يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
(176) Mereka menanyakan kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Itu adalah penunjuk waktu bagi manusia dan (untuk menentukan) musim haji." Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu adalah (kebajikan) orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah dari pintu-pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.
Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat Makkiyah yang kaya akan ajaran moral dan hukum. Ayat ke-176 ini, meskipun pendek, mengandung dua poin utama yang sangat penting dalam kehidupan sosial dan spiritual umat Islam: fungsi bulan sabit dan hakikat dari kebajikan (birr).
Pertanyaan para sahabat (atau masyarakat saat itu) mengenai bulan sabit ('al-Ahillah') menunjukkan perhatian mereka terhadap fenomena alam yang berkaitan dengan ibadah. Allah SWT melalui Nabi Muhammad ﷺ memberikan jawaban yang lugas: bulan sabit berfungsi sebagai penunjuk waktu (mawaqit). Ini mencakup penentuan hari-hari dalam satu bulan, penentuan masa haid wanita, masa iddah, hingga yang paling penting, penentuan waktu pelaksanaan ibadah haji yang bergantung pada kalender Qamariyah. Ini menunjukkan harmoni antara alam semesta dan syariat Islam.
Bagian kedua ayat ini adalah koreksi tajam terhadap kebiasaan yang dilakukan sebagian masyarakat Arab pra-Islam. Ketika mereka melakukan ihram haji, ada tradisi di mana mereka enggan memasuki rumah mereka melalui pintu depan karena menganggapnya tidak pantas atau kurang sempurna dalam kesempurnaan ibadah mereka. Sebaliknya, mereka memilih masuk dari bagian belakang rumah.
Islam datang untuk meluruskan praktik yang tidak berdasar ini. Ayat ini menegaskan, "Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah dari belakangnya." Larangan ini bukan sekadar masalah etika bangunan, tetapi penolakan terhadap takhayul dan praktik yang mengotori kemurnian konsep ibadah. Ibadah harus dilakukan berdasarkan tuntunan syariat, bukan adat istiadat yang tidak ada dasarnya.
Setelah meluruskan kesalahpahaman ritual, Allah SWT mendefinisikan apa itu kebajikan yang sesungguhnya: "Tetapi kebajikan itu adalah (kebajikan) orang yang bertakwa." Definisi ini sangat mendalam. Kebajikan sejati bukanlah ritual permukaan atau kepatuhan buta pada tradisi, melainkan inti dari keimanan: ketakwaan (taqwa).
Orang yang bertakwa adalah mereka yang menjaga hubungan baik dengan Allah, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk masuk rumah melalui pintu depan—sebuah tindakan sederhana yang menunjukkan kejujuran dan ketertiban—menjadi representasi dari ketakwaan tersebut. Ayat ini mengajarkan bahwa kualitas spiritual seseorang diukur dari kesadaran ilahiyahnya, bukan dari formalitas lahiriah.
Ayat diakhiri dengan perintah tegas, "Dan masuklah ke rumah-rumah dari pintu-pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." Tindakan praktis (masuk dari pintu) dihubungkan langsung dengan landasan spiritual (taqwa), dan hasil akhirnya adalah al-Falah (keberuntungan).
Keberuntungan yang dijanjikan bukanlah sekadar kesuksesan duniawi, melainkan kemenangan abadi di akhirat. Dengan membersihkan ritual dari noda takhayul dan berpegang teguh pada ketakwaan, umat Islam dipandu menuju jalan hidup yang lurus dan penuh berkah, sebagaimana ditegaskan dalam Surat Al-Isra ayat 176 ini. Ayat ini relevan hingga kini, mengingatkan kita untuk selalu mendasarkan praktik agama pada pemahaman yang benar dan hati yang tulus bertakwa.