Memahami Larangan Berlebihan dalam Surat Al-Isra Ayat 27

Keseimbangan Harta Boros Kikir

Dalam ajaran Islam, manajemen keuangan adalah bagian integral dari cara hidup seorang Muslim. Tidak hanya diajarkan pentingnya mencari rezeki yang halal, tetapi juga bagaimana mengelola rezeki tersebut secara bijaksana. Salah satu pedoman utama mengenai etika pengeluaran harta tercantum jelas dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surat Al-Isra ayat 27.

Teks dan Terjemahan Surat Al-Isra Ayat 27

۞ إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Innal mubadzdzirīna kānū ikhwānas syayāṭīn(i), wa kāna sy-syaiṭānu lirabbihi kafūrā(n).

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan. Dan setan itu adalah seorang yang sangat ingkar kepada Tuhannya."

Membedah Peringatan Keras Terhadap Pemborosan

Ayat yang mulia ini memberikan peringatan yang sangat tegas dan lugas mengenai perilaku berlebihan dalam membelanjakan harta, yang dikenal dengan istilah israf (boros) atau tabdzir (pemborosan mutlak). Allah SWT secara langsung mengaitkan perilaku boros ini dengan kedekatan terhadap setan. Mengapa hubungan ini begitu kuat?

Setan, dalam sifat dasarnya, adalah pembangkang dan sangat tidak bersyukur kepada Allah (kafūr). Perilaku boros mencerminkan sifat tidak menghargai nikmat yang telah diberikan Allah. Ketika seseorang membuang-buang harta tanpa perhitungan, ia sebenarnya menunjukkan bahwa ia tidak menganggap nikmat tersebut sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Ini adalah bentuk ketidakbersyukuran terselubung.

Pemborosan tidak hanya berarti menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Dalam konteks yang lebih luas, pemborosan bisa mencakup penggunaan air secara berlebihan, pembuangan makanan yang masih layak konsumsi, atau membeli barang jauh melebihi kebutuhan mendesak. Semua tindakan ini menunjukkan kurangnya rasa syukur dan pengabaian terhadap prinsip efisiensi dalam Islam.

Dua Sisi Ekstrem Keuangan: Boros dan Kikir

Meskipun ayat 27 fokus pada pemborosan, ayat sebelumnya (Ayat 26) dan ayat sesudahnya (Ayat 28) memberikan konteks penting mengenai keseimbangan. Ayat 26 mengingatkan kita untuk memberikan hak kerabat dan tidak berlebihan dalam pengeluaran, sekaligus melarang kikir (tamṣīk) karena takut miskin. Ayat 28 memerintahkan untuk bersikap lunak ketika menjauhi pengeluaran karena kekhawatiran rezeki.

Ini menunjukkan bahwa jalan tengah (wasathiyah) adalah prinsip utama. Islam menolak dua ekstrem: boros yang menyeret pada kebangkrutan dan kesia-siaan, serta kikir yang menahan hak orang lain dan menimbulkan sifat egois. Saudara setan adalah mereka yang jatuh dalam jebakan ekstremitas. Jika setan memprovokasi kekafiran, salah satu jalannya adalah melalui penghamburan nikmat atau penahanan nikmat.

Konsekuensi menjadi "saudara setan" bukanlah klaim status persaudaraan harfiah, melainkan indikasi bahwa jalan yang ditempuh memiliki kesamaan karakter dan tujuan dengan setan, yaitu menjauhi ketaatan dan syukur kepada Allah. Orang yang boros sering kali menjadi tidak berguna bagi masyarakat karena hartanya habis tanpa memberikan manfaat sosial atau keberkahan pribadi.

Implikasi Praktis dalam Kehidupan Sehari-hari

Memahami Surat Al-Isra ayat 27 mendorong kita untuk menerapkan prinsip manajemen keuangan yang Islami. Ini bukan tentang menjadi miskin, melainkan tentang menjadi bijaksana. Keberkahan (barakah) dalam harta sering kali hilang ketika terjadi pemborosan. Seorang yang gajinya sedikit namun hemat dan bersyukur bisa jadi lebih kaya manfaatnya daripada seorang yang berlimpah harta namun boros.

Penerapan praktisnya meliputi:

  1. Evaluasi Kebutuhan vs. Keinginan: Selalu bertanya, "Apakah ini kebutuhan primer, sekunder, atau hanya keinginan sesaat?"
  2. Menghindari Pamer: Pembelian yang hanya bertujuan untuk pamer kekayaan sering kali tergolong pemborosan karena didorong oleh hawa nafsu, bukan maslahat.
  3. Penggunaan Sumber Daya: Menerapkan hemat dalam penggunaan listrik, air, dan bahan bakar sebagai bentuk penghormatan terhadap nikmat alam yang juga merupakan titipan Allah.

Pada akhirnya, ayat ini adalah pengingat bahwa harta adalah titipan. Sikap kita terhadap titipan tersebut—apakah kita mengelolanya dengan syukur dan tanggung jawab (berlawanan dengan setan) atau menghamburkannya tanpa kendali (menyerupai setan)—akan menentukan kualitas keimanan kita di hadapan Sang Pencipta.

🏠 Homepage