Ilustrasi Simbolis Ayat Penutup
Ayat ke-176 dari Surat Al-Isra (atau Bani Israil) adalah ayat penutup dari surat tersebut, yang seringkali memuat pelajaran penting mengenai konsekuensi logis dari penolakan atau pengingkaran terhadap kebenaran yang dibawa oleh para Rasul. Ayat ini secara spesifik berbicara mengenai reaksi orang-orang kafir Quraisy Mekah yang menolak keimanan dan risalah Nabi Muhammad SAW.
Berikut adalah teks Arab dari Surat Al-Isra ayat 176, diikuti dengan terjemahan bahasa Indonesianya:
*(Catatan: Terjemahan ini berdasarkan interpretasi umum dan beberapa mufassir, karena terdapat sedikit perbedaan pandangan mengenai fokus utama ayat ini, khususnya frasa "Al-Ahzan" yang sering dikaitkan dengan harta rampasan perang atau aspek lain yang ditanyakan kaum musyrik).*
Para ulama tafsir memberikan beberapa konteks terkait pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Muhammad SAW mengenai Al-Ahzan. Ada yang menyatakan bahwa pertanyaan tersebut merujuk pada pembagian harta rampasan perang, sementara pandangan lain yang lebih kuat menghubungkannya dengan kebiasaan buruk kaum musyrik terkait ritual haji atau cara memasuki rumah.
Frasa "هي مواقيت للناس والحج" (Itu adalah waktu-waktu yang ditentukan bagi manusia dan haji) menunjukkan bahwa segala sesuatu dalam syariat Allah memiliki ketetapan waktu yang jelas. Dalam konteks haji, waktu adalah elemen fundamental. Dalam konteks kehidupan umum, Allah menetapkan batas dan waktu untuk segala urusan, termasuk pembagian atau pengelolaan harta rampasan, yang harus dilakukan sesuai aturan ilahi, bukan berdasarkan hawa nafsu.
Bagian inti dari ayat ini berfokus pada koreksi terhadap tradisi yang keliru, yaitu larangan mendatangi rumah dari belakangnya. Dalam masyarakat Arab Jahiliyah, praktik ini sering dilakukan oleh orang yang berihram (melakukan haji) sebagai bentuk kesempitan atau keyakinan tahayul bahwa memasuki rumah dari belakang adalah bentuk ihlal (kesungguhan) dalam beribadah atau menghindari anggapan tertentu.
Allah SWT menegaskan: "Dan bukanlah kebajikan (yang sesungguhnya) mendatangi rumah-rumah dari belakangnya." Ini adalah penegasan bahwa ibadah sejati tidak terletak pada ritual fisik yang dibuat-buat atau bertentangan dengan akal sehat dan kebersihan adab. Kebajikan sejati (Al-Birr) adalah sesuatu yang bersifat batiniah dan terwujud dalam tindakan nyata.
Ayat ini memberikan definisi universal tentang kebajikan: "Tetapi kebajikan adalah (kebajikan) orang yang bertakwa." Ini memindahkan fokus dari ritual eksternal yang salah menuju karakter internal. Kebajikan sejati adalah hasil dari ketakwaan kepada Allah. Orang yang bertakwa adalah mereka yang menaati perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.
Ayat diakhiri dengan perintah yang jelas dan kontras dengan kebiasaan buruk sebelumnya: "Dan datangilah rumah-rumah itu dari pintu-pintu depannya, dan bertakwalah kepada Allah, agar kamu beruntung." Perintah ini sederhana namun sarat makna. Mendatangi dari pintu depan melambangkan keterbukaan, kejujuran, dan kepatuhan terhadap aturan yang benar, berlawanan dengan cara sembunyi-sembunyi atau mengikuti tradisi usang.
Penutup ini menjadi penekanan bahwa kunci menuju keberuntungan (falah) di dunia dan akhirat adalah konsistensi dalam ketakwaan, yang terwujud dalam ketaatan terhadap syariat, baik dalam ibadah besar seperti haji maupun dalam urusan sosial sehari-hari.
Surat Al-Isra yang sering dikenal sebagai Bani Israil ini mengulas banyak hal, mulai dari kisah Isra Mi'raj, peringatan terhadap kezaliman, hingga pilar-pilar dasar akhlak Islam. Ayat terakhir ini berfungsi sebagai rangkuman etika praktis. Setelah membahas prinsip-prinsip teologis yang luas dan sejarah umat terdahulu, Allah menutup dengan memberikan pedoman yang sangat konkret: tinggalkan kebiasaan yang tidak berdasar dan pegang teguh ketakwaan.
Keberuntungan yang dijanjikan ("agar kamu beruntung") adalah buah logis dari hidup yang didasarkan pada takwa. Bukan pada ritual yang tampak rumit, melainkan pada kemurnian niat dan kepatuhan total terhadap perintah Allah. Ayat 176 mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang logis, bersih, dan mengutamakan substansi (ketakwaan) di atas bentuk (ritual tanpa makna).
Oleh karena itu, pelajaran utama dari surat penutup ini adalah integritas moral. Ketika kita menjalani hidup dengan pintu yang terbuka (datang dari depan), menunjukkan kejujuran dalam setiap aspek, dan menjadikan ketakwaan sebagai kompas utama, maka janji keberuntungan ilahi pasti akan terwujud.