Terjemahan:
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah segala 'aqd (perjanjian) itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu, dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang ihram. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.
Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah surat Madaniyah yang dibuka dengan perintah fundamental bagi seluruh umat Islam: "Yā ayyuhal-ladhīna āmanū, aufū bil-‘uqūd." (Hai orang-orang yang beriman, penuhilah segala 'aqd itu).
Ayat pembuka ini diletakkan oleh Allah SWT sebagai fondasi utama dalam membangun tatanan sosial, spiritual, dan hukum dalam kehidupan seorang Muslim. Kata 'aqd (عُقُود) adalah bentuk jamak dari 'aqdu (perjanjian), yang memiliki cakupan makna sangat luas. Ini bukan sekadar janji antara manusia dengan sesamanya, tetapi mencakup semua bentuk ikatan komitmen yang telah disepakati.
Para ulama tafsir membagi 'uqūd (perjanjian) dalam ayat ini menjadi tiga kategori utama:
Setelah menekankan pentingnya komitmen, ayat ini beralih memberikan keringanan (rukhsah) terkait makanan, dengan tetap mengaitkannya pada batasan-batasan yang telah ditetapkan Allah. Dihalalkan bagi orang beriman untuk mengonsumsi binatang ternak (unta, sapi, kambing, domba), kecuali yang secara spesifik disebutkan haram dalam ayat-ayat selanjutnya.
Pengecualian penting yang disebutkan di sini adalah larangan berburu ketika sedang dalam keadaan ihram haji atau umrah. Ini menunjukkan bahwa bahkan dalam konteks kenikmatan duniawi (makanan), seorang yang sedang menjalankan ibadah agung harus menahan diri dari tindakan yang melanggar aturan ibadah tersebut. Hal ini menggarisbawahi prinsip bahwa hukum Allah bersifat menyeluruh dan mengatur semua aspek kehidupan, tanpa terkecuali.
Ayat ditutup dengan penegasan kekuasaan ilahi: "Inna Allāha yahkumu mā yurīd." (Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya).
Kalimat ini berfungsi sebagai penutup yang otoritatif. Ia menegaskan bahwa setiap ketentuan yang disampaikan—baik itu perintah memenuhi janji, batasan makanan, maupun larangan berburu saat ihram—bukanlah berdasarkan logika manusia atau kepentingan sesaat, melainkan murni berasal dari hikmah dan kehendak Allah yang Maha Mengetahui. Oleh karena itu, kepatuhan seorang mukmin adalah bentuk penyerahan diri total atas kebijaksanaan Sang Pencipta.