Kajian Surat Al-Isra Ayat 76 sampai 80

Ilustrasi visualisasi cahaya ilmu dari Al-Qur'an

QS. Al-Isra Ayat 76 - 80

Ayat 76:

"Dan sungguh, mereka hampir membuatmu resah dengan maksud mengusirmu dari negeri ini. Tetapi, jika demikian halnya, niscaya mereka tidak akan tinggal (di negerimu) sesudahmu kecuali sebentar saja."

Ayat 77:

"(Itulah) ketentuan yang telah berlaku bagi rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu, dan kamu tidak akan mendapati perubahan atas ketetapan Kami."

Ayat 78:

"Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelap malam dan (laksanakan pula) salat Subuh. Sesungguhnya salat Subuh itu banyak disaksikan (oleh malaikat)."

Ayat 79:

"Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."

Ayat 80:

"Dan berdoalah, 'Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu pertolongan yang menolong'."

Konteks dan Pesan Utama Ayat 76-77: Ancaman Pengusiran

Bagian awal dari ayat-ayat ini, yaitu ayat 76 dan 77, berbicara tentang tantangan berat yang dihadapi oleh Nabi Muhammad SAW di Mekkah. Kaum musyrikin Mekkah bersekongkol untuk mengusir Rasulullah dari kota kelahirannya, tanah haram yang seharusnya menjadi tempat aman bagi beliau.

Allah SWT menegaskan bahwa upaya pengusiran tersebut adalah konspirasi yang nyata. Namun, Allah memberikan jaminan bahwa jika mereka berhasil mengusir Nabi, maka kekuasaan mereka di Mekkah tidak akan bertahan lama. Ini adalah peringatan keras bahwa kehancuran mereka sudah dekat. Ayat 77 memperkuat hal ini dengan menegaskan bahwa ini adalah sunnatullah (ketetapan Allah) yang berlaku bagi semua rasul yang diutus sebelumnya. Ketika kaum Quraisy mencoba menyingkirkan utusan Allah, maka itu adalah pertanda bahwa kehancuran mereka sudah di ambang pintu, sebagaimana yang menimpa umat-umat terdahulu yang menolak rasul mereka.

Kisah ini memiliki relevansi historis yang kuat karena beberapa waktu setelah ayat ini turun, Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya benar-benar harus hijrah ke Madinah. Peristiwa hijrah ini justru menjadi titik balik kemenangan Islam, sementara kekuasaan Quraisy di Mekkah perlahan melemah hingga akhirnya ditaklukkan.

Perintah Ibadah di Ayat 78-79: Salat Waktu dan Tahajud

Setelah membahas tentang ujian dakwah dan ancaman musuh, Allah mengalihkan fokus kepada kewajiban utama seorang Muslim: salat. Ayat 78 memberikan batasan waktu yang sangat spesifik untuk salat wajib harian. Terdapat perintah untuk melaksanakan salat sejak dzawal (matahari tergelincir dari titik tertingginya di tengah hari) hingga gelap malam (mencakup Zuhur, Asar, Maghrib, dan Isya), serta penekanan khusus pada salat Subuh.

Penekanan pada salat Subuh karena ayat ini menyebutkan bahwa salat tersebut "banyak disaksikan". Para mufassir menjelaskan bahwa ini merujuk pada kesaksian para malaikat malam dan malaikat siang yang berkumpul pada waktu tersebut untuk mencatat amal ibadah hamba Allah. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga konsistensi salat pada waktu yang telah ditentukan.

Ayat 79 kemudian menambahkan tingkatan ibadah yang lebih tinggi, yaitu salat tahajud atau salat lail (salat malam). Tahajud diperintahkan sebagai ziyadah (tambahan) di luar kewajiban yang telah ditetapkan. Keutamaan dari melaksanakan salat tahajud adalah harapan bahwa Allah SWT akan mengangkat derajat pelakunya ke maqam Mahmudah (tempat yang terpuji). Maqam Mahmudah ini sering diartikan sebagai kedudukan syafaat tertinggi yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW di hari kiamat, namun juga bisa merujuk pada kemuliaan dan penghormatan yang diberikan kepada seorang hamba di dunia dan akhirat karena ketaatannya yang melebihi batas normal.

Doa Memasuki dan Keluar di Ayat 80: Permohonan Perlindungan dan Petunjuk

Ayat terakhir dalam rangkaian ini, ayat 80, merupakan doa permohonan yang universal dan sangat penting. Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk senantiasa berdoa, "Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar." Doa ini mencakup segala aspek kehidupan.

"Tempat masuk yang benar" (madkhal shidq) dan "tempat keluar yang benar" (makhraj shidq) dapat diinterpretasikan dalam berbagai konteks. Secara umum, ini berarti memohon kepada Allah agar setiap aktivitas, keputusan, permulaan (masuk), dan akhir (keluar) selalu didasari oleh kebenaran, ketaatan, dan keridhaan-Nya. Contoh praktisnya adalah ketika hendak memulai sebuah perjalanan, memulai pekerjaan baru, memasuki rumah, atau bahkan ketika menghadapi kesulitan hidup.

Doa ini ditutup dengan permohonan agar Allah memberikan sulthanan nasira, yaitu pertolongan yang nyata dan kuat. Dalam konteks Nabi saat itu, ini adalah janji pertolongan dari ancaman kaum musyrikin. Secara umum, ini adalah permohonan agar setiap usaha yang dilakukan oleh seorang Muslim selalu didukung oleh kekuatan ilahiah, sehingga ia tidak pernah sendirian dalam menghadapi tantangan kebenaran.

Semoga uraian singkat mengenai Surat Al-Isra ayat 76 hingga 80 ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai konteks sejarah, kewajiban ibadah, serta pentingnya memohon petunjuk dan pertolongan Allah dalam setiap langkah kehidupan.

🏠 Homepage