وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ حِجَابًا مَّسْتُورًا
Dan apabila Engkau (Muhammad) membaca Al-Qur'an, Kami jadikan antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat suatu dinding yang tertutup.
Berikut adalah lafal lengkap ayat tersebut beserta terjemahannya:
Arab-Latin:
Wa iżā qara'tal-Qur'āna ja'alnā bainanā wa bainal-lazīna lā yu'minūna bil-ākhirati ḥijābam mastūrā.
Arti:
Dan apabila Engkau (Muhammad) membaca Al-Qur'an, Kami jadikan antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat suatu dinding yang tertutup.
Surat Al-Isra ayat 14 ini adalah salah satu ayat yang menjelaskan tentang perlindungan ilahi yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW saat beliau menyampaikan risalah Al-Qur'an kepada kaum musyrikin yang keras kepala. Ayat ini menyiratkan adanya dua realitas yang saling bertentangan: kebenaran yang dibawa oleh Al-Qur'an dan penolakan mutlak dari mereka yang tidak percaya pada Hari Akhir.
Kata kunci dalam ayat ini adalah "ḥijābam mastūrā", yang berarti "dinding yang tertutup" atau "penghalang yang tersembunyi". Penghalang ini bersifat spiritual dan mental. Meskipun secara fisik orang-orang Quraisy mungkin hadir mendengarkan bacaan Nabi, hati dan pikiran mereka telah ditutup oleh Allah SWT sehingga mereka tidak dapat menangkap hikmah, kebenaran, atau keindahan yang terkandung dalam firman Allah tersebut.
Dalam konteks dakwah, ayat ini memberikan pemahaman bahwa kegagalan komunikasi atau penolakan keras terhadap kebenaran seringkali bukan hanya disebabkan oleh kurangnya penyampaian, tetapi juga karena adanya penghalang spiritual yang ditimbulkan oleh sikap keras kepala dan kekufuran pendengar. Keimanan kepada Hari Akhir (pertanggungjawaban) adalah prasyarat penting agar seseorang dapat menerima petunjuk ilahi secara utuh. Mereka yang tidak beriman pada hari perhitungan cenderung mendasarkan pandangan hidupnya hanya pada duniawi, sehingga kebenaran yang berbicara tentang keabadian menjadi asing dan tidak relevan bagi mereka.
Ayat ini secara eksplisit menghubungkan ketidakmampuan menerima Al-Qur'an dengan tidak berimannya seseorang kepada Hari Akhir. Mengapa demikian? Karena keyakinan akan adanya pertanggungjawaban amal di hadapan Allah SWT mengubah cara pandang manusia terhadap kehidupan, etika, dan kebenaran.
Orang yang beriman kepada kebangkitan akan berusaha keras mencari petunjuk hidup yang benar (seperti yang ada dalam Al-Qur'an) karena ia menyadari bahwa setiap kata dan perbuatan akan dihisab. Sebaliknya, bagi mereka yang mengingkari hari tersebut, motivasi untuk mencari kebenaran sejati melemah. Mereka cenderung menolak kebenaran yang bertentangan dengan hawa nafsu atau kepentingan duniawi mereka saat ini, seolah-olah tidak ada konsekuensi jangka panjang.
Dinding tersembunyi yang diciptakan Allah berfungsi sebagai konsekuensi alami dari penolakan mereka sendiri. Ketika hati sudah mengeras karena kesombongan dan pengingkaran terhadap hari perhitungan, maka ayat-ayat Allah yang seharusnya menjadi cahaya justru menjadi kabur dan tidak dapat dipahami. Ini adalah bentuk perlindungan sekaligus konsekuensi bagi Nabi, agar beliau tidak terlalu bersedih atas penolakan mereka, karena memang Allah telah memisahkan antara orang yang beriman dan yang menolak kebenaran dengan penghalang yang jelas (meskipun tersembunyi).
Meskipun konteks historisnya merujuk pada penolakan kaum Quraisy, relevansi ayat ini tetap kuat hingga kini. Di era modern, "dinding tersembunyi" ini bisa termanifestasi dalam bentuk pemikiran materialistis ekstrem, ateisme yang sistematis, atau bias konfirmasi yang kuat yang membuat seseorang menolak bukti-bukti kebenaran agama.
Ketika seseorang menutup diri dari spiritualitas dan menolak konsep transendental (termasuk Hari Akhir), mereka secara efektif membangun dinding tersebut dalam diri mereka sendiri. Al-Qur'an tetap tersedia, terbuka untuk dibaca, namun bagi yang hatinya telah terkunci oleh keraguan atau penolakan mendasar, maknanya akan tetap samar, seperti membaca tulisan yang terhalang tirai tebal. Ayat ini mengingatkan kita bahwa penerimaan wahyu memerlukan keterbukaan hati dan fondasi keimanan yang kokoh, terutama keyakinan pada keadilan dan balasan ilahi di akhirat.