Surat Al-Isra', atau yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam urutan Mushaf Utsmani. Ayat 1 hingga 7 surat ini memiliki kedudukan yang sangat penting karena langsung merujuk pada peristiwa agung yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu perjalanan malam (Isra') dan kenaikan ke langit (Mi'raj). Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah mukjizat yang meneguhkan kedudukan beliau dan menjadi pelajaran mendalam tentang kebesaran Allah SWT.
Fokus utama dari ayat-ayat pembuka ini adalah untuk menunjukkan kesucian Dzat yang Maha Kuasa yang mampu melakukan hal-hal yang dianggap mustahil oleh akal manusia biasa. Ayat pertama menjadi saksi atas kebenaran risalah kenabian dan kemahakuasaan Ilahi.
(1) Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke MasjidilAqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
Ayat pertama ini menegaskan keajaiban Isra', perjalanan dari Ka'bah di Makkah menuju Baitul Maqdis di Yerusalem dalam satu malam. Penggunaan kata "Subhan" (Mahasuci) menunjukkan bahwa peristiwa ini berada di luar nalar manusia biasa dan hanya mungkin terjadi atas izin serta kekuasaan Allah. Masjidil Aqsa diberkahi sebagai tempat para nabi sebelumnya, dan perjalanan ini bertujuan agar Nabi melihat sebagian kecil dari keagungan Allah.
(2) Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (seraya berfirman), "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku."
Allah mengingatkan kembali tentang anugerah Taurat kepada Nabi Musa AS sebagai petunjuk. Pesan utamanya adalah larangan untuk menjadikan selain Allah sebagai wali (pelindung atau penolong). Ini berfungsi sebagai penguat pesan bahwa hanya Allah yang layak disembah dan dijadikan sandaran, sama seperti Dia yang mampu memindahkan Nabi Muhammad SAW dalam semalam.
Ayat 3 hingga 7 kemudian melanjutkan pembahasan mengenai Bani Israil, menceritakan tentang perbuatan baik dan buruk mereka setelah menerima petunjuk.
(3) (Mereka adalah) keturunan orang-orang yang Kami selamatkan bersama Nuh. Sesungguhnya dia adalah seorang hamba yang sangat bersyukur.
(4) Dan Kami tetapkan kepada Bani Israil dalam Kitab itu, "Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi ini dua kali, dan pasti kamu akan berlaku sombong dengan kesombongan yang besar."
(5) Maka apabila datang janji (pelaksanaan hukuman) pertama dari keduanya, Kami datangkan kepada kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Dan itulah janji yang pasti terlaksana.
(6) Kemudian Kami kembalikan kepada kamu kemenangan atas mereka, dan Kami bantu kamu dengan harta benda dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar (jumlahnya).
(7) Jika kamu berbuat baik, (maka) kebaikan itu untuk dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian) itu untuk dirimu juga. Apabila datang janji (hukuman) yang kedua, (maka mereka akan membuat permukaanku susah, dan mereka akan masuk ke dalam Masjid sebagaimana mereka memasukinya pada kali pertama, dan mereka akan menghancurkan apa saja yang mereka kuasai dengan sehabis-habisnya).
Ayat 1-7 Al-Isra' menawarkan dua pelajaran besar yang saling terkait. Pertama, penguatan iman melalui mukjizat Isra' Mi'raj, yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah yang diperkuat dengan bukti nyata. Keajaiban ini menanamkan keyakinan mutlak kepada para pengikutnya.
Kedua, melalui kisah Bani Israil, Allah memberikan peringatan universal tentang siklus hukuman dan kemudahan. Allah menjanjikan dua kali kerusakan besar (penyebaran kekacauan dan kesombongan) dari kaum tersebut, yang diikuti oleh dua kali hukuman pembersihan oleh musuh yang kuat. Ayat ketujuh menegaskan prinsip fundamental Islam: "Jika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian) itu untuk dirimu juga."
Inti dari ayat-ayat ini adalah bahwa meskipun Allah mampu melakukan perjalanan luar biasa seperti Isra', Dia juga menetapkan hukum sebab-akibat (sunnatullah) bagi umat manusia. Kekuatan dan kemakmuran yang diberikan hanyalah titipan; jika disalahgunakan untuk kesombongan dan kerusakan, maka kehancuran yang setimpal pasti akan datang, bahkan kehancuran itu akan menghantam mereka dari dalam, sebagaimana diancamkan pada janji hukuman kedua. Oleh karena itu, peristiwa agung Isra' Mi'raj menjadi landasan moral dan spiritual yang mengingatkan umat Islam untuk selalu bersyukur dan berhati-hati dalam menggunakan nikmat yang diberikan Allah.