Surat Al-Hijr, surat ke-15 dalam Al-Qur'an, menyimpan banyak pelajaran penting mengenai tauhid, kisah para nabi, dan peringatan tegas bagi mereka yang berpaling dari kebenaran. Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan dalam konteks peringatan dan keajaiban kenabian adalah ayat ketujuh: Surat Al-Hijr ayat 7.
لَوْ مَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ هَٰذَا الْمَلَكُ
(Kalau kiranya (seorang) Malaikat diturunkan kepadanya)
Konteks Penurunan Ayat
Ayat ini berbicara tentang reaksi kaum musyrikin Mekkah terhadap kedatangan wahyu (Al-Qur'an) yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Mereka tidak puas dengan status Nabi sebagai seorang manusia biasa. Dalam pengingkaran mereka, mereka mengajukan tuntutan yang mustahil atau tidak sesuai dengan hikmah ilahi, yaitu meminta agar Malaikat yang turun membawa peringatan tersebut, bukan seorang manusia.
Secara spesifik, Surat Al-Hijr ayat 7 (dan dilanjutkan ayat-ayat berikutnya) mencerminkan kesombongan dan kedangkalan pemahaman mereka terhadap proses kenabian. Mereka berpikir, jika pesan itu benar-benar datang dari Allah, mengapa pembawanya bukan sosok yang lebih agung, misalnya seorang malaikat, yang menurut pandangan mereka lebih pantas menyampaikan risalah agung?
Mengapa Malaikat Tidak Diturunkan?
Allah SWT menjawab tuntutan ini dalam ayat-ayat setelah ayat 7. Inti jawabannya adalah bahwa jika Malaikat yang diturunkan, maka urusan mereka akan segera diputuskan, dan mereka tidak akan diberi tenggang waktu lagi untuk bertaubat.
Firman Allah SWT melanjutkan: "Maka sekali waktu jika mereka beriman, sekali waktu (yang lain) mereka tidak diberi tangguh. (Tetapi mereka tetap pada pendirian mereka yang telah ditetapkan)." (QS. Al-Hijr: 8-9).
Ini menunjukkan bahwa salah satu bentuk rahmat dan kebijaksanaan Allah adalah mengutus seorang Nabi dari kalangan manusia (seperti Nabi Muhammad SAW). Hal ini bertujuan agar risalah tersebut mudah dipahami, dicontohi dalam kehidupan sehari-hari, dan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi umat manusia untuk beriman melalui pilihan sadar, bukan karena terintimidasi oleh kehadiran makhluk yang jelas berbeda alamnya seperti malaikat.
Implikasi Peringatan Surat Al-Hijr Ayat 7
Pelajaran utama yang dapat kita ambil dari konteks ayat ini adalah mengenai bahaya dari menetapkan standar sendiri terhadap kebenaran Ilahi. Kaum kafir pada masa itu fokus pada 'siapa pembawa pesannya' daripada 'apa isi pesannya'. Mereka gagal melihat kebenaran yang transenden hanya karena terhalang oleh prasangka terhadap pembawa pesan.
Dalam kehidupan kontemporer, pelajaran ini relevan ketika umat Islam menghadapi tantangan dalam menyebarkan ajaran Islam. Seringkali, penolakan terhadap dakwah bukan karena substansi ajaran yang buruk, melainkan karena ketidakpuasan terhadap karakter atau latar belakang pendakwah. Kita diingatkan bahwa fokus utama adalah pada al-haq (kebenaran itu sendiri) yang dibawa, bukan pada penampilan fisik atau status sosial pembawa risalah.
Ayat ini juga menekankan prinsip ujian (fitnah). Iman sejati teruji ketika seseorang dihadapkan pada kebenaran yang datang melalui cara yang mungkin tidak sesuai dengan ekspektasi awalnya. Allah SWT menguji hati manusia: apakah mereka akan tunduk pada kebenaran, ataukah mereka akan terus mencari alasan dan celah untuk menolak, seperti yang dilakukan oleh kaum musyrikin Mekkah yang meminta diturunkannya malaikat?
Keistimewaan Surat Al-Hijr
Surat Al-Hijr sendiri dikenal sebagai surat yang sarat dengan peringatan keras, namun juga dipenuhi dengan jaminan pemeliharaan Al-Qur'an. Allah SWT berfirman di akhir surat: "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan Kami pula yang memelihara keasliannya." (QS. Al-Hijr: 9).
Pengingkaran terhadap wahyu (seperti yang disinggung dalam ayat 7) tidak akan membatalkan janji Allah untuk memelihara Al-Qur'an. Meskipun ada penolakan dari sekelompok orang, kebenaran akan tetap tegak. Kesabaran Nabi dalam menghadapi tuntutan yang tidak masuk akal ini menjadi teladan bahwa dakwah harus terus berjalan, terlepas dari reaksi awal audiens.
Ketika kita merenungkan Surat Al-Hijr ayat 7, kita diingatkan untuk selalu introspeksi diri. Jangan sampai hati kita terkunci oleh standar duniawi sehingga menolak cahaya petunjuk ilahi yang sudah jelas terpampang di hadapan kita. Ketaatan harus didasarkan pada keimanan dan penerimaan terhadap sumber wahyu, bukan pada syarat-syarat tambahan yang dibuat oleh hawa nafsu dan kesombongan intelektual.