Menguak Keajaiban Isra Mi'raj dan Keagungan Allah

Ilustrasi perjalanan malam dan cahaya bintang

Pengantar Surat Al-Isra (Al-Isra' Wal-Mi'raj)

Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, dibuka dengan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam: perjalanan malam (Isra') Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Ayat-ayat awal ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan penegasan akan kekuasaan mutlak Allah SWT dan persiapan bagi wahyu-wahyu yang akan datang. Memahami sepuluh ayat pertama surat ini memberikan landasan kuat tentang tauhid, moralitas, dan masa depan umat manusia.

Ayat 1: Kemahabesaran Allah dan Perjalanan Malam

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

(1) Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Ayat pembuka ini langsung menegaskan kesucian Allah (Subhana). Kata "Isra" berarti perjalanan malam. Peristiwa ini membuktikan bahwa Allah mampu melakukan hal-hal yang di luar nalar manusia biasa, sekaligus memuliakan Nabi Muhammad SAW dengan membawanya melintasi jarak jauh dalam waktu singkat. Masjid Al-Aqsa diberkahi, menandakan pentingnya wilayah tersebut sebagai pusat spiritualitas Islam.

Ayat 2 & 3: Pemberian Taurat dan Pesan Kebaikan

... وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِن دُونِي وَكِيلًا

(2) Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku."

... وَذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا

(3) (Kami turunkan pula wahyu ini) sebagai keturunan dari orang-orang yang Kami bawa bersama menaiki bahtera Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba yang sangat bersyukur.

Setelah mukjizat Isra, Allah mengingatkan tentang anugerah Taurat kepada Musa dan perintah utama: hanya bergantung kepada Allah (jangan mengambil wali/penolong selain Dia). Ayat 3 menghubungkan garis keturunan orang-orang beriman, dari Nuh AS hingga Nabi Muhammad SAW, menegaskan bahwa syukur adalah kunci keberhasilan spiritual.

Ayat 4: Ramalan Kerusakan Pertama Bani Israil

وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا

(4) Dan telah Kami tetapkan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi (Palestina) sebanyak dua kali dan pasti kamu akan berlaku sombong dengan kesombongan yang besar."

Ayat ini adalah ramalan profetik. Allah memberitahu Bani Israil bahwa mereka akan melakukan dua kali kerusakan besar dan kesombongan yang melampaui batas. Ini menjadi peringatan keras bahwa keistimewaan agama harus dibarengi dengan perilaku yang baik. Jika tidak, kehancuran adalah konsekuensinya.

Ayat 5 - 8: Pembalasan dan Pengulangan Ujian

Ayat 5 hingga 8 merinci dua kali kehancuran tersebut. Pertama, ketika mereka dikalahkan dan diusir dari negeri mereka oleh musuh (seperti penaklukan oleh bangsa Asyur atau Babel). Kedua, ketika mereka kembali dan melakukan kejahatan lagi, mereka akan dihukum untuk kedua kalinya, di mana wajah mereka dihancurkan, dan mereka akan dimasukkan ke dalam penjara (seperti diasingkan ke Babilonia).

Namun, ayat 8 memberikan harapan: "Dan jika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugiannya) untuk dirimu sendiri." Ini adalah prinsip universal tentang hasil amal perbuatan.

Ayat 9 & 10: Al-Qur'an sebagai Petunjuk Terbaik

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

(9) Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan mendapatkan pahala yang besar.

... وَأَنَّ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

(10) dan bahwa orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih.

Setelah membahas sejarah dan kesalahan Bani Israil, Allah menetapkan Al-Qur'an sebagai panduan tertinggi. Ayat 9 menekankan bahwa Al-Qur'an menunjukkan jalan yang paling lurus (*aqwam*), sebuah jalan yang tidak hanya berisi hukum, tetapi juga etika dan spiritualitas yang komprehensif. Puncaknya, surat ini ditutup dengan janji pahala besar bagi yang beramal saleh dan peringatan azab pedih bagi yang menolak Hari Akhir.

Kesimpulan Moral Sepuluh Ayat Pertama

Sepuluh ayat pertama Surat Al-Isra' berfungsi sebagai fondasi pengenalan terhadap Al-Qur'an dan kenabian Muhammad SAW. Ayat-ayat ini menggarisbawahi beberapa poin penting: Kemahakuasaan Allah yang terbukti dalam peristiwa Isra; pentingnya kesyukuran; peringatan keras terhadap kesombongan dan kerusakan moral yang pernah dialami umat terdahulu (Bani Israil); dan penegasan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk paripurna yang membawa manusia menuju jalan kebenaran hakiki, memisahkan antara janji surga bagi yang beramal saleh dan azab bagi yang ingkar.

Pembacaan mendalam ayat-ayat ini seharusnya memotivasi umat Islam untuk berpegang teguh pada ajaran Al-Qur'an, menjaga moralitas, dan senantiasa menyadari pengawasan Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat dalam setiap langkah perjalanan hidup mereka.

🏠 Homepage