Al-Qur'an adalah sumber cahaya dan petunjuk bagi umat manusia. Di antara sekian banyak ayat yang menyimpan hikmah mendalam, Surat Al-Hijr ayat 8 memegang peranan penting dalam menjelaskan tujuan diturunkannya ayat-ayat tersebut.
Surat Al Hijr Ayat 8: Teks dan Terjemahan
Ayat ini secara eksplisit menjelaskan bagaimana Allah SWT menurunkan wahyu-Nya bukan tanpa tujuan. Berikut adalah teks aslinya dalam bahasa Arab dan terjemahannya:
"Dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan kebenaran (Al-Haqq); dan sekali-kali (kalau Kami kehendaki), Kami tidak akan dibiarkan (mereka menunggu)."
Penegasan Mengenai Kebenaran Wahyu
Ayat 8 dari Surah Al-Hijr ini merupakan penegasan tegas dari Allah SWT bahwa Al-Qur'an, sebagai wahyu-Nya, diturunkan dengan membawa kebenaran (Al-Haqq) yang mutlak. Kata "Al-Haqq" di sini mencakup makna kebenaran yang substansial, keadilan, dan realitas yang sesungguhnya. Ini berarti setiap perintah, larangan, kisah, dan janji yang terkandung di dalamnya adalah benar adanya dan bebas dari keraguan atau kepalsuan.
Tujuan utama dari penurunan wahyu adalah untuk membedakan antara yang hak dan yang batil. Wahyu datang untuk meluruskan pemikiran yang bengkok, memperbaiki akhlak yang rusak, dan membimbing manusia menuju jalan keselamatan. Ketika Allah menetapkan bahwa wahyu diturunkan dengan "Al-Haqq," maka kedudukannya menjadi landasan utama bagi seluruh aspek kehidupan seorang Muslim.
Kebenaran yang dibawa Al-Qur'an tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga praktis. Ia mengatur hubungan vertikal manusia dengan Penciptanya dan hubungan horizontal antar sesama manusia serta makhluk lainnya. Dengan demikian, kebenaran ini menjadi standar universal yang harus dipegang teguh.
Konsekuensi Jika Wahyu Tidak Ditunggu
Bagian kedua dari ayat ini sangat kuat: "dan sekali-kali (kalau Kami kehendaki), Kami tidak akan dibiarkan (mereka menunggu)." Frasa "tidak dibiarkan menunggu" (atau dalam beberapa tafsir, "tidak diberi tangguh") memiliki implikasi yang serius. Ayat ini menegaskan dua hal:
- Kekuasaan Mutlak Allah: Allah berhak menentukan kapan dan bagaimana Dia memberikan peringatan atau siksa. Jika Dia ingin langsung menimpakan hukuman bagi orang-orang yang mengingkari kebenaran wahyu-Nya, Dia mampu melakukannya tanpa jeda waktu.
- Rahmat dan Kesabaran Allah: Kenyataan bahwa mereka masih "dibiarkan menunggu" (diberi waktu untuk bertobat dan berpikir) adalah bentuk rahmat dan kesabaran dari Allah SWT. Jeda waktu ini adalah kesempatan emas bagi manusia untuk menyadari kesalahannya dan kembali kepada Al-Haqq.
Ini berarti bahwa setiap penundaan azab atau peringatan bukanlah tanda bahwa kebenaran itu lemah atau bahwa penolakan itu diabaikan. Sebaliknya, penundaan itu adalah karunia waktu yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk beriman dan beramal shaleh.
Implikasi Praktis dalam Kehidupan
Memahami Surat Al-Hijr ayat 8 membawa implikasi besar dalam cara seorang Muslim memandang Al-Qur'an dan realitas hidup. Pertama, kita harus meyakini bahwa Al-Qur'an adalah panduan yang benar dan sempurna. Kedua, kita harus menyadari bahwa waktu yang kita miliki di dunia ini terbatas dan merupakan anugerah yang harus diisi dengan ketaatan.
Bagi mereka yang terus menerus menolak kebenaran, ayat ini menjadi peringatan keras bahwa kesabaran Allah memiliki batas waktu. Kehidupan ini bukan permainan tanpa konsekuensi. Ketika seseorang berinteraksi dengan ajaran Islam, ia sebenarnya sedang berinteraksi dengan kebenaran yang diturunkan secara mutlak oleh Sang Pencipta.
Oleh karena itu, tugas kita adalah merenungkan ayat-ayat ini, mengamalkan isinya, dan tidak menyia-nyiakan waktu yang telah diberikan Allah SWT dengan menunda-nunda pertobatan. Kebenaran (Al-Haqq) telah disajikan; kini tinggal keputusan kita untuk menerimanya ataukah bersikap acuh tak acuh, meski kita tahu bahwa penangguhan hukuman itu sendiri adalah rahmat yang sewaktu-waktu bisa dicabut.