Ilustrasi Keseimbangan Dunia dan Akhirat
Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang sarat dengan pelajaran moral dan spiritual. Ayat ke-18 merupakan salah satu penekanan paling kuat mengenai fokus utama seorang mukmin dalam menjalani kehidupannya. Ayat ini secara eksplisit memaparkan dua jalur pilihan yang dihadapi manusia: mengejar kenikmatan duniawi semata, atau mencari keridhaan Allah dan kehidupan akhirat yang kekal.
Ayat ini dimulai dengan sebuah skenario hipotetis namun sangat nyata: "Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan duniawi...". Kehidupan dunia (al-'ajilah) memiliki daya pikat yang luar biasa. Ia menawarkan kesenangan sesaat, kemewahan materi, kekuasaan, dan pujian manusia. Bagi mereka yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, Allah SWT memberikan apa yang mereka minta. Namun, penegasan ini harus dipahami secara kritis. Pemberian duniawi tersebut sifatnya terbatas dan tidak selalu berarti kemuliaan.
Frasa "...Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki..." mengandung makna penting. Pertama, kenikmatan dunia yang didapat orang kafir atau orang yang lalai seringkali merupakan bentuk istidraj (penangguhan siksa). Allah membiarkan mereka menikmati dunia sebagai ujian, bukan sebagai tanda kasih sayang-Nya. Kedua, jatah duniawi itu terbatas hanya pada apa yang telah ditetapkan oleh kehendak Allah, bukan berarti mereka mendapatkan segalanya tanpa batas.
Bagian kedua dari ayat ini adalah konsekuensi yang jauh lebih berat dan abadi: "...kemudian Kami sediakan baginya Jahannam, di mana ia akan memasukinya dalam keadaan tercela lagi diusir." Inilah kesudahan tragis bagi mereka yang menukarkan kebahagiaan hakiki dengan fatamorgana dunia.
Kata "tercela" (madhmuman) mengacu pada kondisi psikologis dan spiritualnya—penuh penyesalan, malu, dan hina karena menyadari kesalahannya dalam memprioritaskan. Sementara kata "diusir" (madhuran) menggambarkan keadaan fisiknya, diusir dari rahmat Allah, dijauhkan dari segala kebaikan, dan dilemparkan ke dalam api neraka.
Bandingkanlah kenikmatan sesaat yang didapat di dunia—yang bahkan tidak seberapa dibandingkan dengan sekejap mata di akhirat—dengan siksaan abadi yang menantinya. Kontras ini menjadi pelajaran utama: dunia hanyalah ladang untuk menanam amal, bukan tempat untuk memanen hasil akhir.
Islam tidak melarang mencari rezeki atau menikmati karunia duniawi secara wajar. Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik hartamu adalah harta yang diperoleh dengan usaha yang halal, dan yang dibelanjakan untuk keluarga dan sedekah." Ayat 18 Al-Isra ini menyoroti bahaya ketika keinginan (iradah) seseorang sepenuhnya tertuju pada dunia sehingga melupakan tujuan penciptaan sejatinya, yaitu beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Fokus yang benar adalah mencari bekal akhirat dengan memanfaatkan dunia sebagai sarana. Harta, jabatan, atau kesehatan seharusnya menjadi alat untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan menjadi tujuan akhir yang dibela mati-matian hingga mengorbankan kewajiban agama. Seorang mukmin sejati menyadari bahwa apa yang ia nikmati di dunia ini hanyalah pinjaman sementara.
Oleh karena itu, pemahaman terhadap Surat Al-Isra ayat 18 menuntut introspeksi diri yang mendalam. Sudahkah prioritas kita benar? Apakah kita terlalu sibuk menumpuk kemewahan yang akan kita tinggalkan, sementara bekal untuk kehidupan abadi kita terabaikan? Ayat ini adalah pengingat tegas dari Sang Pencipta bahwa kenikmatan dunia yang dikejar tanpa bekal akhirat hanyalah janji manis yang berujung pada kerugian total di hadapan Allah SWT. Tujuan utama haruslah ridha Ilahi, karena itu adalah investasi yang hasilnya tidak pernah hangus dimakan waktu.