Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang sarat dengan petunjuk dan peringatan bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan mendalam adalah ayat ketujuh, yaitu Surat Al-Isra ayat 7.
Ilustrasi konsep perulangan atau siklus dalam balasan amal perbuatan.
Teks Surat Al-Isra Ayat 7
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ جِئْنَا بِعِبَادٍ لَّنَا أُوْلِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ ۚ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولًا
Artinya: "Jika kamu berbuat baik, (maka) kebaikan itu untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan itu) untuk dirimu sendiri pula. Kemudian apabila datang janji yang kedua, (Kami datangkan musuhmu) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuhmu memasukinya pertama kali dan untuk membinasakan dan menghancurkan apa saja yang mereka kuasai."
Penjelasan Inti Ayat
Ayat ini mengandung prinsip fundamental dalam ajaran Islam, yaitu pertanggungjawaban individu atas setiap perbuatan yang dilakukan. Frasa pembuka, "Jika kamu berbuat baik, (maka) kebaikan itu untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan itu) untuk dirimu sendiri pula," adalah penegasan bahwa konsekuensi perbuatan—baik positif maupun negatif—akan kembali kepada pelakunya di dunia dan akhirat.
Ini menolak gagasan bahwa amal perbuatan seseorang dapat sepenuhnya menguntungkan atau merugikan orang lain secara langsung dalam konteks perhitungan akhir. Konsep ini menekankan otonomi moral manusia. Setiap jiwa bertanggung jawab penuh atas pilihannya sendiri. Kebaikan yang dilakukan akan mendatangkan manfaat spiritual dan kedamaian batin bagi pelakunya, sementara keburukan akan menjadi racun bagi dirinya sendiri.
Janji yang Kedua: Peringatan Historis
Bagian kedua dari ayat ini beralih ke konteks historis yang sering diartikan merujuk pada kehancuran kedua Baitul Maqdis (Yerusalem) setelah penaklukan sebelumnya. Ayat tersebut berbunyi, "Kemudian apabila datang janji yang kedua..." Janji ini merujuk pada waktu ketika umat manusia (khususnya Bani Israil pada konteks saat itu) telah melampaui batas kesabaran Allah dengan melakukan kerusakan dan penyimpangan moral yang parah secara berulang.
Allah mengutus hamba-Nya yang memiliki kekuatan ("'Uli Ba'sin Syadid" - memiliki kekuatan yang dahsyat) untuk memberikan peringatan tegas. Kedatangan mereka digambarkan sebagai pembalasan yang menyakitkan, di mana mereka akan memasuki tempat ibadah (masjid) dan menghancurkannya, persis seperti yang terjadi pada kali pertama. Tujuan dari kedatangan pasukan ini adalah sebagai bentuk hukuman atas pelanggaran berulang dan kezaliman yang mereka lakukan.
Implikasi Universal Ayat
Meskipun konteks historisnya spesifik, pesan universal ayat ini tetap relevan. Ayat Al-Isra 7 mengajarkan bahwa tidak ada pengecualian bagi hukum sebab-akibat ilahi. Jika suatu kelompok atau individu terus-menerus melakukan kerusakan, kekerasan, dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai luhur, maka pada akhirnya akan datang konsekuensi yang setimpal. Kehancuran dan kesulitan bukanlah takdir buta, melainkan hasil logis dari akumulasi keburukan yang mereka tanam sendiri.
Ini adalah panggilan untuk introspeksi. Sebelum menunggu "janji yang kedua" terjadi dalam skala yang lebih besar, umat manusia diingatkan untuk kembali kepada jalur kebaikan. Karena pada akhirnya, hasil akhir kehidupan kita ditentukan oleh jejak kebaikan dan keburukan yang kita tinggalkan di dunia ini.
Dengan memahami Surat Al-Isra ayat 7, kita didorong untuk selalu waspada terhadap niat dan tindakan kita sehari-hari, memastikan bahwa setiap langkah yang kita ambil adalah langkah menuju kebaikan, sebab kita adalah arsitek dari masa depan spiritual kita sendiri.