Pendahuluan tentang Surat Al-Isra
Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil (Putra-putra Israel), adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 111 ayat. Surat ini sangat kaya makna, mencakup berbagai aspek teologi, hukum, dan sejarah kenabian. Ayat 1 hingga 6 adalah pembuka yang monumental, segera menempatkan pembaca pada momen agung yang luar biasa: perjalanan malam (Isra') Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Pemahaman mendalam terhadap ayat-ayat awal ini krusial karena ia menjadi landasan bagi penguatan iman dan pengingat akan kekuasaan absolut Allah SWT.
Teks dan Makna Surat Al-Isra Ayat 1
Ayat pertama ini langsung mengemukakan peristiwa Isra'. Kata "Subhana" (Maha Suci) menunjukkan bahwa kejadian ini melampaui nalar manusia biasa dan hanya mungkin terjadi melalui kehendak Ilahi. Perjalanan ini bukan hanya fisik, dari Mekkah ke Yerusalem, tetapi juga spiritual dan simbolis. Lokasi Masjidil Aqsa yang diberkahi mengisyaratkan pentingnya wilayah tersebut dalam sejarah para nabi. Tujuan utama peristiwa ini ditekankan di akhir ayat: untuk menunjukkan sebagian tanda kebesaran Allah, menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah saksi utama kebenaran-Nya.
Perjalanan dan Tanda Kebesaran Ilahi (Ayat 2-4)
Melanjutkan dari ayat pertama, ayat-ayat berikutnya memberikan fokus pada generasi Bani Israil dan peran mereka dalam sejarah kenabian.
Ayat 2 menunjukkan bahwa Isra' Mi'raj dan wahyu Al-Qur'an berfungsi sebagai penegasan bahwa kebenaran selalu datang bersama rahmat dan petunjuk. Sementara itu, ayat 3 dan 4 berfungsi sebagai peringatan keras. Pengulangan siklus kehancuran kaum Bani Israil yang berbuat kerusakan (fasad) di muka bumi setelah diberikan kekuasaan menegaskan prinsip keadilan universal Allah. Setiap bangsa yang menerima nikmat kekuasaan, jika menyalahgunakannya untuk menindas dan berbuat maksiat, akan menghadapi konsekuensi yang setimpal. Ini adalah pelajaran abadi bagi umat Nabi Muhammad SAW agar tidak mengulangi kesalahan generasi sebelumnya.
Janji Kekuasaan Kedua dan Konsekuensi Kerusakan (Ayat 5-6)
Ayat 5 dan 6 merinci janji dan ancaman tersebut, menunjukkan bahwa Allah mengutus hamba-hamba-Nya yang memiliki kekuatan besar untuk menghukum kerusakan pertama, dan setelah itu, memberikan kesempatan kedua kepada Bani Israil untuk memperbaiki diri.
Ayat 5 menjelaskan penunjukan bangsa yang kuat dan kejam (sering diinterpretasikan sebagai bangsa Babel atau Asyur) untuk membersihkan kerusakan pertama yang dilakukan Bani Israil. Tindakan mereka digambarkan sebagai penjagaan terhadap janji Allah yang pasti terlaksana. Ayat 6 kemudian menjadi janji pembalasan kepada bangsa yang menghukum tersebut, sekaligus janji kemuliaan bagi umat Islam (yang menggantikan posisi spiritual Bani Israil) dalam hal jumlah, harta, dan kekuatan. Ini adalah bagian dari kenabian yang menunjukkan bahwa umat Islam akan mencapai puncak kejayaan duniawi setelah melewati ujian-ujian berat.
Kesimpulan dari Enam Ayat Pertama
Enam ayat pertama Surat Al-Isra memberikan kerangka komprehensif. Ia diawali dengan keajaiban akbar (Isra'), diikuti dengan pengukuhan status Al-Qur'an sebagai petunjuk, dan kemudian beralih ke pelajaran sejarah tentang sebab dan akibat dari kekuasaan. Peristiwa Isra' adalah penguatan bagi Nabi Muhammad SAW di tengah tantangan dakwahnya, sementara kisah Bani Israil berfungsi sebagai cermin moral dan historis bagi umat Islam. Ayat-ayat ini mengajarkan bahwa kekuasaan di bumi bersifat sementara; ia adalah amanah yang jika disalahgunakan akan berujung pada kehancuran yang telah dijanjikan Allah.
*Kajian ini berfokus pada tafsir ringkas Surat Al-Isra ayat 1 hingga 6.*