Surat Al-Isra, atau yang dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan hikmah dan pelajaran. Di antara ayat-ayatnya yang sarat makna, ayat ke-72 memiliki posisi penting karena membahas tentang konsekuensi pilihan manusia terkait keimanan dan penolakan terhadap seruan tauhid.
Teks dan Terjemahan Surat Al-Isra Ayat 72
Ayat ini merupakan penegasan dari Allah SWT mengenai posisi orang-orang yang memilih untuk berpaling dari ajaran-Nya, meskipun telah diperingatkan dengan keras.
"Dan sungguh, jika Kami menghendaki, niscaya Kami akan hilangkan wahyu yang telah Kami wahyukan kepadamu, kemudian kamu tidak akan mendapatkan seorang pelindung pun bagimu terhadap Kami untuk menjaganya."
Konteks dan Kedalaman Makna
Ayat 72 ini turun dalam konteks peringatan kepada Rasulullah SAW dan juga sebagai pelajaran bagi umat manusia secara umum, terutama mereka yang menolak kebenaran. Ayat ini berbicara tentang kekuasaan mutlak Allah SWT atas wahyu-Nya (Al-Qur'an) dan atas diri Rasulullah SAW sendiri.
Inti dari ayat ini adalah penegasan bahwa Al-Qur'an adalah anugerah ilahiah yang dipertahankan oleh Allah, bukan karena usaha manusia, melainkan karena kehendak dan pemeliharaan-Nya. Jika Allah berkehendak untuk mencabut kenikmatan wahyu tersebut dari Nabi Muhammad SAW, maka tidak ada seorang pun—bahkan malaikat pelindung atau makhluk lain—yang mampu mencegah atau mengembalikannya.
Peringatan Keras Terhadap Penolakan
Bagi orang-orang musyrik Mekkah pada saat itu, atau siapa pun yang cenderung menolak kebenaran wahyu, ayat ini adalah sebuah tamparan keras. Mereka mungkin merasa bangga dengan tradisi nenek moyang mereka atau merasa cukup dengan logika akal mereka sendiri, sehingga meremehkan pesan yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Allah mengingatkan bahwa jika Dia menarik kembali bimbingan tersebut, mereka akan benar-benar tersesat dan tidak ada penolong selain Allah yang dapat mereka harapkan.
Ini mengajarkan bahwa kemuliaan dan petunjuk yang diterima umat Islam adalah murni karunia dan amanah yang harus dijaga dengan penuh rasa syukur dan pengamalan. Kehilangan wahyu berarti kehilangan segalanya, sebab tanpanya, manusia kembali berada dalam kegelapan.
Ilustrasi Kekuasaan Ilahi
Pelajaran Penting: Rasa Syukur dan Kewaspadaan
Ayat ini memberikan pelajaran mendasar: keistiqamahan umat beragama sangat bergantung pada pemeliharaan Allah. Ketika kita menerima kebenaran, itu bukan hak mutlak, melainkan titipan.
- Ketergantungan Mutlak: Ayat ini menguatkan tauhid Rububiyah, yaitu pengakuan bahwa hanya Allah yang mengatur segalanya, termasuk nasib wahyu-Nya.
- Nilai Wahyu: Menunjukkan betapa berharganya Al-Qur'an. Kehilangan petunjuk-Nya berarti kehancuran spiritual yang tidak bisa digantikan oleh apa pun.
- Kewaspadaan: Ayat ini harus mendorong setiap Muslim untuk selalu waspada terhadap godaan untuk menyepelekan atau menyimpang dari ajaran Al-Qur'an.
Dengan merenungkan Surat Al-Isra ayat 72, kita diingatkan bahwa kedekatan kita dengan kebenaran adalah anugerah yang harus dijaga melalui ketaatan dan kesadaran penuh akan kekuasaan Yang Maha Tinggi, yang sewaktu-waktu bisa menarik kembali apa yang telah Dia berikan jika hamba-Nya berpaling.
Oleh karena itu, memahami ayat ini menjadi pengingat abadi akan keagungan Allah dan pentingnya menjaga amanah risalah Islam dalam kehidupan kita sehari-hari.