Kajian Mendalam: Surat Al-Isra Ayat 109

Ilustrasi Sujud dan Cahaya Wahyu WAHYU
QS. Al-Isra [17]: 109
وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا ۩

"Dan mereka menyungkurkan wajah mereka sambil menangis, dan hal itu menambah kekhusyu'an mereka."

Kontekstualisasi Ayat dalam Surah Al-Isra

Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat Makkiyah yang kaya akan hikmah dan mukjizat. Ayat 109 ini menutup rangkaian pembahasan yang dimulai dari ayat 105, di mana Allah SWT menurunkan Al-Qur'an dengan kebenaran hakiki. Ayat-ayat sebelumnya (107-108) secara spesifik membahas bagaimana orang-orang yang diberi pengetahuan (Ahlul Kitab) bereaksi ketika mendengar ayat-ayat Allah dibacakan. Reaksi ini sangat kontras dengan sikap orang-orang musyrik saat itu.

Ayat 109 ini berfungsi sebagai puncak penekanan atas dampak intrinsik Al-Qur'an terhadap hati yang mau menerima kebenaran. Ia menggambarkan keadaan spiritual tertinggi yang dicapai oleh mereka yang benar-benar memahami kedalaman pesan ilahiah tersebut.

Makna Inti: Sujud, Tangisan, dan Peningkatan Kekhusyu'an

Teks ayat ini sangat singkat namun padat makna. Kata kunci pertama adalah "وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ" (wayakhirruna lil-adzqani), yang berarti mereka jatuh tertelungkup atau bersujud dengan wajah mereka (dahi, hidung, dan pipi menyentuh tanah). Dalam konteks Arab klasik, menjatuhkan diri dengan wajah adalah bentuk penghormatan tertinggi, penyerahan diri total, dan pengakuan kerendahan diri di hadapan sesuatu yang maha agung. Ini adalah puncak ketundukan.

Selanjutnya, kondisi mereka disertai dengan "يَبْكُونَ" (yabkuna), yaitu menangis. Tangisan ini bukanlah tangisan kesedihan biasa, melainkan tangisan yang lahir dari kesadaran mendalam akan keagungan Allah, kebesaran wahyu-Nya, atau mungkin penyesalan atas kelalaian di masa lalu. Tangisan ini murni karena hati terketuk oleh kebenaran yang mereka dengar.

Hubungan Antara Tangisan dan Kekhusyu'an

Aspek paling signifikan dari ayat ini adalah penutupnya: "وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا" (wayaziduhum khusyu'an), yang berarti "dan hal itu (proses mendengar dan menangis) menambah kekhusyu'an mereka." Kekhusyu'an adalah kehadiran hati penuh dalam ibadah dan penghayatan. Ayat ini mengajarkan sebuah prinsip spiritual yang mendasar: interaksi emosional yang tulus (tangisan) dengan wahyu akan menghasilkan peningkatan kualitas spiritual (kekhusyu'an).

Ini menunjukkan bahwa iman bukan sekadar kognitif, melainkan juga emosional dan fisik. Ketika seseorang mampu menggabungkan pemahaman (kognitif), rasa haru (emosional), dan tindakan nyata (bersujud), maka hasil akhirnya adalah kedekatan spiritual yang semakin meningkat. Mereka tidak hanya mendengar Al-Qur'an, tetapi mereka merasakannya hingga mengubah kondisi batin mereka menjadi lebih tunduk dan patuh.

Implikasi Bagi Umat Islam

Surat Al-Isra ayat 109 menjadi barometer kualitas spiritual. Ketika kita membaca atau mendengarkan ayat-ayat Al-Qur'an, pertanyaannya adalah: apakah respons kita seperti mereka? Apakah kita hanya mengangguk mengerti, ataukah kita merasakan getaran yang mendorong kita untuk bersujud dan menangis karena keagungan Kalamullah?

Kekhusyu'an adalah tujuan utama dalam shalat dan semua bentuk ibadah. Ayat ini memberikan kunci untuk mencapainya: koneksi emosional yang jujur. Para mufassir menjelaskan bahwa tangisan yang diiringi sujud tersebut adalah bukti kejujuran niat dan penerimaan wahyu secara menyeluruh, dari lisan hingga sanubari terdalam. Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat yang hidup, yang mampu mengubah struktur emosional dan spiritual pembacanya secara berkelanjutan.

🏠 Homepage