Mengkaji Surat Adz-Zariyat Ayat 11: Sikap Orang yang Terhalang dari Kebenaran

Rahmat Allah Jalan Lurus Tertahan Terhalang

Ilustrasi konseptual mengenai terhalangnya seseorang dari jalan kebenaran.

Surat Adz-Zariyat, yang merupakan salah satu surat Makkiyah, membawa banyak peringatan dan penegasan mengenai keesaan Allah, hari kebangkitan, serta konsekuensi dari pilihan hidup manusia. Salah satu ayat yang sangat fundamental dalam menggambarkan kondisi spiritual sebagian manusia adalah ayat ke-11. Ayat ini secara spesifik menyoroti kelompok manusia yang terhalang dari menerima kebenaran iman dan petunjuk ilahi.

ٱلَّذِينَ هُمْ فِى حَيۡرَةٍۢ مُّعۡتَفِهُونَ
"(yaitu) orang-orang yang ragu-ragu dalam kebingungan."

Konteks Ayat dan Definisi Kebingungan

Ayat 11 ini berbicara tentang orang-orang yang disebutkan pada ayat-ayat sebelumnya (ayat 9 dan 10), yaitu orang-orang yang berpaling dari tauhid dan mengingkari hari pembalasan. Ketika mereka ditanyai, mereka justru menjawab dengan keraguan. Pertanyaan retoris dalam ayat-ayat sebelumnya adalah: "Telah binasakah orang-orang yang banyak berdusta?" (Ayat 10). Jawaban mereka tercermin dalam ayat 11 ini: mereka berada dalam kondisi kebingungan dan ketidakpastian total.

Kata kunci dalam ayat ini adalah "ḥayratin muʿtafihūn" (حَيۡرَةٍۢ مُّعۡتَفِهُونَ). Kata 'ḥayrah' (حيرة) berarti kebingungan, kealpaan, atau kebingungan yang membuat seseorang tidak tahu jalan keluar. Sementara 'muʿtafihūn' (معتفِهون) memperkuat makna ini, menunjukkan kondisi tersesat dan tidak mendapatkan petunjuk yang jelas. Mereka tidak berada di atas kebenaran, namun juga tidak mampu sepenuhnya kembali ke jalan yang benar karena keterikatan mereka pada keraguan dan keengganan.

Dampak Keraguan Filosofis dan Spiritual

Kondisi 'bingung dalam kebingungan' ini adalah konsekuensi logis dari penolakan terhadap wahyu. Ketika seseorang menolak kebenaran tunggal yang datang dari Allah, pikiran mereka dibiarkan mengembara tanpa kompas. Mereka mungkin mengikuti berbagai aliran pemikiran, filsafat, atau hawa nafsu tanpa menemukan kepastian hakiki. Mereka hidup dalam paradoks: mengklaim telah menemukan kebenaran versi mereka sendiri, namun secara batin mereka terombang-ambing.

Dalam konteks spiritual, kebingungan ini menjauhkan mereka dari kedamaian (sakinah) yang hanya ditemukan dalam kepasrahan total kepada Sang Pencipta. Mereka sibuk mencari jawaban di tempat yang salah—di antara spekulasi akal yang terbatas atau ilusi duniawi—sehingga mereka tidak pernah benar-benar sampai pada titik kesimpulan yang menenangkan jiwa.

Perbedaan dengan Pencari Kebenaran yang Jujur

Penting untuk membedakan kondisi orang-orang yang disebutkan dalam Surat Adz-Zariyat ayat 11 ini dengan orang yang sedang dalam proses pencarian kebenaran dengan hati yang lapang. Seorang pencari kebenaran yang jujur mungkin melalui fase keraguan, namun keraguan tersebut adalah langkah awal menuju pencerahan dan penemuan. Keraguan mereka bersifat dinamis; mereka aktif mencari jawaban.

Sebaliknya, kondisi yang digambarkan ayat ini bersifat statis dan defensif. Mereka 'terperangkap' dalam kebingungan karena keengganan mereka untuk menerima bukti yang telah disajikan. Mereka berpaling (seperti disebutkan di ayat 9) dan ketika dihadapkan pada konsekuensi dari pilihan mereka, mereka tidak bisa memberikan jawaban yang teguh selain kebingungan yang menyelimuti hati mereka. Ini adalah bentuk hukuman awal di dunia bagi mereka yang menolak petunjuk.

Implikasi bagi Umat Islam

Ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras bagi umat Islam agar tidak jatuh ke dalam perangkap skeptisisme yang destruktif. Keimanan sejati harus dibangun di atas dasar keyakinan yang kokoh (yaqin), yang diperoleh melalui perenungan terhadap ayat-ayat kauniyah (alam semesta) dan ayat-ayat qauliyah (wahyu Al-Qur'an). Ketika iman goyah, mudah sekali seseorang terjerumus ke dalam ḥayratin, yakni ketidakmampuan mengambil keputusan moral dan spiritual yang tepat karena terlalu banyak mempertanyakan hal-hal yang sebenarnya sudah jelas bagi orang yang beriman.

Menghindari kondisi ini memerlukan upaya kontinyu untuk membersihkan hati dari penyakit hati seperti kesombongan dan hawa nafsu, yang seringkali menjadi akar penolakan terhadap kebenaran. Dengan memahami betapa buruknya keadaan "terjebak dalam kebingungan," seorang mukmin termotivasi untuk terus memegang teguh tali petunjuk Allah agar senantiasa berada di jalan yang lurus dan jelas.

🏠 Homepage