Pentingnya Pertanggungjawaban Universal: Tafsir Surat Al-Isra Ayat 15

Al-Qur'an adalah panduan hidup yang komprehensif, mencakup aspek akidah, hukum, moral, hingga etika sosial. Salah satu ayat yang menyoroti prinsip fundamental tentang keadilan ilahiah dan pertanggungjawaban individu adalah Surat Al-Isra ayat 15. Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa setiap perbuatan, baik atau buruk, sekecil apa pun, pasti akan diperhitungkan di hadapan Allah SWT.

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا
مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَىٰ فَإِنَّمَا يَتَّبِعُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا
"Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Dikatakan kepada orang-orang kafir): 'Barang siapa mendapat petunjuk, maka itu untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tersesat, maka dia tersesat atas kerugiannya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain. Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.'" (QS. Al-Isra [17]: 15)

Prinsip Keadilan dan Ketetapan Allah

Ayat 15 dari Surat Al-Isra (atau Al-Isra wal Mi'raj) ini mengandung tiga pilar utama dalam sistem peradilan ilahi. Pertama, penekanan pada konsep hudud (batasan) dan keadilan mutlak Allah. Allah tidak pernah bertindak sewenang-wenang dalam memberikan hukuman atau azab. Syarat utama sebelum adanya pertanggungjawaban definitif adalah penegasan pesan Ilahi melalui utusan-Nya. Artinya, tidak ada satu pun individu atau kelompok yang akan dihukum tanpa pernah menerima peringatan atau petunjuk yang jelas (kenabian).

Ini menunjukkan rahmat yang luar biasa dari Allah SWT. Kesalahan atau kesesatan harus didahului oleh penolakan terhadap petunjuk yang telah disampaikan. Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa argumentasi ketidaktahuan (jahiliyah) akan gugur setelah risalah kenabian disampaikan kepada suatu kaum.

Individu yang Bertanggung Jawab Penuh

Pilar kedua adalah penegasan akuntabilitas personal. Frasa "Barang siapa mendapat petunjuk, maka itu untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tersesat, maka dia tersesat atas kerugiannya sendiri" adalah inti dari konsep kebebasan berkehendak (ikhtiyar) dalam Islam.

Keputusan untuk mengikuti kebenaran atau menempuh jalan kesesatan sepenuhnya berada di tangan individu. Konsekuensi positif dari petunjuk (pahala, surga) hanya akan dinikmati oleh orang yang memilihnya. Sebaliknya, kerugian dan azab akibat kesesatan hanya akan ditanggung oleh individu yang memilih jalan tersebut. Ini meniadakan konsep dosa warisan atau dosa kolektif yang ditanggung oleh pihak yang tidak terlibat langsung dalam pelanggaran tersebut.

Solidaritas dalam Pertanggungjawaban Dosa

Pilar ketiga, dan mungkin yang paling tegas, adalah pernyataan: "Dan seorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain." Ayat ini merupakan bantahan mutlak terhadap segala bentuk pembebanan tanggung jawab dosa secara turun-temurun atau solidaritas hukuman atas perbuatan orang lain.

Setiap jiwa akan dimintai pertanggungjawaban atas wizr (beban dosa) yang ia pikul sendiri. Dalam konteks sosial, hal ini mengajarkan pentingnya amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran) sebagai kewajiban moral. Walaupun kita wajib menasihati, jika nasihat itu ditolak dan orang lain tetap berbuat dosa, maka dosa tersebut terisolasi pada pelakunya. Ini memperkuat prinsip keadilan di mana tidak ada 'korban tak bersalah' yang ikut menanggung beban dosa orang lain, dan juga tidak ada 'penolong' yang ikut menanggung dosa dari hasil bantuannya yang mengarahkan pada keburukan.

Implikasi Pendidikan dan Sosial

Makna mendalam Surat Al-Isra ayat 15 memiliki implikasi besar dalam pendidikan akhlak. Pertama, mendorong optimisme bagi mereka yang berusaha memperbaiki diri, karena usaha mereka tidak akan sia-sia. Kedua, memberikan peringatan keras kepada pelaku maksiat bahwa mereka tidak bisa mengandalkan popularitas atau dukungan kelompok untuk menghapus dosa mereka di hadapan Allah.

Di sisi lain, ayat ini juga mengingatkan para pemimpin dan da'i bahwa tugas utama mereka adalah menyampaikan risalah (rasul). Setelah risalah tersampaikan, urusan hidayah dan konsekuensi mengikuti atau menolaknya diserahkan kepada kehendak bebas manusia, di mana Allah adalah Hakim yang Maha Adil. Dengan demikian, ayat ini menyeimbangkan antara rahmat pengutusan rasul dengan ketegasan pertanggungjawaban individual di akhirat.

🏠 Homepage