Kajian Surat Al-Isra Ayat 1 sampai 10 (Latin)

Ilustrasi perjalanan malam Isra' Mi'raj Perjalanan Malam

Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 111 ayat. Ayat-ayat awal surat ini sangat penting karena memuat kisah Isra’ Mi'raj Nabi Muhammad SAW, sebuah mukjizat agung perjalanan malam dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, dilanjutkan dengan kenaikan ke sidratul muntaha. Ayat 1 hingga 10 memberikan landasan teologis dan moralitas yang kuat bagi umat Islam.

Bacaan Surat Al-Isra Ayat 1-10 (Lanjutan Latin)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (1)
Subḥānal-ladzī asrā bi-‘abdihi jailan minal-masjidi l-ḥarāmi ilal-masjidi l-aqṣal-ladzī bāraknā ḥawlahu linuriyahu min āyātinā, innahụ huwas-samī‘ul-baṣīr.
Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-Masjidilaksa yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِن دُونِي وَكِيلًا (2)
Wa ātainā mūsāl-kitāba wa ja‘alnāhu hudan libanī isrā'īla allā tattakidū min dūnī wakīlā.
Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku."
ذُرِّيَّةَ مَنْ مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا (3)
Dzurriyyata man ma‘a nūḥ, innahū kāna ‘abdan syakūrā.
(Yaitu) keturunan orang-orang yang Kami selamatkan bersama menaiki (bahtera) Nuh. Sesungguhnya dia adalah seorang hamba (Allah) yang sangat bersyukur.
وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا (4)
Wa qaḍainā ilā banī isrā'īla fil-kitābi latufsidunna fil-arḍi marrataini wa lata‘lunna ‘uluwwan kabīrā.
Dan telah Kami tetapkan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi ini sebanyak dua kali dan pasti kamu akan melampaui batas dengan kesombongan yang besar."
فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ ۚ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولًا (5) ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا (6) إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِّيُدَمِّرُوا مَا عَلَوْا تَدْمِيرًا (7) عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يَرْحَمَكُمْ ۚ وَإِنْ عُدتُّمْ عُدْنَا ۚ وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ حَصِيرًا (8)
Fa idzā jā'a wa‘du ūlāhumā ba‘atsnā ‘alaikum ‘ibādal lanā ūli ba’sin syadīdin fa-jāsū khilālad-diyār, wa kāna wa‘dan maf‘ūlā. Tsumma radadnā lakumul-karrota ‘alaihim wa amdadnākum bi-amwālin wa banīna wa ja‘alnākum aktsara nafīrā. In aḥsantum aḥsantum li-anfusikum, wa in as'atum fa-lahā. Fa idzā jā'a wa‘dul-ākhirati liyasū’ū wujūhakum wa liyadkhulul-masjida kamā dakhulūhu awwala marratin wa liyudammirū mā ‘alaw tadmīrā. ‘Asā rabbukum an yarḥamakum, wa in ‘udtum ‘udnā, wa ja‘alnā jahannama lil-kāfirīna haṣīrā.
Maka apabila datang saatnya hukuman bagi yang pertama dari kedua kerusakan itu, Kami datangkan kepada kamu hamba-hamba Kami yang sangat keras permusuhan-Nya, lalu mereka masuk ke dalam rumah-rumah (kota kamu) dan itulah janji yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, dan Kami tambahi kamu dengan harta benda dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar (jumlahnya). Jika kamu berbuat baik, (maka) kebaikan itu adalah untuk dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerusakan kejahatan) itu akan kembali kepadamu juga. Dan apabila datang saatnya hukuman yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan untuk membinasakan segala sesuatu yang mereka kuasai dengan sebinasa-binasanya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan merahmati kamu; dan jika kamu mengulangi (perbuatan maksiat), Kami akan mengulangi (hukuman Kami) dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman.
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا (9) وَأَنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (10)
Inna hādzal-Qur'āna yahdī lil-latī hiya aqwamu wa yubasysyiril-mu'minīnal-ladzīna ya‘malūnaṣ-ṣāliḥāti anna lahum ajran kabīrā. Wa annal-ladzīna lā yu'minūna bil-ākhirati a‘tadnā lahum ‘adzāban alīmā.
Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberikan khabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, dan bahwa orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih.

Konteks dan Makna Singkat

Ayat pertama (ayat 1) adalah pengukuhan mukjizat Isra' Mi'raj. Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga merupakan penegasan kenabian Muhammad SAW, sekaligus menunjukkan keagungan Allah SWT yang mampu melakukan hal di luar nalar manusia. Kata "Subḥānalladzī" (Maha Suci Zat yang) menekankan bahwa peristiwa ini hanya mungkin terjadi atas kuasa Ilahi.

Ayat 2 hingga 8 membahas kisah Bani Israil yang diberi Kitab Taurat, namun kemudian mereka berulang kali melakukan kerusakan di muka bumi (dua kali). Allah SWT menghukum mereka dengan mengirimkan musuh yang kejam. Namun, Allah juga memberikan kesempatan kedua setelah mereka bertobat sebagian. Ayat 7 menegaskan prinsip keadilan ilahi: kebaikan akan kembali kepada pelakunya, begitu pula kejahatan. Jika mereka mengulangi kerusakan, hukuman kedua yang lebih keras akan datang, menegaskan bahwa kesombongan dan kerusakan tidak akan dibiarkan.

Menutup sepuluh ayat pertama, Ayat 9 dan 10 memberikan kontras antara Al-Qur'an dan jalan hidup Bani Israil terdahulu. Al-Qur'an hadir sebagai petunjuk yang paling lurus (*aqwam*), memberikan kabar gembira bagi mereka yang beramal saleh, sekaligus peringatan keras bagi mereka yang mengingkari hari akhir dengan ancaman azab pedih. Surat Al-Isra memberikan landasan bahwa petunjuk sejati datang melalui wahyu, bukan melalui kesombongan atau kerusakan yang diciptakan manusia.

🏠 Homepage