di akhirat, maka ia akan cenderung menahan diri dari perbuatan maksiat dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Sebaliknya, orang yang mengingkari hari akhir seringkali terjerumus dalam nihilisme moral. Mereka beranggapan bahwa dunia adalah satu-satunya panggung eksistensi, sehingga tidak ada lagi konsekuensi yang menanti setelah kematian.
Ketiadaan iman pada hari akhir membuka pintu lebar bagi kezaliman, kesombongan, dan penindasan. Mengapa harus berbuat baik jika hasilnya akan lenyap bersama jasad? Ayat 17:10 ini berfungsi sebagai rem moral universal. Ia mengingatkan bahwa meskipun pelaku kejahatan mungkin lolos dari hukum duniawi, mereka tidak akan pernah luput dari pengawasan dan penghakiman Allah yang Maha Adil.
Frasa "azab yang pedih" (عَذَابًا أَلِيمًا) dalam ayat ini memberikan gambaran tentang jenis balasan yang menanti. Kata "pedih" (alim) menunjukkan tingkat penderitaan yang melampaui rasa sakit fisik yang biasa dialami di dunia. Ini adalah hukuman yang mencakup dimensi spiritual dan eksistensial.
Penting dicatat bahwa ayat ini bukan sekadar ancaman kosong. Dalam banyak ayat lain di Al-Qur'an, Allah SWT menegaskan sifatNya sebagai Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Oleh karena itu, azab yang disiapkan adalah bukti dari keadilan mutlakNya terhadap mereka yang secara sadar memilih untuk menolak petunjuk dan terus menerus melakukan kerusakan tanpa penyesalan hingga akhir hayat mereka. Bagi orang beriman, ayat ini menjadi motivasi untuk senantiasa memperbaiki amal dan memohon ampunan, karena pintu rahmat terbuka lebar selama nyawa masih dikandung badan.
Di era modern, penolakan terhadap nilai-nilai transenden seringkali termanifestasi dalam bentuk materialisme ekstrem, hedonisme tanpa batas, atau ateisme terang-terangan. Orang mungkin merasa "aman" dalam kesenangan duniawi sesaat, lupa bahwa waktu mereka terbatas. Surat Al-Isra' ayat 10 ini menjadi pengingat kuat bahwa pandangan hidup yang hanya berpusat pada kenikmatan sesaat tanpa mempertimbangkan dimensi kekal adalah fondasi yang rapuh.
Refleksi terhadap ayat ini mendorong umat Islam untuk tidak hanya menjalankan ibadah ritual, tetapi juga menginternalisasi keyakinan akan hari pembalasan dalam setiap interaksi sosial dan keputusan moral. Keadilan sejati hanya terwujud ketika ada pertanggungjawaban akhir. Dengan demikian, iman kepada hari akhir menjadi jangkar yang menjaga stabilitas etika individu dan masyarakat dari kehancuran akibat perilaku tanpa batas.