Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang menceritakan peristiwa agung perjalanan malam Nabi Muhammad SAW. Ayat 1 hingga 7 dari surat ini tidak hanya merangkum kemuliaan peristiwa tersebut, tetapi juga memberikan landasan tauhid dan peringatan penting bagi umat manusia. Memahami makna dan konteks ayat-ayat permulaan ini adalah kunci untuk menghayati keseluruhan isi surat yang kaya akan hikmah ini.
Ayat pertama ini membuka lembaran dengan kalimat tasbih ("Subhana"), sebuah pengakuan mutlak atas kesempurnaan Allah SWT. Ayat ini mengkonfirmasi peristiwa Isra', yaitu perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsa (Baitul Maqdis, Yerusalem). Penekanan pada kata "hamba-Nya" (Abdihi) menunjukkan posisi agung Nabi SAW sebagai hamba pilihan Allah. Tujuan perjalanan ini bukan sekadar eksibisi, melainkan untuk menunjukkan sebagian dari "ayat-ayat" (tanda-tanda kebesaran) Allah, menegaskan bahwa Allah adalah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat segala sesuatu.
Setelah menyinggung perjalanan spiritual Nabi Muhammad, Allah mengingatkan tentang anugerah besar kepada Nabi Musa as, yaitu kitab Taurat. Kitab ini dijadikan petunjuk bagi Bani Israil, namun dengan penekanan tegas: janganlah mereka mengambil pelindung selain Allah. Ayat ini sekaligus menjadi peringatan bagi umat Nabi Muhammad agar tidak mengulangi kesalahan Bani Israil dalam menyimpang dari tuntunan ilahi.
Ayat yang sangat profetik ini menjelaskan bahwa Allah telah memberitakan kepada Bani Israil melalui Taurat tentang dua kali kerusakan besar yang akan mereka lakukan di muka bumi, diikuti dengan kesombongan luar biasa (zulm dan 'uluwwan kabira). Ini adalah janji sekaligus ancaman ilahi yang harus direnungkan, karena setiap penyimpangan dari tauhid pasti akan dibalas dengan kehancuran, sebagai konsekuensi logis dari perbuatan mereka sendiri.
Ayat 5, 6, dan 7 melanjutkan narasi tentang pembalasan kerusakan yang pertama, pengiriman musuh untuk menimpakan penderitaan, dan janji Allah untuk memberikan kemenangan kembali kepada mereka jika mereka bertaubat.
Tiga ayat terakhir ini menjelaskan siklus hukuman dan pemulihan bagi Bani Israil. Kerusakan pertama dibalas dengan penaklukkan oleh musuh yang kuat. Namun, Allah memberikan kesempatan kedua dengan mengembalikan kejayaan mereka (Ayat 6), ditandai dengan pertambahan harta dan populasi. Peringatan utama tersemat dalam Ayat 7: kebaikan atau keburukan akan kembali kepada pelakunya sendiri. Ketika kerusakan kedua terjadi, kehancuran yang menimpa mereka akan jauh lebih dahsyat, termasuk penodaan Masjidil Aqsa.
Kajian mendalam atas Surat Al-Isra ayat 1 sampai 7 ini memberikan pelajaran fundamental bagi umat Islam. Pertama, **kemuliaan Nabi Muhammad SAW** melalui Isra' Mi'raj yang menjadi bukti kebenaran risalahnya. Kedua, **Prinsip Keadilan Ilahi** yang berlaku universal; Allah tidak menzalimi siapa pun, dan konsekuensi perbuatan (baik atau buruk) akan kembali kepada pelakunya. Ketiga, **Pentingnya Tauhid**, di mana ayat-ayat ini secara implisit mengingatkan agar umat tidak terseret dalam kesombongan dan penyimpangan sebagaimana yang dialami oleh Bani Israil terdahulu. Surat ini menutup dengan penegasan bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui setiap rencana dan setiap tindakan hamba-Nya.