Surat Al-Hijr adalah surat yang kaya akan pelajaran tauhid, kisah para nabi, dan peringatan tegas dari Allah SWT mengenai konsekuensi dari pendurhakaan. Ayat 71 hingga 80 khususnya menyoroti dialog antara Nabi Luth AS dengan kaumnya, serta penekanan akan keadilan dan rahmat Allah SWT dalam menciptakan segala sesuatu.
Ayat ini adalah respons Nabi Luth AS ketika kaumnya yang sesat datang menuntut untuk menyerahkan tamu laki-laki (malaikat) yang diutus Allah untuknya. Dalam konteks budaya Arab dan ajaran kenabian, seorang Nabi seringkali disebut sebagai "ayah" bagi umatnya. Nabi Luth menawarkan putri-putrinya—dalam makna kiasan sebagai perempuan-perempuan dari kaumnya yang belum menikah—untuk dinikahi sebagai jalan keluar logis, namun kaumnya tetap menolak karena hasrat mereka yang menyimpang (homoseksual).
Allah bersumpah dengan kehidupan Rasulullah SAW sebagai penegasan betapa seriusnya masalah tersebut. Kata La 'amruka (demi usiamu) adalah sumpah penghormatan tertinggi. Keterangan ini menunjukkan bahwa kaum Luth berada dalam kondisi kebingungan moral dan spiritual yang akut, tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, sehingga pantas menerima azab.
Ini adalah deskripsi mengerikan tentang azab yang menimpa kaum Nabi Luth. Azab datang pada pagi hari saat mereka sedang lengah. Negeri mereka dibalikkan (seperti yang dijelaskan di surat lain sebagai 'al-mu'tafikat'), diikuti hujan batu yang keras. Sijjīl diartikan sebagai batu yang dibakar atau tanah liat yang mengeras, menandakan kehancuran total.
Allah menegaskan bahwa peristiwa penghancuran tersebut bukan sekadar kisah, melainkan ayat (tanda) bagi al-mutawassimīn, yaitu orang-orang yang mampu melihat, merenungkan, dan menarik pelajaran dari tanda-tanda tersebut. Lokasi azab kaum Luth memang berada di jalur perdagangan (seperti Laut Mati saat ini), memastikan bahwa siapa pun yang melintas dapat melihat bekas-bekas kehancuran itu sebagai peringatan.
Ayat-ayat penutup ini beralih memberikan peringatan kepada kaum Tsamud (Ashhabul Hijr) yang juga menolak rasul mereka (Nabi Saleh AS). Meskipun diberi mukjizat (unta betina), mereka berpaling. Puncak kesesatan mereka adalah penolakan terhadap Hari Kebangkitan (Kiamat). Ini menunjukkan bahwa inti dari segala pendurhakaan adalah penolakan terhadap hari pertanggungjawaban.
Secara keseluruhan, Al-Hijr ayat 71-80 adalah rangkaian peringatan yang kuat tentang bahaya kemaksiatan yang terang-terangan, pentingnya integritas moral, dan konsekuensi yang pasti bagi mereka yang menutup mata dari tanda-tanda kebesaran Allah.