Surat Al-Isra', atau yang juga dikenal sebagai Surat Al-Isra' wal-Mi'raj, dibuka dengan ayat yang penuh keagungan dan menjadi penegasan atas kebesaran Allah SWT. Ayat 1 hingga 8 memuat puji-pujian kepada Allah, kisah perjalanan suci Nabi Muhammad SAW, serta gambaran tentang kehancuran umat-umat terdahulu yang membangkang dan janji Allah mengenai balasan bagi hamba-Nya yang beriman.
Keagungan Allah dan Perjalanan Isra' (Ayat 1)
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Ayat pertama ini merupakan pembukaan yang monumental. Kata Subhanallah (Maha Suci Allah) menegaskan bahwa kejadian luar biasa yang akan disebutkan—perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjid Al-Aqsa di Yerusalem (Isra')—hanyalah mungkin terjadi atas kehendak dan kekuasaan mutlak Allah. Tujuan dari perjalanan ini bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi untuk menunjukkan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya kepada Nabi. Ini adalah penegasan status kenabian di tengah tantangan dakwah yang berat di Makkah.
Kehancuran Umat Terdahulu (Ayat 2-5)
Setelah memuliakan Rasul-Nya, Allah SWT mengingatkan tentang nasib umat-umat terdahulu yang ingkar. Ayat 2 menyebutkan pemberian Taurat kepada Musa dan menjadikannya petunjuk bagi Bani Israil, namun mengingatkan bahwa mereka banyak yang melampaui batas.
Ayat 3-5 secara spesifik membahas tentang Bani Israil. Ayat 3 memperingatkan bahwa kaum yang zalim tidak akan selamat dari pembalasan Allah, dan Allah mengetahui siapa yang paling pantas menerima kemuliaan. Kemudian, ayat 4 dan 5 mengisahkan dua kali kerusakan yang dilakukan oleh Bani Israil di muka bumi. Kerusakan pertama adalah pembunuhan dan kezaliman, yang berujung pada pengiriman hamba-hamba Allah yang sangat gagah perkasa untuk menghancurkan mereka. Kerusakan kedua, yang juga disebutkan dengan penekanan yang kuat, akan berujung pada hukuman yang lebih berat.
Janji Pertolongan dan Balasan (Ayat 6-8)
Setelah gambaran kehancuran, Al-Isra' memberikan harapan. Ayat 6 adalah janji Allah kepada kaum Muslimin bahwa mereka akan diberi kesempatan untuk membalas dendam terhadap musuh-musuh mereka (yang merujuk pada penaklukan Yerusalem di masa depan) dan mendapatkan kemenangan. Ini adalah motivasi penting bagi umat Islam awal.
"Jika kamu berbuat baik, (maka) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan itu) akan kembali menimpamu. Kemudian apabila datang saat penghukuman bagi yang kedua kalinya, (Kami datangkan musuh) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan untuk memasukkan mereka ke dalam Masjid (Al-Aqsa) sebagaimana mereka memasukinya pertama kali dan untuk menghancurkan segala sesuatu yang mereka kuasai dengan sehancur-hancurnya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu; dan jika kamu mengulangi (pelanggaran), niscaya Kami akan mengulanginya (hukuman Kami). Dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang kafir."
Ayat 7 adalah prinsip universal keadilan ilahi: setiap perbuatan, baik atau buruk, akan kembali kepada pelakunya. Ayat 8 menguatkan tema kehancuran kedua jika umat kembali melakukan pelanggaran besar. Namun, ayat ini juga menyisipkan harapan rahmat dari Allah, asalkan umat beriman mau kembali ke jalan yang benar. Jika tidak, neraka Jahannam telah disiapkan sebagai tempat balasan bagi orang-orang yang kafir dan melampaui batas.
Secara keseluruhan, rentetan surat Al-Isra ayat 1-8 memberikan fondasi teologis yang kuat. Dimulai dengan kemuliaan mukjizat kenabian, dilanjutkan dengan pelajaran sejarah tentang konsekuensi pembangkangan, dan diakhiri dengan prinsip imbalan amal serta janji rahmat Allah bagi mereka yang menjaga kebenaran.