Ilustrasi Tangan Memberi Sedekah I

Memahami Surat Al-Isra Ayat 30: Keutamaan Sedekah dan Larangan Kikir

Dalam lembaran-lembaran Al-Qur'an, terdapat banyak sekali petunjuk Ilahi mengenai bagaimana seharusnya seorang Muslim menjalani kehidupannya, termasuk dalam hal hubungan sosial dan pengelolaan harta. Salah satu ayat yang sangat fundamental mengenai etika berderma adalah Surat Al-Isra ayat 30. Ayat ini memuat prinsip universal tentang kemurahan hati sekaligus peringatan keras terhadap sifat bakhil atau kikir.

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا

"Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir), dan jangan pula kamu menghulurkannya (terlalu) sebebas-bebasnya (boros), nanti kamu menjadi tercela dan menyesal." (QS. Al-Isra: 30)

Keseimbangan dalam Membelanjakan Harta

Ayat 30 dari Surat Al-Isra (atau Al-Isrāʼ) ini secara eksplisit mengajarkan pentingnya sikap pertengahan (wasathiyah) dalam manajemen keuangan. Allah SWT melarang dua ekstremitas perilaku yang merusak, yaitu kikir dan boros.

Larangan Kikir: Frasa "janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu" adalah sebuah metafora kuat. Tangan yang terbelenggu erat pada leher melambangkan ketidakmampuan untuk melepaskan harta, seolah-olah harta tersebut adalah beban yang tidak boleh diserahkan kepada siapapun, termasuk untuk kebutuhan diri sendiri yang mendasar atau untuk membantu orang lain. Sikap ini sering dikaitkan dengan sifat syuhh (sangat pelit), di mana seseorang menahan hartanya karena ketakutan yang berlebihan akan kefakiran di masa depan. Padahal, rezeki sepenuhnya berada dalam genggaman Allah SWT.

Larangan Boros: Di sisi lain, ayat ini juga mengingatkan agar tidak berlebihan dalam memberi atau membelanjakan harta, yang disebut sebagai "menghulurkannya terlalu sebebas-bebasnya." Boros (israf) adalah menggunakan harta di luar batas kepatutan, baik dalam konteks kebutuhan maupun dalam membantu orang lain tanpa pertimbangan. Pembelanjaan yang boros dapat menghabiskan aset dengan cepat, meninggalkan penyesalan, dan berpotensi menimbulkan kerugian bagi masa depan keluarga atau kewajiban yang lebih besar.

Konsekuensi dari Sikap yang Ekstrem

Dampak dari kedua perilaku ekstrem ini disimpulkan dengan sangat jelas: "nanti kamu menjadi tercela dan menyesal."

Tercela (Malūman): Orang yang kikir akan dicela oleh masyarakat karena kekejamannya, dianggap tidak memiliki empati, dan gagal memenuhi hak orang yang membutuhkan. Sementara itu, orang yang boros akan dicela karena ketidakdewasaannya dalam mengelola anugerah yang diberikan Allah, sering kali berakhir dalam kondisi terlantar.

Menyesal (Maḥsūran): Penyesalan adalah hasil akhir yang menyakitkan. Orang kikir menyesal ketika ia melihat orang lain yang tadinya bisa ia bantu kini menderita, atau ketika ia sendiri membutuhkan harta tersebut di masa tua namun ia tidak menikmati keberkahan dari berbagi. Orang boros menyesal ketika hartanya habis tak bersisa, sementara kebutuhan mendesak datang dan ia tidak memiliki apa-apa untuk diandalkan.

Pintu Sedekah yang Diridhai Allah

Ayat Al-Isra 30 ini berfungsi sebagai jembatan menuju ayat berikutnya (Al-Isra: 29), di mana Allah memerintahkan untuk mendirikan shalat dan menunaikan hak fakir miskin. Konteks inilah yang memberikan penekanan kuat bahwa pembelanjaan yang ideal adalah sedekah yang dilakukan atas dasar iman dan pertimbangan yang matang.

Sedekah yang diridhai adalah sedekah yang dilakukan dengan hati lapang, tanpa rasa terpaksa (bukan karena tangan terbelenggu), namun juga tidak menghabiskan seluruh dana sehingga diri sendiri menjadi susah (bukan karena berlebihan). Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tangan yang memberi lebih baik daripada tangan yang menerima. Namun, tangan yang memberi harus tetap memiliki cadangan untuk masa depan dan memenuhi tanggung jawabnya yang lain. Keseimbangan ini menjamin keberlangsungan ibadah dan kemanfaatan sosial jangka panjang.

Dengan memahami Surat Al-Isra ayat 30, seorang Muslim diingatkan bahwa kekayaan adalah titipan, dan cara mengelolanya mencerminkan kualitas keimanan dan kebijaksanaan seseorang. Menghindari ekstremitas kikir dan boros adalah kunci menuju keberkahan hidup dan terhindar dari penyesalan di hadapan Sang Pencipta.

🏠 Homepage