Surat Al-Isra Ayat 1-4: Kisah Isra' Mi'raj dan Kekuasaan Allah

Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, merupakan surat Makkiyah yang sarat makna mendalam mengenai keesaan Allah, peristiwa besar dalam sejarah kenabian, serta peringatan penting bagi umat manusia. Ayat 1 hingga 4 khususnya, membuka lembaran pembahasan dengan kisah monumental yang mengukuhkan kedudukan Rasulullah Muhammad SAW sebagai hamba pilihan Allah.

Perjalanan Malam Penuh Mukjizat Ilustrasi perjalanan malam suci yang menggambarkan Isra' Mi'raj.

Teks dan Terjemahan Surat Al-Isra Ayat 1-4

Ayat 1: Mahasuci Allah dan Perjalanan Malam (Isra')

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Ayat pembuka ini langsung menyingkap keagungan Allah SWT dengan menegaskan kesucian-Nya. Kata "Subhana" (Mahasuci) menjadi penanda bahwa peristiwa yang akan dijelaskan adalah luar biasa dan hanya mungkin terjadi atas kehendak Ilahi. Peristiwa Isra' adalah perjalanan malam Rasulullah dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Ayat ini menekankan bahwa tujuan utama perjalanan ini adalah untuk menunjukkan kepada Nabi Muhammad beberapa tanda kebesaran Allah, menegaskan bahwa beliau adalah seorang 'Abd' (hamba) yang mulia.

Ayat 2: Pemberian Taurat kepada Musa

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِن دُونِي وَكِيلًا
Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku."

Setelah menyebutkan mukjizat Nabi Muhammad, Allah melanjutkan dengan menyinggung mukjizat dan anugerah yang diberikan kepada Nabi Musa AS. Pemberian Taurat berfungsi sebagai pedoman bagi Bani Israil. Namun, ayat ini ditutup dengan sebuah peringatan keras: larangan untuk menjadikan selain Allah sebagai Wakil (pelindung atau penolong). Ini adalah penekanan bahwa ketergantungan sejati haruslah hanya tertuju kepada Sang Pencipta.

Ayat 3: Keturunan Nabi Nuh dan Peringatan

ذُرِّيَّةَ مَن مَّعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
(Yaitu) keturunan orang-orang yang Kami selamatkan bersama Nuh. Sesungguhnya dia adalah seorang hamba (Allah) yang sangat bersyukur.

Ayat ini secara singkat merujuk kembali kepada sejarah Nabi Nuh AS, dan mengingatkan bahwa orang-orang yang selamat dari banjir besar adalah keturunan orang-orang yang beriman yang bersama Nabi Nuh. Mengapa mereka diselamatkan? Karena mereka adalah keturunan dari seorang hamba yang sangat bersyukur (Nuh AS). Sifat syukur adalah kunci utama keselamatan dan keberkahan, sebuah teladan yang harus diikuti oleh umat Nabi Muhammad.

Ayat 4: Kekuasaan Allah Atas Bani Israil di Bumi

وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا
Dan telah Kami tetapkan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi ini sebanyak dua kali dan pasti kamu akan melampaui batas dengan kesombongan yang besar."

Ayat keempat ini berisi sebuah berita kenabian (informasi masa depan) yang sudah ditetapkan dalam Taurat mengenai nasib Bani Israil. Allah memberitahukan bahwa mereka akan melakukan dua kali kerusakan besar di muka bumi. Kerusakan pertama sering diartikan sebagai penghancuran Baitul Maqdis pertama kali dan pembunuhan para nabi. Kerusakan kedua terjadi setelah mereka membangun kembali, yang kemudian berujung pada penaklukan dan penghinaan oleh bangsa lain sebagai konsekuensi perbuatan mereka sendiri. Kata "ulluw an kabira" (kesombongan yang besar) menjadi akar dari kejatuhan mereka, menunjukkan bahwa kesombongan dan pengingkaran terhadap kebenaran selalu berujung pada kehancuran, baik individu maupun kolektif.

Refleksi dari Ayat Awal Al-Isra

Empat ayat pertama Surat Al-Isra berfungsi sebagai landasan teologis yang kuat. Dimulai dengan pengakuan atas kebesaran Allah melalui mukjizat Isra' Mi'raj, dilanjutkan dengan contoh kepemimpinan yang benar (Nabi Musa dan kenikmatan Taurat), serta pelajaran penting tentang syukur (Nabi Nuh). Puncaknya adalah peringatan keras tentang konsekuensi dari kesombongan dan kerusakan yang dilakukan oleh umat terdahulu. Ayat-ayat ini menjadi pengingat abadi bagi umat Islam untuk selalu berpegang teguh pada tauhid, bersyukur, dan menjauhi kesombongan agar terhindar dari kehancuran yang telah Allah firmankan.

🏠 Homepage