Surat Al-Hijr adalah surat ke-15 dalam urutan mushaf Al-Qur'an, terdiri dari 99 ayat. Surat ini dinamakan Al-Hijr (lembah batu) karena merujuk pada kisah kaum Tsamud yang kaumnya dihancurkan setelah mereka memahat rumah-rumah mereka di pegunungan batu di wilayah Hijr. Surat ini sarat dengan pelajaran tentang keesaan Allah, kekuasaan-Nya dalam menciptakan, serta peringatan keras bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat-Nya.
Salah satu tema sentral dalam Al-Hijr adalah respons terhadap keraguan orang-orang musyrik Mekah yang menuntut mukjizat fisik atau menolak kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Dalam konteks ini, ayat-ayat awal surat ini berfungsi sebagai pembelaan terhadap status Al-Qur'an dan penegasan bahwa peringatan telah diberikan secara jelas.
Ayat keenam dari surat Al-Hijr ini menjadi penegasan langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW mengenai sikap umat terdahulu terhadap para rasul yang datang membawa wahyu. Ayat ini secara spesifik menanggapi keraguan orang-orang kafir Mekah yang menganggap Al-Qur'an hanyalah dongeng lama atau perkataan seorang manusia gila.
Ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan risalah tauhid, respon yang paling sering beliau terima dari kaum Quraisy adalah tuduhan bahwa beliau telah kehilangan akal sehat. Mereka menganggap ajaran baru tentang pembebasan budak, kesetaraan manusia, dan penolakan terhadap berhala adalah hal yang tidak masuk akal, terutama bagi seorang tokoh terpandang seperti beliau. Ayat ini mencatat tuduhan langsung yang dilontarkan kepada Nabi, di mana mereka menggunakan gelar yang sebenarnya merupakan pujian—"orang yang diturunkan kepadanya Al Kitab"—namun menyertainya dengan hinaan yang paling keji, yaitu "engkau benar-benar gila."
Tuduhan kegilaan ini bukanlah hal baru bagi para nabi dan rasul. Sejarah kenabian mencatat bahwa setiap pembawa risalah seringkali dicap tidak waras oleh kaumnya yang menolak kebenaran. Ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran yang datang dari Allah seringkali dianggap aneh atau tidak rasional oleh mereka yang terikat pada tradisi dan hawa nafsu.
Penting untuk dicatat bahwa tuduhan tersebut dilemparkan setelah mereka mengakui kebenaran status beliau sebagai penerima wahyu ("orang yang diturunkan kepadanya Al Kitab"). Ini menunjukkan kontradiksi dalam logika mereka: mereka mengakui validitas sumber wahyu, tetapi menolak isinya dengan cara merendahkan pembawanya.
Respons Allah terhadap tuduhan tersebut segera disampaikan pada ayat-ayat berikutnya. Ayat 7 dan 8 menegaskan bahwa jika tuduhan kegilaan itu benar, maka Allah seharusnya mengirimkan malaikat untuk membuktikan kebenaran mereka, namun hal itu tidak terjadi. Ayat-ayat ini mengalihkan fokus dari hinaan pribadi kepada bukti otentisitas wahyu itu sendiri.
Ayat 6 berfungsi sebagai fondasi naratif. Ia menetapkan titik konflik: penolakan total dari kaum musyrik yang diungkapkan melalui cercaan personal. Dengan mencatat tuduhan ini secara eksplisit, Al-Qur'an membuktikan bahwa ia adalah rekaman peristiwa yang jujur, bukan sekadar karangan yang hanya memuat pujian terhadap diri sendiri.
Hal ini memberikan ketenangan bagi Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya bahwa apa yang mereka alami adalah bagian dari sunnatullah dalam menyampaikan dakwah. Ketika seseorang menyampaikan kebenaran yang fundamental berbeda dari kebiasaan mayoritas, cacian dan tuduhan adalah reaksi yang hampir pasti terjadi.
Surat Al-Hijr ayat 6 memberikan pedoman kuat tentang kesabaran dalam berdakwah. Bagi seorang muslim yang berusaha mengajak kepada kebaikan atau menegakkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat yang skeptis, kemungkinan besar ia akan menghadapi reaksi serupa—dicap ekstremis, tidak modern, atau bahkan tidak waras—ketika ajarannya bertentangan dengan arus utama pemikiran duniawi.
Ayat ini mendorong umat Islam untuk:
Pada akhirnya, Al-Hijr ayat 6 adalah pengingat bahwa perjalanan risalah penuh dengan tantangan verbal. Namun, keteguhan para rasul membuktikan bahwa suara kebenaran, meski dibungkam, akan selalu memiliki pembelaan yang jelas dari sisi langit.