Surah Al-Hijr, surah ke-15 dalam Al-Qur'an, membawa banyak pelajaran penting mengenai tauhid, hikmah di balik penciptaan, dan kisah-kisah umat terdahulu sebagai peringatan bagi yang beriman. Salah satu bagian yang sangat kuat dan menenangkan bagi para Nabi adalah ayat 6 hingga 10, di mana Allah SWT memberikan jaminan perlindungan atas wahyu-Nya, terlepas dari penolakan kaum yang diserunya.
Ayat-ayat ini turun di tengah tantangan berat yang dihadapi Rasulullah Muhammad SAW dari kaum musyrikin Mekkah. Mereka sering menuntut mukjizat yang aneh atau meragukan keaslian Al-Qur'an. Menjawab keraguan tersebut, Allah memberikan jawaban tegas yang menegaskan bahwa Dia Sendiri yang menurunkan peringatan ini dan pasti akan menjaganya.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مُرْسَلِينَ
Dan sungguh, telah Kami utus sebelum engkau, beberapa rasul.
فَاسْأَلِ الْعَالِمِينَ
(Dan bertanyalah) kepada orang-orang yang berilmu (jika kamu tidak mengetahui).
Ayat 6 dan 7 memberikan landasan historis. Allah menegaskan bahwa kisah tentang pengutusan rasul dan reaksi kaumnya bukanlah hal baru. Ini adalah pola yang sama yang terjadi pada setiap umat. Kemudian, Allah memberikan solusi elegan bagi mereka yang meragukan: jika mereka tidak percaya bahwa Muhammad SAW adalah rasul, maka tanyakanlah kepada "orang-orang yang berilmu" (Ahlul Kitab terdahulu atau orang yang memiliki pengetahuan mendalam tentang sejarah kenabian).
Setelah menguatkan posisi Rasulullah, fokus bergeser kepada wahyu itu sendiri—Al-Qur'an—yang mereka tolak.
مَا يُؤْتَى اللَّهُ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِالْحَقِّ ۖ وَمَا كَانُوا إِذًا مُنْظَرِينَ
Allah tidak menurunkan para rasul itu melainkan dengan membawa kebenaran (wahyu), dan (kaum itu) tidak pernah diberi tangguh (penangguhan hukuman).
Ayat ini menekankan bahwa semua yang dibawa rasul adalah kebenaran hakiki. Tidak ada rasul yang diutus membawa kebohongan atau sesuatu yang main-main. Ketika suatu kaum menolak kebenaran yang jelas ini, mereka tidak akan diberi waktu lebih lama untuk bertaubat sebelum azab datang menimpa.
Puncak penegasan terdapat pada dua ayat berikutnya, yang merupakan janji abadi Allah SWT:
وَلَئِنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الْقَوْلَ فَإِنَّهُمْ بِهِ لَكَافِرُونَ
Dan sungguh, jika Kami turunkan kepada mereka (siksaan), niscaya mereka akan berkata, "Sesungguhnya kami telah didustakan,"
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Niscaya mereka akan menjawab, "Allah." Katakanlah, "Maka apakah kamu tidak beriman?"
Ayat 9 adalah janji bahwa jika Allah mengirimkan azab (sebagai bukti kebenaran wahyu), kaum musyrikin itu tetap akan menolak dan menganggapnya sebagai kebohongan, persis seperti yang terjadi pada kaum-kaum sebelumnya. Ini menunjukkan kedangkalan iman mereka.
Ayat 10 adalah pukulan telak. Allah memerintahkan Rasulullah untuk bertanya kepada mereka siapa yang menciptakan alam semesta. Jawaban mereka pasti: Allah. Kemudian, Allah bertanya retoris, "Mengapa kalian berpaling (dari beribadah hanya kepada-Nya)?" Mereka mengakui kekuasaan Allah sebagai Pencipta Agung, namun dalam perilaku sehari-hari, mereka menyekutukan-Nya.
Ayat-ayat Al-Hijr 6-10 memberikan beberapa pelajaran krusial. Pertama, konsistensi wahyu: Pesan kenabian selalu sama—tauhid dan kebenaran—sepanjang sejarah. Kedua, validitas sejarah: Islam bukan agama baru; ia melanjutkan risalah para nabi terdahulu.
Ketiga, dan yang paling penting, jaminan keaslian Al-Qur'an. Ayat 9 dalam konteks yang lebih luas sering dipahami sebagai janji perlindungan ilahi atas Kitab Suci ini. Meskipun banyak orang mencoba memalsukan, mengubah, atau menghilangkan ajarannya, Allah telah berfirman dalam ayat lain bahwa Dia Sendiri yang akan menjaganya. Janji ini memberikan ketenangan bagi umat Islam.
Ketika kita membaca ayat-ayat ini, kita diingatkan bahwa tantangan yang dihadapi Rasulullah—keraguan, penolakan, dan tuntutan bukti—adalah bagian dari proses dakwah. Namun, di balik semua ujian tersebut, terdapat kepastian mutlak bahwa wahyu yang dibawa adalah kebenaran murni yang dilindungi oleh Sang Pencipta Semesta Alam.
Memahami Al-Hijr ayat 6 hingga 10 memperkuat iman kita bahwa landasan agama kita kokoh, tidak didasarkan pada opini manusia, melainkan pada firman Rabbul 'Alamin yang Maha Benar.