Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, merupakan salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang banyak membahas tentang sejarah para nabi, adab, serta peringatan-peringatan ilahi. Salah satu ayat yang memiliki makna mendalam mengenai kepastian hukum dan konsekuensi tindakan adalah ayat ke-176.
Ayat ini secara tegas menjelaskan tentang keengganan sebagian orang untuk menerima kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ, meskipun telah diperlihatkan tanda-tanda yang jelas. Ini adalah pengingat abadi tentang konsekuensi spiritual dari penolakan terhadap wahyu.
Wa yastaftūna ka bikha fī al-haq. Qul allāhu yuf tīkum fīmā yutlā 'alaykum wa huwa mā yunlā 'alaykum fī al-kitābi wa mā yutlā 'alaykum. Wa lādīna kafarūhū wa lā yastabṣirūna fīmā ja'alahū māla laka li-mā yaḥfaẓūn.
(Catatan: Teks Latin di atas merupakan transkripsi standar yang umum digunakan, meski terdapat variasi dalam beberapa riwayat bacaan/transkripsi.)
Teks Arab asli ayat ini adalah sebagai berikut:
۞ وَيَسْتَفْتُونَكَ فِي الْحَقِّ ۖ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهَا وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ وَهُوَ مَا يُنْبَأُ بِهِ الْحَقُّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ
Dan mereka meminta kepadamu keputusan tentang kebenaran. Katakanlah: "Allah memberimu keputusan tentang (makna) yang dijelaskan dalam Al-Kitab itu dan apa yang dibacakan kepadamu, sedang (kebenaran) yang disampaikan kepadamu itu adalah kebenaran. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak beriman."
Ayat ke-176 Surat Al-Isra’ ini memberikan gambaran tentang interaksi antara Rasulullah ﷺ dengan kaum musyrikin Mekah atau Ahli Kitab tertentu yang sering kali mempertanyakan kebenaran wahyu yang dibawa Nabi Muhammad. Mereka datang meminta keputusan, seolah-olah mereka mengakui otoritas kenabian, namun pada dasarnya mereka mencari celah atau ingin memutarbalikkan kebenaran tersebut.
Jawaban yang diberikan Allah melalui lisan Rasul-Nya sangat tegas dan mendasar: **Kebenaran telah termaktub dalam Al-Qur'an itu sendiri.** Tidak perlu mencari sumber rujukan lain, karena Allah sendiri yang menjamin keakuratan apa yang diturunkan ("wa huwa mā yunba’u bihil-haq" – dan (kebenaran) yang disampaikan kepadamu itu adalah kebenaran).
Ayat ini mengajarkan umat Islam bahwa sumber utama hukum dan kebenaran adalah Al-Qur'an dan Sunnah (yang diwakili oleh apa yang dibacakan kepada Nabi). Ketika dihadapkan pada keraguan atau perdebatan mengenai suatu perkara, umat seharusnya kembali kepada teks suci. Kebenaran dari Allah bersifat mutlak dan tidak perlu dicari di luar otoritas wahyu tersebut. Ayat ini juga menegaskan bahwa meskipun kebenaran sudah jelas disampaikan, faktor penghalang utama penerimaannya adalah keengganan hati manusia itu sendiri ("wa lākinna aktharan-nāsi lā yu’minūn").
Dalam konteks pemahaman keagamaan, ayat ini menekankan konsep *Tawhid* (Keesaan Tuhan) dalam menetapkan standar moral dan kebenaran. Tidak ada otoritas lain yang dapat memberikan fatwa atau keputusan yang setara dengan wahyu Allah. Jika seseorang mencari keputusan, ia harus merujuk pada otoritas yang paling sahih, yaitu firman Allah.
Ayat ini menyoroti dilema klasik: **Kebenaran tersedia, namun hati manusia memilih untuk menolaknya.** Banyak orang lebih memilih mengikuti hawa nafsu atau tradisi nenek moyang daripada menerima petunjuk yang datang dari sumber ilahi yang otentik. Penolakan ini bukan disebabkan oleh kurangnya bukti, melainkan karena kesombongan dan penutupan hati.
Oleh karena itu, Surat Al-Isra ayat 176 berfungsi sebagai penguat keyakinan bagi orang yang beriman dan sebagai peringatan keras bagi mereka yang berpaling. Keputusan ada pada Allah, dan kebenaran itu telah disajikan dengan jelas dalam kitab-Nya. Tugas kita adalah menerima dan mengamalkannya, bukan mempertanyakan validitasnya dengan dasar pemikiran yang lemah atau prasangka yang sudah tertanam.