Merkuri, atau yang sering disebut raksa, adalah unsur kimia dengan simbol Hg dan nomor atom 80. Unsur ini terkenal dengan sifatnya yang unik: berupa logam cair pada suhu ruang. Meskipun penampilannya yang berkilauan dan kemampuannya mengalir membuatnya tampak menarik, merkuri adalah racun yang sangat berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Pemahaman yang mendalam tentang merkuri, sumber paparannya, serta dampaknya sangat krusial untuk menjaga kesehatan masyarakat.
Paparan merkuri dapat berasal dari berbagai sumber, baik alami maupun aktivitas manusia. Sumber alami meliputi letusan gunung berapi dan erosi batuan yang mengandung merkuri. Namun, aktivitas antropogenik menjadi penyumbang terbesar kontaminasi merkuri global. Salah satu sumber utama adalah pembakaran batu bara, yang melepaskan merkuri ke atmosfer dan kemudian mengendap ke dalam tanah dan air.
Pertambangan emas skala kecil (ARTEMIS) juga merupakan kontributor signifikan. Dalam proses penambangan ini, merkuri digunakan untuk mengikat emas dari bijihnya. Merkuri yang terlepas selama proses ini kemudian mencemari sungai, danau, dan tanah di sekitarnya. Selain itu, pembuangan limbah industri yang tidak terkelola dengan baik, seperti dari pabrik klor-alkali atau industri plastik, juga dapat melepaskan merkuri ke lingkungan. Konsumsi ikan yang terkontaminasi merkuri, terutama ikan predator besar yang berada di puncak rantai makanan, adalah rute paparan utama bagi manusia.
Merkuri ada dalam tiga bentuk utama: unsur (logam cair), anorganik (seperti merkuri klorida), dan organik (terutama metilmerkuri). Masing-masing bentuk memiliki tingkat toksisitas dan jalur paparan yang berbeda.
Merkuri adalah neurotoksin kuat yang dapat merusak sistem saraf pusat dan perifer. Dampak kesehatan dari paparan merkuri sangat bervariasi tergantung pada dosis, durasi, jenis merkuri, dan usia individu yang terpapar.
"Merkuri dapat melintasi sawar darah otak dan sawar plasenta, sehingga sangat berbahaya bagi perkembangan janin dan anak-anak."
Pada orang dewasa, paparan merkuri tingkat tinggi dapat menyebabkan gangguan neurologis seperti tremor, insomnia, kehilangan memori, sakit kepala, gangguan kognitif, dan masalah motorik. Pada kasus yang parah, dapat terjadi kelumpuhan, kerusakan ginjal, dan bahkan kematian.
Risiko terbesar merkuri terutama dialami oleh janin dan anak-anak. Paparan merkuri selama kehamilan dapat mengganggu perkembangan otak janin, menyebabkan masalah kecerdasan, masalah perilaku, dan keterlambatan perkembangan. Bayi yang lahir dari ibu yang terpapar merkuri selama kehamilan mungkin menunjukkan gejala yang mirip dengan cerebral palsy.
Selain ancaman bagi kesehatan manusia, merkuri juga memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap lingkungan. Ketika merkuri dilepaskan ke lingkungan perairan, ia dapat berubah menjadi metilmerkuri. Metilmerkuri ini kemudian diserap oleh organisme akuatik, seperti ikan dan kerang. Ikan yang terkontaminasi dapat membahayakan satwa liar yang memakannya, termasuk burung dan mamalia. Akumulasi merkuri dalam rantai makanan dapat menyebabkan masalah reproduksi, gangguan sistem kekebalan tubuh, dan kematian pada populasi satwa liar.
Menangani masalah merkuri memerlukan upaya multidisiplin dan komitmen global. Konvensi Minamata tentang Merkuri, yang diadopsi pada tahun 2013, adalah perjanjian internasional yang bertujuan untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan dari emisi dan pelepasan merkuri. Perjanjian ini mendorong negara-negara untuk mengurangi atau menghilangkan penggunaan merkuri dalam berbagai produk dan proses industri, serta mengelola dan membuang limbah merkuri dengan aman.
Di tingkat individu, penting untuk membatasi konsumsi ikan yang diketahui memiliki kadar merkuri tinggi, terutama bagi wanita hamil, ibu menyusui, dan anak-anak. Memilih ikan yang lebih kecil dan berumur pendek dapat menjadi alternatif yang lebih aman. Selain itu, penanganan produk yang mengandung merkuri, seperti termometer dan lampu, harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari pelepasan ke lingkungan. Edukasi publik mengenai bahaya merkuri dan cara menghindarinya juga merupakan kunci penting dalam upaya pencegahan.
Merkuri raksa adalah bukti nyata bahwa kemajuan teknologi dan industri terkadang membawa risiko tersembunyi. Dengan pemahaman yang lebih baik dan tindakan yang tepat, kita dapat meminimalkan dampak buruknya dan mewariskan lingkungan yang lebih sehat bagi generasi mendatang.