Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam urutan mushaf Al-Qur'an yang terdiri dari 111 ayat. Surat ini kaya akan muatan historis, peringatan, dan pedoman moral bagi umat manusia. Ayat-ayat awal membuka dengan peristiwa Isra' Mi'raj, perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW, yang menjadi penegasan atas kebenaran risalah beliau.
Fokus pembahasan kita kali ini adalah menelusuri inti sari dari ayat 1 hingga 111, meliputi kisah-kisah para nabi terdahulu, adab-adab sosial, hingga larangan-larangan penting yang menjadi landasan etika Islam. Mempelajari bagian awal surat ini memberikan fondasi kokoh tentang keesaan Allah dan tanggung jawab manusia.
Ayat pertama menjadi pembuka yang memukau: "Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-Masjidil-Aqsa..." (QS. Al-Isra: 1). Peristiwa ini adalah mukjizat luar biasa yang menegaskan kedudukan Nabi Muhammad SAW. Ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga peningkatan spiritual yang menetapkan Baitul Maqdis (Yerusalem) sebagai kiblat pertama kaum Muslimin sebelum Ka'bah sepenuhnya dikonsolidasikan.
Seiring berjalannya ayat, Allah SWT memberikan peringatan keras melalui kisah-kisah Bani Israil yang telah diangkat derajatnya namun kemudian jatuh karena pembangkangan dan keangkuhan. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai cermin bagi umat Nabi Muhammad agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Penekanan diberikan pada pentingnya bersyukur dan menjaga amanah.
Meskipun anugerah berupa kitab suci diberikan, banyak dari mereka yang menyalahgunakannya. Surat Al-Isra mengingatkan bahwa wahyu ilahi harus diikuti dengan perilaku yang baik. Pelajaran ini sangat relevan bagi setiap generasi yang menerima petunjuk Ilahi.
Bagian tengah surat ini dipenuhi dengan perintah-perintah akhlak yang fundamental. Ini mencakup larangan berbuat syirik (menyekutukan Allah), berbakti kepada orang tua dengan segala kerendahan hati, serta menjaga hak-hak sosial. Larangan membunuh anak karena kemiskinan (Ayat 31) adalah penekanan kuat terhadap nilai kehidupan yang dijaga oleh Islam, jauh sebelum konsep hak asasi manusia modern diperkenalkan.
Selain itu, terdapat perintah untuk berlaku adil dalam setiap urusan, baik saat bermuamalah maupun dalam persaksian. Keadilan di sini tidak tebang pilih; ia harus ditegakkan bahkan jika itu merugikan diri sendiri atau kerabat terdekat.
Larangan tegas terhadap zina dan perintah untuk menjaga amanah (Ayat 34) membentuk pilar masyarakat yang sehat dan terhormat. Integritas pribadi dan sosial menjadi sorotan utama.
Ketika membahas tentang kehendak bebas manusia, Surat Al-Isra menegaskan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Tidak ada dosa orang tua yang ditanggung oleh anak, dan sebaliknya. Ini menggarisbawahi sistem pertanggungjawaban individual di hadapan Allah.
Ayat-ayat ini juga membahas tentang bagaimana Al-Qur'an adalah peringatan dan rahmat bagi orang yang beriman. Bagi orang kafir, Al-Qur'an justru menambah beban penolakan mereka. Inilah hukum universal tentang respons manusia terhadap kebenaran.
Ayat-ayat terakhir dalam rentang 1-111 ini mengulang penegasan akan diturunkannya Al-Qur'an dengan kebenaran yang hakiki. Allah bersumpah bahwa Al-Qur'an itu pasti benar dan datang dari sisi-Nya.
Penutup bagian ini menekankan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, dari yang tampak hingga yang tersembunyi. Pesan utamanya adalah kepastian wahyu dan keesaan-Nya. Surat ini menutup rentang pembahasan penting dengan ajakan untuk berserah diri sepenuhnya kepada Allah, Sang Pencipta, Pemelihara, dan Pemberi hukum.